
Hari ini merupakan jadwal pemeriksaan rutin kehamilan Amelia. Seperti biasa ia akan melakukan pemeriksaan ditemani mertuanya, namun kali ini ia ingin semua berbeda. Ia berharap untuk pertama dan terakhir kalinya Johan ikut menemaninya. Untuk itu Amelia akan berusaha untuk memintanya kepada Johan, seperti yang saat ini ia lakukan dimana ia sudah berdiri tepat dibelakang Johan yang sedang berjemur di belakang rumah.
"Johan!" panggil Amelia pelan, namun tak mendapat jawaban dari Johan.
"Aku tau aku sudah melakukan banyak kesalahan selama ini, aku minta maaf untuk itu semua. Aku sudah berjanji pada diriku dan hidupku sendiri bahwa aku tidak akan pernah memaksamu untuk mencintaiku, karena aku sadar itu tidak mungkin terjadi, namun aku mohon, Jo. Aku mohon jangan benci anakku, anakku tidak bersalah sama sekali. Jika nanti aku pergi, kalau bukan papanya yang menyayangi dan menjaganya, lalu siapa lagi, Jo? Aku mohon terima kehadiran anak kita! Hanya itu yang aku harapkan darimu," ucap Amelia terdengar lirih. Dari semua kalimat Amelia ada satu kalimat yang tertangkap oleh Johan, adalah. 'Jika nanti aku pergi.'
"Jadi kamu akan pergi?" tanya Johan untuk pertama kali membuka mulutnya pada orang di rumah kecuali perawatnya.
"Aku berjanji!" jawab Amelia lantang.
'Jika itu dapat membuatmu bahagia dan menerima anak kita, aku akan menghilang dari kehidupan kalian agar kalian bisa hidup tenang dan bahagia!' sambung Amelia dalam hati.
"Setelah aku melahirkan, kamu bisa menceraikan aku. Dengan syarat, tolong sayangi dan jaga dengan baik anak kita!" ucap Amelia lagi, menatap serius pada Johan yang juga sedang menatapnya mencoba mencari jejak kebohongan dalam ucapan Amelia.
Johan akui jika ia sudah banyak melihat perubahan pada sosok Amelia, tidak seperti dirinya yang tidak ada perubahan. Dia juga sadar tidak sepenuhnya Amelia salah karena kesalahan terbesar ada pada dirinya. Johan bukannya enggan untuk memperbaiki hubungannya bersama Amelia, namun ia tidak ingin memberikan Amelia harapan karena ia tidak mungkin kembali bersama Amelia meskipun negara dan agama menyatakan mereka suami istri.
"Aku juga minta maaf atas semua kesalahanku padamu, aku bukanlah pria yang baik. Kamu bisa mencari kebahagiaanmu diluar sana, seperti yang kamu katakan. Aku juga menyadari bahwa berpisah adalah jalan terbaik untuk kita berdua, karena antara kita berdua tidak akan bisa menyatu. Hidup bersama hanya akan menyakiti satu sama lain!" ujar Johan tulus mengatakan maaf pada Amelia.
'Akhirnya memang perpisahan jalan untuk kita, Jo!' batin Amelia berusaha menahan tangisnya.
"Menurut perkiraan Dokter. Bulan depan aku akan melahirkan! Apa untuk pemeriksaan kali ini aku bisa memintamu untuk menemaniku menemui Dokter kandungan? Dia selalu bertanya tentang ayah anak kita!" pinta Amelia penuh harap.
"Jam berapa jadwal pemeriksaan mu?" tanya Johan sebagai jawaban jika ia menyetujui permintaan Amelia.
"Siang ini," jawab Amelia senang.
"Baiklah," ucap Johan memutar kursi rodanya untuk kembali masuk kedalam rumah, meninggalkan Amelia yang tersenyum senang menatap punggungnya yang mulai menjauh.
"Sayang, kamu akan mendapat kasih sayang dari papamu, dia menerimamu dengan sangat baik, nak!" ucap Amelia senang mengusap lembut perutnya.
__ADS_1
'Meskipun sebagai gantinya mama harus menjauh dari kalian,' batin Amelia.
****
Juna dan Vani sudah berada di ruangan Dokter Indira. Setelah sedikit basa-basi dimana Dokter Indira dan Vani yang sudah terlihat akrab, sekarang saatnya memulai rangkaian pemeriksaan rutin kandungan Vani.
Seperti biasa, Indira akan meminta Vani untuk lebih dulu berbaring di tempat tidur pemeriksaan. Setelah itu, ia akan mengoleskan gel khusus di perut Vani guna mencegah terjadinya gesekan antara kulit dan transducer. Gel tersebut juga berfungsi memudahkan pengiriman gelombang suara ke dalam tubuh.
Pemeriksaan USG dimulai, transducer digerak-gerakkan di bagian tubuh yang akan diperiksa. Gerakan ini diperlukan agar gelombang suara yang dikirim mampu memantul kembali dan memunculkan gambar yang baik.
Baik Juna dan Vani menatap serius pada layar yang ada didepan mereka, layar yang memperlihatkan bagaimana hasil dari pemeriksaannya dimana Dokter menjelaskan jika semuanya baik dan normal, kondisi kesehatan calon bayi mereka juga sangat baik.
