
Akad nikah Johan dan Amanda telah selesai di laksanakan beberapa jam yang lalu, semua pengurus pernikahan sudah pulang dari kediaman Johan, yang ada tinggal Vani dan keluarganya serta keluarga dari pihak Johan.
Johan dan Amanda juga sudah berganti pakaian mereka dan ikut berkumpul di ruang keluarga
Selama ini Amanda selalu bertanya-tanya siapa itu Amelia yang pernah di katakan mirip dengannya. Tapi sekarang rasa penasarannya terjawab sudah, ia dapat melihat foto wanita yang bernama Amelia tersebut dan Amanda sadar jika wajah mereka sangat mirip.
Tak hanya Amelia yang membuat Amanda penasaran, sosok yang ternyata sangat dicintai Johan pun menjadi pertanyaan Amanda selama ini. Dia pikir Amelia lah yang dicintai Johan, tapi ternyata salah. Wanita yang dicintai Johan adalah Vani, mantan kekasihnya.
Amanda akui sebagai seorang perempuan ia mengagumi kesempurnaan yang ada pada diri wanita bernama Vani tersebut, meski tidak pernah menyombongkan dirinya atau apalah itu, tapi Amanda tidak pernah iri saat melihat wanita lain baik dari segi penampilan atau rupa.
Tapi, sekarang ia dapat merasakan yang namanya iri, iri dalam artian baik bukan buruk. Ia mengagumi sosok yang ada di ruangan yang sama bersama mereka saat ini.
'Dia benar-benar cantik, semua yang ada pada dirinya terlihat cantik, tutur kata yang lembut, wajah anggun yang benar-benar tak bosan untuk di lihat, sikap yang sopan ramah dan murah tersenyum, dia benar-benar mampu menghipnotis semua orang dengan kesederhanaanya!' batin Amanda menatap Vani yang tengah berbincang dengan orang-orang yang ada di sana.
Amanda juga menatap pada pria yang selalu menempel di samping Vani yang ia tau bernama Juna, pria tampan dengan tubuh tegap yang juga terlihat sempurna di matanya. Benar-benar pasangan yang serasi menurut Amanda.
Kekaguman Amanda tak sampai di situ, ia juga merasa kagum melihat kedua anak Vani yang terlihat begitu tampan, sama tampannya dengan Arsen, begitupun anak kedua mereka yang berada dalam gendongan suami Vani. Hanya satu kata yang bisa ia katakan saat melihat Vani dan keluarganya, yaitu Sempurna.
__ADS_1
Harusnya yang menjadi pusat perhatian di sana adalah Amanda selaku mempelai perempuan, namun kehadiran Vani di sana membuat semua perhatian lebih tertuju padanya, Amanda sama sekali tidak merasa iri dengan perhatian yang tertuju pada Vani, karena dia sadar siapa dirinya, hanya saja sebelumnya dia merasa sangat penasaran siapa itu Vani.
Kenapa semua orang menyukainya, termasuk Arsen? Dan kenapa juga pria yang baru saja mengikatnya tak melepas pandanganya dari Vani? Banyak sekali pertanyaan yang ada di kepala Amanda sebelumnya, tapi sekarang dia mulai mengerti.
"Mah, Pah, semuanya. Aku lelah aku permisi ke atas!" ucap Joham mengalihkan fokus semua orang jadi menatapnya.
Setelah mendapatkan persetujuan dari semua orang, Johan pergi dari sana meninggalkan Manda tanpa mengatakan apapun. Johan merasa tak sanggup berada di ruangan yang sama bersama wanita yang ia cintai, namun tak dapat di gapainya karena sosok Juna yang selalu menempel pada Vani.
"Kamu kalau mau istirahat boleh langsung ke atas!" sahut Renata berkata lembut pada Amanda yang tengah memangku putrinya–Neisha.
"Baiklah Mah, aku mau menidurkan Neisha di kamar!" ucap Amanda tersenyum.
"Iya, Van," jawab Amanda tersenyum karena sebelumnya mereka sudah berkenalan.
"Apa setelah itu kita bisa bicara?" tanyanya yang di jawab anggukan oleh Amanda sembari menjawab, "Tentu saja boleh, aku tidurkan Neisha di kamar dulu," ucapnya yang di balas anggukan oleh Vani.
"Kalau begitu aku permisi, semuanya!" ucap Amanda sopan pada semua orang.
__ADS_1
Tak sedikit mereka yang berada di sana menatap Vani dan Amanda. Keduanya sama-sama cantik dan lembut, namun karena mereka lebih dulu mengenal Vani tentu saja tetap Vani yang lebih unggul menurut mereka.
"Bunda, Dilan bilang kalian akan pulang ke Jakarta besok? Apa malam ini Dilan boleh menginap di sini?" tanya Arsen lembut menghampiri Vani.
Satu hal yang tadinya membuat semua orang terkejut terutama Johan.
Selama empat tahun, ia sudah berusaha membuat Arsen lupa akan sosok Vani dan Johan berpikir jika usahanya berhasil, tapi nyatanya tidak. Arsen yang selama ini diam ternyata tetap merasakan kedekatan pada Vani, wanita yang sempat menjaganya, menjadi Bunda angkatnya memberikan kasih sayang padanya sewaktu bayi, Arsen bisa langsung dekat dengan Vani saat Vani baru tiba di sana, dan itu semua menambah keharuan di sana.
"Mas, bagaimana?" tanya Vani pelan pada suaminya.
"Boleh, ya Ayah? Boleh ya?" ucap Arsen meminta pada Juna yang tersenyum menganggukkan kepalanya.
"Hore," ucap Arsen dan Dilan secara bersamaan.
"Tapi Dilan janji tidak boleh nakal," ucap Vani yang diangguki oleh putranya.
"Nanti kita berenang bersama ya? Kita lomba siapa yang lebih hebat," ucap Arsen pada Dilan sembari melangkah pergi dari kumpulan orang-orang dewasa yang ada di sana yang tersenyum menatap keduanya.
__ADS_1
"Mereka seperti anak kembar!" ucap Renata yang di anggukkan oleh semua orang.