Suamiku Bucin Akut

Suamiku Bucin Akut
Apa Yang Sebenarnya Terjadi


__ADS_3

Lima belas menit sebelum jam kantor berakhir, Juna sudah tiba di parkiran kantor Vani bekerja. Jika dulu Arjuna selalu menggunakan supir, sekarang Juna memilih mengemudikan mobil sendiri hanya agar bisa menghabiskan waktu bersama Vani. 


Pria itu tersenyum saat melihat Vani sudah keluar dari kantor dan sudah berjalan menghampirinya. Namun, sesaat kemudian senyum di wajah Arjuna berganti wajah dingin saat melihat seorang pria menghampiri Vani.


Dengan sangat cepat Juna keluar dari mobil, menghampiri Vani lalu melingkarkan tangannya di pinggang Vani yang sedikit terkejut dibuatnya, tetapi saat menyadari itu Juna, Vani tersenyum sebab semua hal yang dilakukan Juna tak terlihat aneh lagi menurutnya.


"Sayang, siapa?" tanya Juna seakan tak mengenal pria paruh baya yang saat ini berdiri di hadapan mereka.


Vani menjawab. "Dia paman Rizal, ayahnya Johan!"


"Paman, ada apa?" tanya Vani berusaha tenang menghadapi mantan paman sekaligus mantan calon mertuanya.


"Ada yang ingin paman bicarakan denganmu, apa kamu punya waktu?" Rizal bertanya pada Vani sembari terus memperhatikan wajah Vani dengan seksama, membuat Vani sedikit merasa canggung sebab ini adalah pertama kalinya mereka bertemu secara langsung.


"Tidak. Kami ada urusan." Bukan Vani, melainkan Arjuna yang menjawab.


"Kalian benar sudah bertunangan?" tanya Rizal lagi melihat kedekatan keduanya.

__ADS_1


"Ya, akan segera menikah dalam waktu dekat. Jadi, tolong katakan pada putra kesayangan Anda untuk menjauh dari calon istriku. Sadar akan posisinya yang sudah menikah dan sadar akan posisi Vani yang merupakan calon istriku. Antara Vani dan dia tidak ada hubungan apapun lagi, jadi berhenti mengejar calon istriku."  Tanpa rasa ragu, dengan sangat tegas Arjuna mengatakan semua itu.


Meski Arjuna berbicara padanya, tatapan Rizal masih saja tertuju pada Vani dan itu benar-benar membuat Arjuna merasa kesal juga cemburu. Arjuna tidak akan rela ada pria yang menatap Vani begitu lama seperti itu, melihat itu, Arjuna menarik pelan tangan Vani agar berdiri di belakangnya, menutup pandangan Rizal agar berhenti menatap Vani.


"Jangan katakan Anda juga menyukai wanitaku," ucap Arjuna dengan sangat ketus.


"Vani sangat mirip dengan almarhum mantan istriku," ungkap Rizal dengan wajah terlihat sendu. Mata Rizal bahkan terlihat dipenuhi rasa bersalah dan itu membuat Vani yang melihatnya kembali berdiri di samping Arjuna.


"Paman baik-baik saja?" Vani bertanya sambil menyentuh lengan Rizal, dan itu semua membuat perasaan Rizal semakin tak menentu, begitu juga Arjuna yang dengan cepat menarik tangan Vani yang menyentuh Rizal dan kembali merangkul Vani agar hanya menempel padanya.


Tanpa mengatakan apapun, Rizal memilih pergi dari sana saat Rizal sendiri semakin bingung dengan perasaannya. "Maafkan aku, Ren!" ucapnya setelah berada di dalam mobil.


"Entahlah. Kamu lihat sendiri aku bahkan belum mendapat jawaban darinya," jawab Vani sembari lebih dulu melangkah menuju mobil Juna, saat Vani sadar beberapa orang tengah memperhatikan mereka.


"Sayang, ada apa dengannya? Kenapa dia terlihat sedih? Dan mengenai ucapannya yang mengatakan mantan istri. Apa maksudnya? Dia pernah menikah sebelum bersama ibu Johan?" tanya Arjuna lagi saat mereka sudah di dalam mobil.


"Anak buahmu kurang teliti, jika kamu tidak tahu jawabannya," cibir Vani tertawa pelan.

__ADS_1


"Papa punya adik kesayangan bernama Irene dan paman Rizal adalah mantan suami bibiku," jawab Vani. Vani yang sebelumnya ceria saat itu terlihat murung dan itu membuat Arjuna semakin penasaran. Sebab apa yang Vani katakan benar jika orang suruhannya tidak memberikan informasi yang lebih mendetail. Padahal kenyataannya Arjuna lah yang tidak begitu mendengar penjelasan anak buahnya selain hanya tentang Vani.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa dia bilang wajahmu mirip dengan mantan istrinya?" tanya Juna lagi.


"Itu memang, karena kami sangat mirip, banyak yang bilang wajahku sangat mirip dengan bibi Irene. Bibi meninggal di hari aku lahir. Sebelum meninggal bibi selalu menjaga mama dan sangat menyayangiku, Bibi sendiri yang meminta mama memberiku nama Stevani, seperti namanya Irene Stevani. Kata Mama sebelum meninggal Bibi sempat berkata jika dia sangat menyayangiku seperti putrinya sendiri." Vani tanpa sadar meneteskan air matanya menceritakan kejadian yang hanya ia dengar dari penjelasan mamanya.


"Meninggal? Sakit?" tanya Juna lagi.


"Bibi depresi setelah paman Rizal selingkuh dan ternyata itu sudah terjadi cukup lama. Bibi baru mengetahui itu setelah 2 tahun paman berselingkuh.  Bahkan paman sudah menikah diam-diam dan mempunyai seorang anak yaitu Johan. Bibiku memilih mengakhiri hidupnya. Mama bilang bibi juga berkata jika dia senang aku hadir untuk menggantikannya. Saat itu tidak ada yang berpikir buruk atas ucapan bibi yang memang sering meracau saat menangis. Tetapi malam harinya bibi ditemukan meninggal, dengan surat permintaan maaf di tangannya," jawab Vani mencoba menghentikan air matanya yang terus mengalir keluar seakan dia dapat merasakan apa yang almarhum bibinya rasakan.


Arjuna yang mendengar itu turut merasa kesedihan yang Vani rasakan, Arjuna mengerti alasan keluarga Johan dan Vani tidak saling merestui hubungan Vani dan Johan, sebab sudah ada cerita lebih dulu di masa lalu yang menyimpan banyak duka.


"Sayang, lupakan semuanya. Semua telah berlalu, kita doakan agar bibi Iren selalu bahagia di atas sana." Arjuna membawa Vani masuk ke dalam pelukannya, mengusap lembut punggung Vani, berusaha menenangkan wanitanya itu.


"Oh, ya. Aku punya kejutan untukmu. Ayo pergi sebelum terlambat!" ucap Arjuna mengalihkan pembicaraan.


"Kejutan apa?" tanya Vani menghentikan tangisnya, menatap Arjuna.

__ADS_1


"Namanya kejutan. Kamu akan lihat nanti, sekarang ayo kita bersiap terlebih dulu!" ucap Arjuna mulai melajukan mobilnya.


__ADS_2