
Berbeda dengan Johan yang tengah berdebat dengan kedua orang tuanya. Ketika tengah malam, disaat hampir aemua orang sudah terlelap, Arjuna justru datang ke rumah orang tuanya meski jarak rumah orang tuanya cukup jauh sebab berbeda kota dengannya.
Arjuna melihat jarum jam yang menunjukan pukul satu malam, tetapi tetap saja pria itu membangunkan semua orang, hingga akhirnya saat ini semua anggota keluarganya telah berkumpul di ruang keluarga dalam keadaan menahan kantuk dan kesal.
"Ada apa, Kak? Kakak seperti orang mabuk. Kenapa datang tengah malam seperti ini?" tanya Aura sambil menguap.
"Ada apa? Papa harap ini hal yang penting!" sahut Abimanyu ikut bertanya.
"Besok aku ingin melamar Vani. Tanyakan apapun itu, asal jangan memintaku mengundur hari untuk melamarnya. Aku ingin besok, sebalum Vani berubah pikiran," ucap Arjuna menjawab.
"Apa?" Ayah, ibu, dan adiknya serentak berkata setelah mendengar ucapan Arjuna.
"Kalian lebay. Aku bilang besok aku ingin melamar Vani. Aku ingin kalian semua menemaniku menemui keluarga Vani," ucap Arjuna lagi.
"Harus besok? Mama ada acara," tanya Ajeng berpura-pura.
"Papa juga ada repat dengan beberapa pemegang saham," sahut Abimanyu mengikuti permainan istrinya.
"Aku–"
__ADS_1
"Tidak ada alasan apapun, aku ingin besok kalian menemaniku melamar Vani. Kita akan menemui keluarga Vani. Tidak ada penolakan apapun," ucap Arjuna memotong kalimat yang akan diucapkan Aura saat dia tahu Aura juga akan mencari alasan untuk menolak permintaannya.
"Kamu mencintai Vani?" tanya Abimanyu–papanya membuat Juna terdiam, sebab Juna sendiri masih belum bisa memastikan jika dia mencintai Vani.
"Aku menyayanginya, Pa. Aku menyukainya," jawab Arjuna mengatakan apa yang dia rasakan saat ini.
"Pernikahan bukan sesuatu untuk sekedar di coba, Juna. Ada makna yang sangat besar dari kata pernikahan atau menikah. Papa harap kamu sudah memikirkan semuanya secara matang. Sekali pun kami menyukai Vani, tetapi sebagai orang tua, kami jelas tidak ingin kamu mengambil keputusan tanpa memikirkannya secara matang. Semua orang berharap menikah hanya satu kali, dengan satu orang dan untuk selamanya. Lebih baik terlambat daripada menyesal kemudian," ucap Abimanyu coba menasehati putranya, sekali pun Abi sadar jika Arjuna tidak akan pernah melakukan sesuatu dengan gegabah, tapi tidak ada salahnya dia mengingatkan putranya sebab semua orang pasti pernah dan akan pernah melakukan kesalahan.
"Percaya padaku, Pa. Aku tidak memutuskan tanpa berpikir. Aku menginginkan Vani dalam hidupku, aku membutuhkannya dan aku serius padanya," jawab Arjuna dengan lantang dan sangat meyakinkan. "Kalian akan menemaniku, kan?" sambungnya bertanya.
"Tentu saja kami akan pergi. Mama akan menyiapkan semuanya dengan sangat singkat. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan apapun, serahkan semuanya pada Mama!" Ajeng yang tadinya masih terlihat mengantuk, saat ini menjadi paling semangat setelah mendengar ucapan putranya.
"Iya, aku juga akan membantu Mama menyiapkan semuanya!" sahut Aura yang tak kalah semangat dari sang ibu.
Sebantar lagi, Van. Sebentar lagi kamu akan benar-benar terikat denganku. Batinnya.
***
Vani menatap kesal pada ponselnya. Hari sudah hampir menunjukan waktu makan siang, tetapi tak ada tanda-tanda Juna akan menghubunginya atau sekedar membalas pesannya. Vani yang sebelumnya tidak pernah menghubungi Juna lebih dulu, sebab pria itu selalu saja lebih dulu menghubunginya, kali ini justru sudah dua kali menghubungi Arjuna. Namun sayangnya pria itu tak menanggapinya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Esi yang sedari tadi memperhatikan gerak gerik Vani.
"Dia mengabaikanku," jawab Vani kesal.
"Arjuna?"
"Tentu saja dia, siapa lagi?" Vani semakin kesal mendengar pertanyaa Esi.
"Van. Mungkin dia benar-benar melamarmu. Bukankah kamu menantangnya untuk melakukan semua itu?"
Vani yang mendengar ucapan Esi terdiam sejenak, tetapi sesaat kemudian dia mengembuskan napas berat. "Kamu lupa tadi pagi sekretarisnya itu terburu-buru keluar dari apartemen Juna, mengatakan jika mereka ada meeting dadakan dengan perusahaan asing?" ucap Vani bertanya.
"Mungkin saja itu cuma alasan mereka. Mungkin mereka berniat membuat kejutan untukmu." Esi terus saja mengatakan hal-hal yang jelas akan membuat Vani menjadi berharap setelah mendengarnya.
"Tidak mungkin. Jika dia benar akan melamarku, pasti dia akan mengatakan itu padaku dulu. Bagaimana bisa dia melamar tanpa kehadiranku?"
"Semua mungkin saja terjadi," jawab Esi tersenyum.
Esi dan Vani terus saja membahas tentang Arjuna sembari menunggu jam istirahat, semua itu tak menjadi masalah untuk mereka mengobrol disaat jam kerja, sebab hari ini bank tempat mereka bekerja bisa dibilang cukup sepi, benar-benar berbeda dari biasanya.
__ADS_1
Disaat Vani dan Esi masih asik berbincang, telepon Vani berdering, Vani dengan semangat menjawab panggilan yang masuk tanpa melihat siapa orang yang menghubunginya.
"Baiklah," jawab Vani lemas.