"Bagaimana dengan jenis kelaminnya Dokter?" tanya Juna, yang mulai terlihat gugup merasa sangat penasaran dengan jenis kelamin anaknya.
"Kalian mengharapkan sesuatu tentang jenis kelaminnya?" tanya Indira tersenyum, menatap pasangan yang selalu menebarkan kemesraan dan keharmonisan mereka itu.
"Perhatikan bagian ini!" titah Indira, pada keduanya yang langsung memfokuskan tatapan mereka pada arah yang ditunjuk Indira.
"Dia laki-laki. Persis seperti yang dikatakan Ayahnya. Selamat Tuan Juna, Vani. Anak pertama kalian seorang jagoan!" seru Indira, membuat senyum yang begitu cerah terbit dari wajah Juna yang mendengarnya. Melihat betapa bahagia suaminya saat tebakannya benar, tentu saja juga membuat Vani bahagia melihatnya.
"Tebakanku selalu benar!" ujar Juna bangga.
"Selamat Tuan Juna!" kekeh Vani mengulurkan tangannya pada Juna, yang dengan cepat menerimanya lalu mengecup tangan Vani sembari berkata. "Aku sangat mencintai kalian."
'Pasangan ini selalu saja membuatku iri!' batin Indira menggelengkan kepalanya menatap Juna dan Vani.
****
Dengan tujuan yang sama, namun ditempat yang berbeda. Pasangan lainnya juga sedang melakukan pemeriksaan yang sama. Melakukan USG untuk melihat perkembangan anak mereka.
__ADS_1
"Ini suami anda, Bu Amel?" tanya Dokter pada Amelia yang tersenyum menganggukkan kepalanya.
"Syukurlah akhirnya kalian bisa datang berdua, kalau begitu Ibu Amel bisa berbaring seperti biasanya!" ucap Dokter pada Amelia yang dengan cepat menurutinya.
"Pak, anda bisa lebih mendekat!" pinta Dokter pada Johan yang masih setia duduk tenang di kursi rodanya.
"Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya jika anak kalian berjenis kelamin laki-laki. Dia sehat dan anggota tubuhnya InsyaAllah sempurna!" ucap Dokter, setelah mulai menggerakkan transducer diperut Amelia yang sudah diolesi gel sebelumnya.
Jantung Johan mulai berdetak lebih cepat saat mendengar bakal calon kehidupan yang ada di balik perut buncit Amelia. Hal tersebut seperti perasaan yang tak terlukiskan. Johan begitu terpesona. Air matanya serasa hampir penuh, tetapi ia tidak akan menangis. Johan begitu senang mendengarnya, detak jantung itu menunjukkan bahwa ia harus mulai segera mempersiapkan mentalnya sebagai seorang ayah.
"Seperti halnya ibu, ayah juga perlu mengajak bayi di dalam perut Anda berbicara. Bayi yang dihibur oleh suara orang tua mereka dapat mengenali dengan cepat suara ibu dan ayah setelah lahir. Jadi, ayah harus meluangkan waktu untuk berbicara, bernyanyi atau membacakan buku, dongeng, atau kitab suci untuk bayi di dalam kandungan setiap hari. Suara ayah sama pentingnya dengan suara ibunya, begitupun perhatian lainnya dari seorang ayah juga sangat penting untuk bayi kalian. Mari kita coba membuktikan sedikit ucapan saya!" ujar sang Dokter pada Johan.
Dokter tersebut mengarahkan tangan Joha untuk menyentuh perut buncit Amelia, lalu memintanya untuk menyapa bayi mereka yang berada didalam sana.
"Hai, Sayang, ini Papa!" kalimat pertama yang keluar begitu saja dari bibir Johan dihadapan perut Amelia.
Setelah ucapan yang keluar dari Johan dan elusan pada perut Amelia. Dokter kembali meminta Johan menatap layar dimana bayinya bergerak dengan sangat aktif setelah melihat apa yang dilakukan Johan. Hal tersebut membuktikan jika ucapan Dokter terebut benar, kalau ikatan seorang ayah dan anak sama pentingnya dengan seorang Ibu dan anak.
Johan menyeka air matanya yang dengan lancang menetes melihat hal tersebut, hatinya yang kosong mendadak terisi dengan kehangatan saat melihat bagaimana tumbuh kembang bayinya. Perasaan haru dan bahagia menyergap Johan perlahan membawanya keluar dari lubang kesedihan yang menjeratnya, sekarang Johan merasa jika dirinya mempunyai tujuan lain untuk bangkit.
Amelia yang melihat hal tersebut turut merasa senang saat Johan terlihat menerima baik kehadiran anak mereka seperti yang selama ini sangat ia harapkan.
'Papa berjanji akan menjadi Ayah terbaik untukmu sayang, Papa mencintaimu. Papa sangat menantikan kehadiranmu!' ucap Johan dalam hati, kembali mengangkat tangannya untuk mengusap perut buncit Amelia.
****
Terima kasih untuk semua yang masih setia mengikuti kisah ini, bantu ramaikan juga ceritaku yang lain ya kak.
Bisa klik profil ku dan buka cerita kedua ku. 🙏🥰
__ADS_1