
Tidak ada sekolah khusus yang mengajarkan bagaimana seseorang menjadi orang tua dan membesarkan anaknya.
Rasa ingin memberikan dan menjadi yang terbaik tentu saja akan muncul dengan sendirinya setelah melihat kehadiran si buah hati.
Setiap orang tua tentu ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Semua upaya dilakukan, baik memberi kasih sayang maupun pendidikan yang layak dan semua yang terbaik akan orang tua berikan untuk anaknya seberat apapun itu semua orang tua akan mengusahakannya.
Sejak kelahiran putranya, Johan menjadi sosok yang lebih dewasa dan bijak dalam bersikap. Kehadiran putranya benar-benar membawa pengaruh yang begitu besar untuk seorang Johan, pengaruh baik untuk pria yang mempunya gelar seorang duda. Duda tampan yang menjadi idaman untuk banyak wanita.
Tak pernah lagi terlihat raut kesedihan yang terpancar di wajahnya. Kehadiran putranya membawa Johan seolah ikut mempunyai kehidupan dan tujuan baru. Ia seolah ingin membuktikan kepada dunia jika ia bisa menjadi ayah terbaik untuk anaknya dan dapat membuktikan jika anaknya tidak akan merasakan kekurangan dalam segala hal terutama kasih sayang. Ia akan memberikan dan memprioritaskan hidupnya hanya untuk kebahagiaan putra tercinta.
Keseharian Johan setiap harinya ia habiskan dengan bekerja dan membesarkan anaknya. Tak jarang juga Johan membawa putranya untuk ikut ke kantor menemaninya bekerja. Kecintaan dan kasih sayang yang sangat jelas diperlihatkan Johan pada putranya, membuat namanya yang selama ini tidak begitu dikenal, menjadi cukup dikenal sebagai pria sukses dengan bertambah julukan menjadi duda tampan, mapan idaman banyak wanita.
Tak sedikit dan tak jarang wanita yang berlomba-lomba mencari perhatiannya. Menjadi istri dan ibu dari anak Johan menjadi target kebanyakan wanita saat ini. Siapa yang tidak menginginkan sosok Johan yang tampan, mapan, sukses dan penyayang.
Dapat menjadi istrinya seolah menjadi kebanggaan dan keberuntungan untuk banyak wanita, jadi tak heran juga jika banyak wanita ya berlomba-lomba untuk mendekatinya. Namun, sayangnya semua usaha banyak wanita itu tidak pernah ada yang berhasil, sebab fokus Johan sekarang hanya satu memberikan kebahagian untuk putranya bukan untuk dirinya. Jadi, sebesar apa usaha para wanita mengejarnya itu tidak akan bisa menyentuhnya sebab ia sendiri sudah mengunci rapat pintu hatinya. Tidak ada yang tau kapan pintu itu akan terbuka dan menerima kehadiran cinta baru dalam hatinya.
Johan melangkah masuk kedalam rumah menuju keberadaan seseorang yang sepenuhnya sudah memiliki hatinya. Siapa lagi jika bukan Rajendra Arsenio, putra hasil dari penyatuan Amelia dan Johan.
"Hai sayangnya Papa, apa kabarnya hari ini? Maaf papa pulangnya sedikit terlambat, ya Nak?" ucap Johan begitu lembut tersenyum menatap putra kesayangannya yang baru belajar tengkurap itu.
Rasa lelah yang dirasakan oleh Johan seketika menghilang setelah melihat senyum dan tawa dari Arsen, mendengar celotehan Arsen membuatnya semakin semangat dalam menjalani hidup.
__ADS_1
"Mah, aku mandi dulu ya!" ucapnya lagi pada mamanya, setelah itu berlalu masuk ke dalam kamar mandi setelah menyapa putranya. Johan selalu memastikan kebersihan setiap hal yang berhubungan dengan putranya termasuk dirinya sendiri, ia akan benar-benar memastikan semua hal berjalan baik untuk putranya.
"Kamu lihat sayang, kamu dikelilingi oleh orang-orang yang begitu menyayangimu terutama papamu, dia begitu mencintaimu. Bukan hanya kami, Bunda Vani juga menyayangimu, bukan?" ucap Renata mengajak Arsen yang hanya bisa berceloteh itu, bicara.
Mendengar nama Vani dan papanya, Arsen selalu terlihat riang. Jelas terlihat jika ia menyukai kehadiran Vani yang sering bertemu dengannya.
