
Manda terdiam mendengar ucapan Vani. Membahas tentang Aneisha adalah hal yang tidak pernah Manda bahas pada siapa pun kecuali Yana, wanita yang sebelumnya sering membantunya menjaga Neisha. Membahas tentang Neisha seakan membuka kembali luka masa lalu Manda dan itu membuatnya terlihat ragu untuk bercerita, tetapi melihat wajah serius dan tak enak yang terlihat dari Vani, Amanda hanya bisa mengangguk pertanda dia bersedia ditanya.
"Mbak, apa ayahnya Neisha orang luar?" tanya Vani sembari pandanganya menatap Neisha dan Dara yang tengah berada di arena bermain tersebut.
"Aku sama sekali tidak mengenal orang tuanya," ucap Amanda berhasil mengejutkan Vani yang sontak saja menatap padanya.
"Apa Mbak baru saja mengatakan sesuatu?" Vani memastikan pendengarannya.
"Ya. Aku bilang, aku tidak mengenal orang tuanya Neisha!" Manda mengulang kembali ucapannya, yang entah mengapa ia mulai ingin berterus terang kepada Vani, sosok yang ia anggap bisa ia percaya selain bu Yana.
"Maksud Mbak?" Vani menjadi bingung dengan ucapan Amanda.
"Neisha bukan putri kandungku. Pernikahanku dan Mas Alan hanya berjalan satu minggu karena ia mengalami kecelakaan dan dinyatakan meninggal dunia," ucap Amanda dengan mata berkaca-kaca.
"Mbak, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud membuat Mbak bersedih, kita ganti saja topik obrolan kita, ya." Vani merasa tak enak hati pada Amanda.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Van, aku ingin bercerita padamu, itupun jika kamu ingin mendengarnya," ucap Amanda menyeka air matanya yang hampir menetes.
"Aku siap mendengarkan, jika Mbak tidak merasa keberatan, tapi jika hanya akan membuat Mbak bersedih, maka simpan saja dan jangan di keluarkan," kata Vani menggenggam tangan Amanda, berusaha menenangkan Amanda.
"Aku baik-baik saja, aku bersedih hanya karena aku begitu merindukannya, apalagi aku tidak dapat melihatnya di hari terakhir sebelum ia pergi," ungkap Amanda berusaha untuk tidak menangis.
"Maksudnya? Mbak tidak hadir di hari terakhirnya?" tanya Vani semakin di buat bingung.
"Mas Alan mengalami kecelakaan saat sedang ke luar kota, aku terlambat mengetahui berita tentang kecelakaan nya karena tak ada yang memberitahuku, sebab semua anggota keluarga mas Alan tidak ada yang menyukaiku. Aku baru mengetahui tentang kepergiannya setelah ia di kuburkan, dan itupun dari orang lain," ucap Amanda tak dapat menahan air matanya yang mulai menetes.
"Setelah kepergian mas Alan, aku tetap berusaha untuk mendekati mereka, namun tetap saja mereka sangat membenciku, mereka bahkan mengatakan jika akulah penyebab suamiku mengalami kecelakaan," kata Amanda lagi.
"Kenapa? Apa yang tidak mereka sukai dari Mbak?" ucap Vani bertanya, saat ia sendiri merasa tidak ada yang kurang dari sosok Amanda.
"Karena aku orang tak punya dan yatim piatu," jawab Amanda menghentikan tangisnya dan tersenyum pada Vani yang terenyuh hatinya mendengar kisah hidup Amanda.
__ADS_1
"Aku tinggal sendiri di rumah peninggalan suamiku setelah ia pergi, beberapa bulan setelah ia pergi, aku menemukan Neisha tepat di depan pintu rumahku, saat itu dia masih bayi. Entah orang tua mana yang tega membuang anak sepertinya, namun aku merasa bersyukur karena akulah orang beruntung yang mendapat kepercayaan merawat Neisha." Amanda tersenyum sembari melambaikan tangannya pada Neisha yang terlihat mencarinya.
"Ya, Mbak sangat beruntung mempunyai putri yang begitu cantik dan pintar sepertinya," puji Vani yang juga tersenyum menatap Dara yang menghampiri Neisha dan kembali mengajaknya bermain.
"Kalau aku boleh tau, mas Alan orang mana?" tanya Vani kembali menatap Amanda.
"Dia asli Jakarta," jawab Manda yang lagi-lagi mengejutkan Vani.
"Sebelumnya aku tinggal di Jakarta, aku juga lahir di Jakarta, aku pindah ke Semarang saat umur Neisha dua bulan, ketika semua keluarga Mas Alan secara tidak langsung membuatku terusir dari Jakarta," jawabnya.
"Mbak," lirih Vani yang merasa sedih dengan cerita Manda.
"Aku baik-baik saja. Terima kasih ya, Vani sudah mau mendengar ceritaku. Tolong jaga rahasiaku," ucap Amanda tersenyum pada Vani meyakinkan Vani jika dia baik-baik saja.
"Mbak tenang saja, mbak bisa percaya padaku. Aku senang jika Mbak mau bercerita padaku, dan aku akan selalu siap jika Mbak ingin bercerita padaku. Aku salut pada Mbak. Mbak wanita yang kuat, ibu yang kuat. Percayalah Allah pasti akan selalu memudahkan jalan mbak, Allah akan bersama umatnya yang selalu mengingatnya, jadi sebagai hambanya, kita harus selalu ingat padanya, karena ia akan selalu ada untuk kita di saat semua orang meninggalkan kita," ucap Vani tersenyum begitu menenangkan hati Manda yang merasa lega dan bebannya sedikit terangkat setelah bercerita pada Vani.
__ADS_1