
Disaat acara tengah berlangsung. Seorang pria terus saja berusaha untuk menerobos masuk ke dalam acar pesta pernikahan tersebut. Tatapannya terlihat begitu kecewa dan diselimuti kesedihan. Bagaimana tidak. Hari ini adalah hari pernikahan wanita yang sangat dia cintai. Pria itu adalah Johan. Johan yang berulang kali dihadang masuk oleh beberapa pria bertubuh besar suruhan Arjuna.
"Katakan pada atasan kalian, dia tidak bisa menikahi wanitaku!" teriak Johan tetapi semua itu percuma, sebab alunan musik yang mengalun indah di dalam pesta tidak akan membuat suara Johan yang berada jauh di pintu masuk terdengar.
"Tuan. Tolong pergi dari sini sebelum kami berbuat kasar!" pinta seorang pengawal yang sedari dari sudah cukup bersabar menghadapi Johan.
"Aku tidak akan pergi sebelum berhasil membawa wanita ku pergi dari acara sialan ini! Dia wanitaku, dia mencintaiku, dia pasti terpaksa menikahi atasan kalian," ucap Johan yang masih saja tak bisa menerima semua kenyataan yang ada.
Dari dalam sana, Dika yang sudah mendapat laporan akan hal itu, tak lagi terlihat tenang. Dika ingin keluar dari acara, tetapi seseorang mencekalnya. "Ada apa?" tanya Arjuna yang ternyata sedari tadi juga memperhatikan gerak-gerik Johan.
"Dugaan Tuan benar. Pria itu benar-benar datang berniat mengacau semua ini," jawab Dika memberitahu Arjuna apa yang terjadi.
__ADS_1
Dari kejauhan, Juna dapat melihat jika Vani menatapnya, Arjuna mencoba memberikan senyumnya pada Vani agar Vani tak merasa curiga atas apa yang terjadi. Setelah dirasa aman, Arjuna kembali menatap Dika.
"Lakukan cara kasar jika dia tidak bisa diusir secara baik-baik. Aku tidak ingin dia merusak hari bahagiaku dan istriku!" titah Arjuna setelah itu melangkah kembali menghampiri Vani yang masih menatapnya.
Dika keluar dari sana setelah mendapat perintah dari Arjuna. Baru saja pintu ballroom dibuka, Johan berusaha menerobos masuk, tetapi Dika dan pengawal yang dimintanya berjaga di sana dengan cepat menahan Johan dan kembali menutup pintu itu. Dika meminta anak buahnya untuk membawa Johan keluar dari hotel dan menjaga lebih ketat semua keamanan di sana tak hanya tentang Johan.
"Aku akan membalas kalian! Aku tidak akan diam saja. Aku tidak akan pernah melepaskan Vani!" teriak Johan yang sudah berada di luar gedung hotel tersebut.
Di luar sana, Johan terduduk lemas dengan perasaan yang begitu terpuruk. Sebuah tangan terulur padanya, Johan yang melihat itu langsung menatap ke arah pemilik tangan tersebut dan di sana dilihatnya jika pemilik tangan itu adalah Rizal–papanya.
"Ayo kembali!" ajak Rizal menatap iba pada putra sematawayangnya itu.
__ADS_1
"Pa, aku mencintai Vani. Aku tidak bisa hidup tanpanya, Pa. Aku harus bagaimana? Aku menyesal, aku sungguh menyesal!" Johan terlihat persis seperti anak kecil yang tengah mengadu, meminta perlindungan dan bantuan dari orang tuanya.
"Kita pergi dulu dari sini, setelah itu kau bisa mengatakan semua yang ingin kau katakan!" ucap Rizal kembali mencoba untuk memapah putranya menjauh pergi dari sana sebelum keadaan menjadi semakin buruk untuk mereka.
***
Selesai dengan serangkaian acara, semua orang telah kembali ke kediaman masing-masing, berbeda dengan Arjuna yang masih berada di hotel tersebut, hanya saja berada di ruangan berbeda. Arjuna membawa Vani masuk ke dalam sebuah kamar tipe paling mewah di hotel tempat mereka mengadakan resepsi pernikahan. Dari luar pintu dan lantai paling atas tersebut sudah bisa terlihat jika kamar yang akan mereka tempati merupakan kamar terbaik di sana.
"Kita akan bermalam di sini untuk dua hari," ucap Arjuna sebelum membuka pintu kamar tersebut.
"Dua hari? Kenapa dua hari? Bagaimana dengan keluarga yang lain?" tanya Vani menatap Juna yang juga menatapnya dengan tatapan mendamba.
__ADS_1
"Yang menikah kita. Yang akan melakukan malam pertama kita, yang merupakan pasangan baru adalah kita berdua. Apa kita harus mengundang mereka untuk menyaksikan malam yang indah kita?" tanya Arjuna berhasil membuat wajah Vani menjadi sangat merona.
"Ayo masuk, istriku!" Arjuna tiba-tiba saja menggendong Vani, membawanya masuk ke dalam kamar tersebut.