Seperti yang diinginkan Amelia dan seperti yang diminta oleh Vani, tiga kali dalam sebulan Arsen pasti dibawa menemui Vani. Renat bersyukur karena Juna maupun yang lainnya tidak merasa keberatan dengan kehadiran Arsen disekitar Vani, dan Renata bisa memastikan jika kasih sayang yang diberikan Vani pada Arsen tulus adanya.
Sepuluh menit kemudian, Johan yang telah selesai dengan ritual mandinya, serta menggunakan pakaiannya, segera menghampiri sang putra yang sedari tadi sudah terlihat memanggil-manggilnya dengan isyarat tangan dan celotehan manjanya.
"Mama boleh istirahat Mah, biar aku yang gantian menjaga Arsen," ucap Johan yang sudah mengambil Arsen dari atas tempat tidur membawa Arsen masuk dalam pelukannya.
"Ya sudah, mama turun ya!" jawab Renata.
"Tidak perlu berterima kasih, Jo. Arsen cucu mama. Sudah menjadi kewajiban mama menjaga dan menyayanginya!" jawab Renata tersenyum menatap Johan, lalu menghilang dibalik pintu kamar putra dan cucunya itu.
"Hai jagoan, papa mau lihat jagoan papa sudah bisa apa sekarang?" tanya Johan meletakkan kembali putranya diatas tempat tidur.
"Satu... dua... ti... hahahaha..." tawa Johan meledak saat melihat putranya yang baru saja akan mencoba tengkurap, namun usahanya gagal. Dengan sangat gemas Johan mencium kedua pipi putranya yang tertawa menahan geli akibat ulah Johan.
"Kita coba lagi, ya boy!" seru Johan kembali membiarkan putranya untuk berusaha tengkurap.
__ADS_1
"Wah... jagoan Papa terbaik!" ucap Johan bertepuk tangan menyoraki putranya yang berhasil tengkurap.
Setelah Arsen berhasil tengkurap, Johan berbaring telentang diatas tempat tidur lalu membawa Arsen untuk naik keatas perutnya. Membiarkan Arsen bersandar pada kedua lututnya yang terlipat.
"Pa... pa..." ucap Johan berulang kali mengajarkan putranya untuk menyebut kata papa. Johan kembali dibuat tertawa saat mendengar celotehan anaknya yang berusaha menyebutkan kata papa, kata pertama yang sangat ingin Joha dengar dari bibir putranya.
Meskipun Arsen tak mungkin mengerti dan tak mungkin menjawab setiap ucapannya, namun Johan selalu menjadikan Arsen tempat untuknya bercerita. Selain sebagai putra kesayangannya, Johan juga menjadikan Arsen sebagai teman terbaiknya.
"Astaga, papa hampir saja lupa. Bukankah hari ini jadwal kita berbelanja kebutuhanmu?" ucap Johan yang dijawab celotehan yang Johan sendiri tidak dapat mengerti apa arti celotehan yang diucapkan putranya.
"Kita pergi setelah sholat magrib ya, boy!" ucap Johan lagi mengecup sayang seluruh wajah putranya.
Satu hal juga yang menjadi kebiasaan Johan adalah berbelanja sendiri untuk keperluan Arsen, tentunya sejak usia Arsen dua bulan ia juga selalu membawa Arsen setiap kali ia berbelanja, contohnya seperti saat ini dimana ia dan Arsen tengah berada dipusat perbelanjaan terbesar yang ada disana.
Sebagai ayah muda, Joha bisa dikatakan sangat terampil dalam hal mengurus semua keperluan putranya. Nalurinya sebagai seorang ayah membuatnya bisa menghapal dan mempelajari semua hal baik yang berhubungan pada tumbuh kembang putranya.
Pujian serta tatapan kagum dari setiap wanita sudah menjadi hal biasa yang Johan dapatkan jika ja sedang berada diluar bersama putranya.
"Wah, lihatlah. Bukankah dia duda tampan yang akhir-akhir ini menjadi bahan pembicaraan!" ucap seorang wanita berbisik pada temannya.
"Kamu benar, melihatnya langsung seperti ini membuatku setuju dengan akun gosip yang mengatakan jika dia duda tampan idaman banyak wanita. Aku juga siap menjadi ibu dari anaknya jika dia mau padaku!" jawab wanita lainnya terkikik sendiri dengan ucapannya.
__ADS_1
Johan yang dapat mendengar meski samar-samar ucapan kagum orang-orang padanya hanya bisa tersenyum.
"Kamu bisa lihat dan dengar sendiri Boy, papamu ini menjadi idaman menurut mereka. Semua orang mengatakan kita tampan!" ucap Johan menundukkan kepalanya mencium Arsen yang berada dalam kereta dorongnya.