
Lima menit kemudian, Manda keluar dari kamar mandi sudah memakai piyama tidurnya.
Manda yang juga merasa lelah memilih untuk segera tidur. Tenang, Nda, tenang. Dia suamimu, sudah sewajarnya kalian tidur di ranjang yang sama dan tidak perlu gugup seperti ini, karena sebelumnya kalian juga sudah tidur di ranjang yang sama. Batin Manda menatap ragu untuk naik ke atas tempat tidur yang sebelahnya sudah diisi oleh Johan. Meski sebelumnya mereka sudah pernah bersentuhan bahkan berciuman.
Manda naik keatas ranjang secara perlahan agar tidak membangunkan Johan, karena dia masih sangat malu mengingat tingkah Johan sebelumnya.
"Astaghfirullah... Mas. Kamu mengejutkanku," ucap Manda menepuk pelan tangan Johan saat Johan tiba-tiba memeluknya ketika Manda sudah di ranjang.
Johan menatap Manda yang kembali terlihat merona. "Kamu masih merasa malu? Aku suamimu, tidak perlu sungkan, malu gugup atau apa pun itu padaku. Cobalah untuk terbiasa, Nda," ucap Johan.
Johan yang sempat menyentuh rambut Manda menyadari jika rambut Manda masih basah.
"Kamu berniat tidur dengan rambut basah seperti ini?" tanya Johan sembari turun dari tempat tidur.
"Dimana pengering rambutmu? Ayo sini biar aku keringkan dulu rambutmu!" tanya Johan, yang sudah lebih dulu melangkah menuju meja rias.
Manda yang mendengar itu langsung turun dari tempat tidur lalu mengambil hairdryer miliknya kemudian memberikan pada Johan yang masih berdiri ditempatnya.
"Duduklah!" titah Johan lembut kembali membuat Manda tercengang dibuatnya sebab Manda mulai mengerti apa yang akan Johan lakukan.
"Mas, aku bisa sendiri!"
"Duduk diam lah!" pinta Johan lalu mulai mencolokkan Hairdryer dan mulai mengeringkan rambut Manda.
__ADS_1
Lagi-lagi Manda hanya bisa pasrah menerima semua perlakuan Johan. Meski merasa malu dan canggung, namun semua hal yang dilakukan Johan membuat Manda merasa bahagia dan berbunga-bunga di hatinya.
"Sudah selesai, wangi. Aku suka wangi rambutmu. Ayo sekarang tidur! " ucap Johan mencium pucuk kepala Manda, setelah selesai dengan rambut Manda.
"Mas mau ke mana?" tanya Manda menghentikan langkah Johan yang tersenyum menatapnya. "Kamu tidak ingin aku pergi? Ingin tidur bersamaku?" tanyanya berhasil membuat Manda semakin salah tingkah dan merona.
"Eh-em- itu, aku hanya tanya," ucapnya gugup.
Johan kembali mendekat pada Manda yang masih duduk di depan meja rias, kembali mendaratkan kecupan di dahi Manda.
"Tidurlah lebih dulu. Aku tahu kamu lelah, aku tidak kemana-mana, hanya ingin mandi," ucap Johan lagi pada Manda yang masih terdiam mematung ditempatnya, setelah mendapat kecupan dari Johan.
Suara pintu kamar mandi yang tertutup menyadarkan Manda, dia bangun dan melangkah menuju lemari mencari pakaian ganti untuk Johan.
"Kamu harus membiasakan semua ini, Nda. Bukankah kamu sudah sepakat dengannya? Jangan membuatnya berpikir kamu ragu akan keputusanmu. Lakukan tugasmu dengan lebih baik lagi karena mulai sekarang semua hal sekali pun intim adalah tugasmu sebagai istrinya," ucap Manda pada dirinya sendiri.
Beberapa menit kemudian, Johan keluar dari kamar mandi dengan tubuh bagian atas yang terpampang jelas tanpa penutup apapun, tubuh atletisnya terlihat jelas karena ia hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggang.
Manda yang belum tertidur sebab menunggu Johan, jelas melihat semuanya. Ia masih terdiam mematung dengan debaran jantung yang kembali berdegup kencang melihat tubuh polos Johan.
Johan yang melihat hal tersebut tersenyum menghampiri Manda yang masih saja menatapnya.
"Kamu suka dengan ini?" tanya Johan sembari mengangkat tangan Manda, untuk menyentuh dada bidangnya yang polos tak tertutup benang.
__ADS_1
"Maaf, Mas, aku nggak sengaja liat!" ucap Manda menarik cepat tangannya, lalu segera berbalik membelakangi Johan yang tertawa kencang dibuatnya. Apa yang mereka alami persis seperti pengantin baru yang sama2 menikah dalam keadaan perawan, malu-malu seperti banyak cerita.
"Sayang. Apa yang ada padaku semua adalah milikmu, begitupun semua yang ada padamu adalah milikku!" ucap Johan memegang kedua bahu Manda, lalu perlahan memutar tubuh istrinya yang masih memejamkan mata tersebut.
Johan mengecup sayang kedua mata Manda secara bergantian.
Manda yang masih merasa malu, ditambah lagi setelah mendapat kejutan dari bibir Johan yang menyentuhnya, semakin dibuat malu dan bertahan memejamkan matanya.
"Buka matamu, atau aku berbuat lebih dari yang sebelumnya!" ancam Johan, membuat Manda sontak membuka matanya.
"Mas, sudah malam. Pakai pakaianmu, nanti masuk angin," ucap Manda pada Johan yang dengan santai menuruti permintaan Manda.
Manda mengucap syukur dalam hatinya saat Johan menuruti apa yang dikatakannya, namun itu semua tidak berlangsung lama saat Johan justru mengganti pakaiannya tepat di depan Manda.
"Mas!" Manda berteriak saat melihat Johan dengan santai membuka handuknya dan dengan sangat tenang membiarkan Manda melihat tubuh polosnya.
Sesuatu yang menjadi bagian terpenting dari tubuh Johan jelas menggantung, jelas terlihat oleh Manda yang malu sendiri dibuatnya.
"Ada apa, sayang?" tanya Johan dengan santainya.
"Aku mau melihat Neisha sebentar!" Manda berusaha kabur dan salah tingkah.
"Neisha sudah tidur, Arsen juga. Kamu tidak perlu mengecek mereka," ucap Johan cepat sebelum Manda keluar dari kamar.
__ADS_1
"Aku lelah, dan aku ingin beristirahat bersamamu, karena aku tau kamu juga pasti lelah. Aku janji aku tidak akan memintanya jika kamu belum bisa memberikannya, meskipun seharusnya aku tidak perlu izinmu untuk mengambil hakku karena kamu istriku," ucap Johan terdengar menusuk di hati Manda yang terdiam mendengarnya.