
"Ada apa, Van? Dari siapa?" Esi yang baru tiba di kantor, mengambil kembali bunga yang terlepas dari tangan Vani. Esi membaca tulisan yang ada di kartu kecil yang terselip di bunga itu, lalu meremasnya seakan melampiaskan amarahnya. Esi membuang bunga itu ke tempat sampah lalu kembali menghampiri Vani.
"Tenanglah, Vani. Dia tidak akan bisa mendekatimu. Jangan lupa sekarang sudah ada Arjuna yang akan menjagamu dari siapapun terutama pria itu," ucap Esi mencoba menenangkan sahabatnya itu.
Vani yang mendengar itu ingin sekali mencoba tenang, tetapi perasaan takut tetap saja lebih menguasainya. Vani sangat mengenal Johan, pria itu tidak akan tinggal diam. Johan pasti akan terus mengusik hidupnya, sekali pun dia tahu Vani sudah bersama pria lain.
"Dia tidak akan menyerah. Aku benar-benar takut," ucap Vani jatuh terduduk lemas di kursinya.
Esi jelas mengerti apa yang Vani khawatirkan, untuk itulah dia mencoba menenangkan sahabatnya itu. Senyum di wajah Esi terbit tak kala melihat ponsel Vani yang berada di atas meja berdering dan tertera nama Arjuna di sana. Esi sangat yakin Arjuna akan membuat sahabatnya itu tenang.
"Jawab teleponnya!" ucap Esi setelah itu menjauh dari Vani.
Vani menatap sejenak ponselnya, berusaha menenangkan dirinya sebelum akhirnya menjawab panggilan masuk dari Arjuna.
"Sayang, ingatlah aku akan selalu bersamamu. Aku akan menjagamu memastikan kamu selalu bahagia dan menjauhkan kamu dari semua hal buruk yang berniat mendekatimu," ucap Arjuna saat panggilan tersambung.
Ucapan Arjuna jelas membuat Vani terkejut. Juna berbicara seakan-akan Juna tahu apa yang terjadi padanya dan itu membuat Vani juga merasa heran.
__ADS_1
"Kamu percaya padaku?" tanya pria itu lagi saat Vani tak kunjung menanggapi ucapannya.
"Aku percaya padamu," jawab Vani pelan.
"Kalau begitu, sekarang tersenyumlah. Lupakan hal buruk yang terjadi, bayangkan dan ingat saja hal-hal indah yang akan terjadi, aku akan memastikan semuanya," ucap Arjuna lagi benar-benar ampuh menenangkan Vani yang perlahan tersenyum sembari menganggukkan kepala.
Esi kembali menghampiri Vani setelah Vani dan Arjuna selesai berbicara. Esi yang melihat Vani sudah terlihat lebih baik juga merasa tenang. Tebakannya jika Juna pasti dapat menenangkan Vani, itu benar, dan Esi semakin bersyukur karena Vani mendapatkan pengganti Johan sebaik Arjuna.
"Aku benar-benar tidak sabar ingin menjadi Bridesmaid-mu. Kalian sudah menentukan tanggal?" ucap Esi bertanya.
Vani tersenyum mendengar itu. "Belum, tapi kami akan membahasnya."
"Dan aku juga berharap kau dan Karina juga secepatnya menyusul," balas Vani diakhiri candaan oleh keduanya.
***
Kehadiran Arjuna di kantor mereka jelas membuat semua orang terkejut. Berbagai macam arti tatapan mereka terlihat. Ada yang terkejut tetapi mengagumi ketampanannya, ada yang terkejut tetapi juga takut, ada yang terkejut dan merasa hal buruk akan terjadi.
__ADS_1
Tempat yang harusnya Arjuna tuju ialah kantornya bukanlah tempat yang saat ini di injaknya, tempat yang didatanginya justru adalah tempat dimana sosok rivalnya berada, yaitu Johan–mantan kekasih Vani.
Sejak hari dimana Vani menerima kehadirannya, sejak itu pula Arjuna meminta seseorang diam-diam mengawasi Vani. Hal itu yang membuat Arjuna tahu apa yang telah terjadi pagi ini di tempat Vani bekerja, serta itu juga yang menjadi penyebab Arjuna memutuskan menemui Johan.
Johan yang tengah melamun di ruangannya terkejut saat sekretarisnya berkata Arjuna Lakeswara ingin bertemu dengannya. Namun, mengingat jika Arjuna adalah sosok pria yang dia anggap telah merebut wanitanya, membuat Johan tak ragu untuk mengizinkan Arjuna masuk.
Arjuna yang tengah diselimuti amarah karena kelakuan Johan yang dia tahu telah mengusik ketenangan wanitanya, bisa saja menerobos masuk dan menghajar Johan. Namun, Arjuna tetaplah Arjuna, pria yang akan selalu dapat bersikap tenang menghadapi situasi apa pun, dan juga selalu menjunjung tinggi tata krama sekalipun dia juga terkenal arogant dan dingin. Semua itu selalu dapat Arjuna kuasai, kecuali dihadapan Vani. Saat bersama Vani, Arjuna benar-benar akan terlihat berbeda, dia terlihat konyol, lucu, salah tingkah, gelagapan bahkan sering kali melakukan hal yang sebelumnya tidak pernah dia lakukan.
Semua ucapan yang mengatakan jika hanya ada satu wanita yang dapat merubah pria, itu benar adanya. Saat ini Vani adalah wanita satu-satunya yang dapat merubah dan meluluhkan hati Arjuna.
Arjuna masuk ke dalam ruangan Johan setelah diizinkan. Pria itu masih berdiri dengan tegap menatap Johan yang telah menunggu dan siap memulai peperangan dengannya.
"Apa yang kau inginkan? Tidakkah kau sadar jika kau sudah menikah? Haruskan aku membuat pengumuman dalam berbagai bentuk untuk memberitahumu jika Vani adalah wanitaku, kekasihku, tunanganku dan calon istriku?" ucap Arjuna dengan begitu tegas serta tatapan yang begitu tajam pada Johan.
"Menjauh dari wanitaku sebelum kesabaran ku habis! Kau tidak akan bisa membayangkan apa yang dapat aku lakukan jika terus mengusik hidup wanitaku," sambung Arjuna geram menekankan setiap ucapannya yang jelas peringatan untuk Johan.
Johan yang mendengar itu tertawa kencang, setelahnya diam dan balas menatap tajam pada Arjuna. "Akulah satu-satunya pria dalam hidup Vani dan akan selamanya hanya aku!" ucapnya.
__ADS_1
"Sepertinya berbicara menggunakan bahasa dan cara manusia adalah hal yang tidak pantas dilakukan padamu. Teruslah mengusik wanitaku, dan kau akan lihat akibatnya!" balas Arjuna setelah itu keluar dari ruangan Johan.