Suamiku Bucin Akut

Suamiku Bucin Akut
Tuduhan


__ADS_3

Disaat semua orang tengah beristirahat setelah sebelumnya menghabiskan waktu dengan berbincang santai. Vani yang melihat suaminya tengah sibuk dengan laptop berpikir untuk menyiapkan makan malam, Vani mulai melakukan tugasnya sebagai seorang istri dengan sangat baik, bukan hanya di ranjang, tapi akan mencoba dalam semua hal.


"Sayang, apa gunanya pelayan disini jika masih saja kamu yang menyiapkan semua ini?" ucap Juna, memeluk Vani dari belakang saat Vani tengah menyajikan hasil masakannya di atas meja.


"Kamu mengejutkanku," ucap Vani menepuk pelan tangan Juna yang memeluknya. "Lepas! Nanti ada yang lihat," ucapnya lagi.


"Biar saja mereka melihat, toh aku memeluk istriku sendiri." Juna semakin mempererat pelukannya.


"Berhentilah menyibukkan diri di dapur seperti ini, aku membayar pelayan agar membantumu mengerjakan semua itu." Juna kembali membahas itu karena Juna jelas keberatan jika istrinya harus melakukan pekerjaan pelayan.


"Aku mau tanya, boleh?" ucap Vani tidak lagi menolak pelukan Juna.


"Apa?"


"Yang menjadi istrimu, aku atau mereka?" tanya Vani yang dapat membuat Juna tersenyum senang mendengar kata istrimu.


"Tentu saja istriku hanya satu dan hanya kamu!" jawab Juna mengecup sebelah pipi Vani dan mengeratkan pelukannya.


"Kalau sudah tau siapa istrimu, kenapa malah minta mereka yang melayanimu?" ucap Vani merasa kesal, karena sejak awal menikah Juna selalu melarangnya melakukan ini dan itu.


"Marah malah makin cantik, aku mencintaimu!" jawab Juna kembali mengecup pipi Vani, setelah itu melepaskan pelukannya.


"Aku bantu ya!" tawar Juna.


"Ini sudah hampir selesai. Sebaiknya kamu tolong panggilkan Aura, Papa dan Mama," ucap Vani yang dianggukki oleh Juna.


Vani merapikan kembali meja makan, lalu mulai menyiapkan piring untuk semua orang.


Beberala saat kemudian, Vani tersenyum menatap suaminya yang kembali menghampirinya dengan anggota keluarga yang lain. "Wah... Ini semua kakak yang masak?" tanya Aura antusias melihat masakan yang terhidang di atas meja.


"Ya, semoga cocok dengan selera kalian," jawab Vani tersenyum sambil mengisi piring Juna.


Selesai dengan Juna, Vani menawarkan mertuanya. "Mama mau yang mana, Ma?" tanyanya.

__ADS_1


Kedua mertua Vani tersenyum melihat sikap menantu mereka yang dianggap begitu baik. Rasa suka mereka kepada Vani semakin bertambah seiring waktunya. "Tidak perlu, sayang. Mama bisa sendiri. Kamu layani saja suamimu," ucap Ajeng menolak.


Beberapa saat kemudian, setelah makan malam. Juna dan Vani kembali menaiki anak tangga menuju kamar mereka, begitu juga yang lainnya.


"Ada apa sayang?" tanya Juna saat Vani akan keluar lagi dari kamar.


"Aku lupa membawa minum. Aku ambil dulu di bawa," ucap Vani berlalu dari hadapan Juna.


Vani yang baru saja akan masuk kedalam ruang makan, kembali menghentikan langkah kakinya saat mendengar beberapa pelayan sedang membicarakannya.


"Kalian sudah tau tentang majikan kita?" ucap seorang pelayan pada pelayan lainnya.


"Tahu apa?" tanya pelayan lainnya.


"Itu, ternyata dia menikahi tuan Juna untuk menutupi kedoknya yang sebenarnya mencintai suami orang! Kasihan tuan Juna hanya dijadikan pelarian." Pelayan pertama yang membuka pembicaraan itu tertawa dalam hatinya melihat respon terkejut pelayan lainnya.


