
Di saat Arsen dan opa oma nya tengah asik bercanda tawa di ruang keluarga, Johan justru tengah berada di balkon kamarnya menatap langit malam.
Pria tampan berusia tiga puluh lima tahun itu terdiam menatap langit malam, saat rasa rindu lagi dan lagi selalu menghantuinya.
Sekuat apapun ia berusaha, sekeras apapun ia mencoba melupakan dan membuang bayangan Vani, serta menekankan pada hatinya jika Vani tidak akan mungkin lagi bisa ia gapai, tapi hatinya tetap saja mengagungkan nama Vani. Cintanya tetap saja tertuju pada satu nama yang itu Stevani.
Johan menatap sendu pada foto yang sedari tadi berada di tangannya dan ia dekap di dadanya, menatap sebuah foto yang memperlihatkan wajah cantik yang tengah tersenyum di sampingnya.
Johan Kembali teringat hari dimana kehidupannya terasa begitu sangat bahagia bersama Vani. Mendapatkan cinta yang begitu tulus darinya.
__ADS_1
Setiap harinya Johan selalu merasa bahagia dan semangat menjalani hari-harinya saat Vani adalah kekasihnya. Wanita yang selalu memberikan senyum yang indah yang menghiasi hari-harinya. Sejak kehadiran Vani juga, Johan selalu merasa sempurna sebagai seorang pria. Johan juga teringat pada Amelia, jika saja Amelia masih hidup maka mungkin saja perasaannya pada Vani sudah menghilang sebab sebelum Amelia meninggal, Johan sempat berpikir untuk memulai semuanya.
Johan benar-benar menjadi pria yang beruntung saat memiliki Vani dalam hidupnya, namun dengan teganya ia justru menghancurkan hati Vani yang justru selalu memperjuangkan hubungan mereka.
Teringat jelas di benak Johan saat dimana secara terang-terangan dia memberikan luka untuk wanita yang sekarang sangat di cintainya itu, wanita yang terlambat ia perjuangkan ketika dia dengan bodohnya menerima perjodohan dan mengkhianati Vani.
"Kenapa? Kenapa aku begitu bodoh? Kenapa Tuhan? Kenapa kau buat aku begitu bodoh. Agr...!" ucapnya sembari memukul tembok dengan sangat keras membuat punggung tangannya berdarah akibat pukulan yang terus ia lakukan.
Johan jatuh merosot terduduk di lantai, menenggelamkan kepalanya di kedua lututnya. Hatinya begitu sakit setiap mengingat wanita yang di cintainya. Johan ingin sekali melihat Vani mengatakan padanya jika dia masih sangat mencintai Johan, ingin sekali Johan mencurahkan isi hatinya pada Vani, namun ia sudah berjanji pada Vani dan almarhuma istrinya jika dia akan berusaha melupakan Vani, meskipun pada kenyataanya sangatlah sulit.
__ADS_1
Johan ingin sekali bertemu Vani untuk melepaskan rasa rindunya, namun ia sendiri juga tidak sanggup bertemu Vani, tidak sanggup menatap wajah cantik yang sudah ia buat menangis tersebut. Tidak sanggup saat melihat Vani, ia akan teringat dengan semua kebodohannya.
Di tempat yang sama, tanpa Johan sadari jika wanita yang sudah melahirkannya berada tak jauh di belakangnya, ia melihat dan mendengar semua yang di ucapkan putranya.
Renata tak dapat menahan laju air matanya melihat keadaan putranya. Lima tahun berlalu, Renata pikir waktu sudah merubah segalanya dan sudah bisa membuat Johan melupakan semuanya, namun ternyata semua salah. Putranya hanya berpura-pura tegar menutupi keadaan yang sesungguhnya dimana hatinya masih terbelenggu dalam kenangan masa lalu yang menjeratnya.
Renata baru menyadari kebodohannya, wajar saja jika hingga sekarang Johan belum juga membawa satu wanita pun padanya, Renata selalu berpikir jika Johan sangat pemilih, tapi nyatanya, putranya itu masih belum bisa melupakan mantan kekasihnya dan itulah yang menjadi penyebab Johan masih sendiri. Sampai akhirnya ia mengenalkan seorang wanita yang mirip dengan almarhumah istri ga yang terpaksa ia nikahi karena suatu kesalahan.
'Ya Tuhan, Aku mohon padamu, berikanlah kesempatan untuk putraku bahagia, berikanlah kebahagiaan untuk putraku aku mohon!' ucap Renata dalam hati.
__ADS_1