"Benarkah? Pantas saja pernikahan tuan Juna seakan mendadak. Sebelumnya kita tahu sendiri jika Tuan Juna tidak dekat dengan siapapun. Untuk nyonya Vani, aku juga sempat melihat berita tentang dia yang menjadi penyebab keributan di pesta pernikahan seseorang. Selama ini aku pikir itu cuma rumor, tapi setelah mendengar ucapanmu, semua jadi masuk akal. Mungkin benar nyonya kita sebelumnya pelakor, menutupi kedoknya dengan menikah dengan tuan Juna," ucap salah satu pelayan lainnya terdengar semakin menusuk untuk Vani yang mendengarnya.


Ya Tuhan. Apa diluar sana mereka berpikir demikian? Apa aku terlihat memanfaatkan Juna? Batin Vani merasa sedih.


Juna yang merasa Vani tak kunjung kembali ke kamar memutuskan untuk menyusul Vani. Dari kejauhan Juna dapat melihat jika terjadi sesuatu yang tidak baik dengan istrinya, dengan cepat dia menghampiri Vani.


"Sayang, ada a–?" ucapan Juna terpotong saat ia sendiri dapat mendengar jika para pelayan sedang membicarakan istrinya.


Emosi Juna seketika memuncak mendengar semuanya, apalagi saat melihat wajah istrinya yang berubah sendu.


Dengan hati yang sudah memanas dan kemarahannya yang siap meledak, Juna berusaha untuk terlihat tenang dihadapan istrinya, lalu memapah Vani yang masih terdiam menuju kamar mereka.


"Aku tidak pernah memanfaatkan mu untuk menutupi rumor itu karena semua rumor itu tidak benar. Aku tidak pernah sedikitpun ingin merebut suami orang. Awalnya mungkin aku sempat berpikir memanfaatkan mu agar Johan berhenti mengejar ku, tapi sekarang tidak lagi. Aku mencintaimu, kamu percaya padaku, kan?" tanya Vani saat sudah berada di kamar mereka.


Melihat ekspresi dan nada bicara istrinya membuat Juna tak dapat lagi menahan kekesalannya pada pelayan yang sudah berani mengusik ketenangan istrinya.


"Sayang, kamu tunggu disini ya. Biar aku yang ambilkan minum," ucap Juna lembut mengecup sayang pucuk kepala Vani, lalu keluar dari kamar dengan membawa emosinya yang siap untuk diledakkan.

__ADS_1


"Pelayan!" teriak Juna terdengar menggelegar.


Tak hanya pelayan yang dengan cepat berkumpul, adik dan kedua orang tuanya yang kebetulan masih berada di ruang lainnya juga turut berkumpul.


"Ada apa, Juna?" tanya Ajeng–mamanya.


Semua pelayan bertanya-tanya ada apa gerangan yang membuat majikan mereka terlihat marah, namun tidak dengan pelayan yang mulai sadar dengan kesalahannya yang sudah menggosipkan istri majikan mereka.


"Siapa yang sudah berani berbicara buruk tentang istriku?" bentak Juna bertanya, membuat semuanya bergetar ketakutan saling melirik satu sama lain.


"Jawab! Atau kalian semua aku pecat dan aku pastikan kalian tidak akan bisa hidup dengan tenang!" bentak Juna dengan nada semakin meninggi.


"Kak. Ada apa? Apa yang mereka bicarakan?" tanya Aura penasaran.


"Ada yang bisa menjawab?" bentak Juna tajam menatap para pelayan.


"Maaf tuan, saya kira tidak ada yang salah dengan ucapan saya. Semua rumor itu memang ada, nyonya menikah dengan tuan untuk menutupi kedoknya sebagai pelakor. Itu yang dikatakan berita di luar sana," ucap pelayan tanpa rasa takut.


Pelayan itu berani berkata seperti itu karena ternyata dia bekerja sama dengan Amelia yang memang meminta pelayan itu melakukan semua itu. Ya, pelayan itu adalah mata-mata Amelia.


Aura yang mendengar itu merasa geram. Dia dengan cepat mendekat dan menampar pelayan yang sudah berani berkata buruk tentang kakak iparnya.


"Maaf, Tuan! Tolong maafkan kami! Kami berjanji tidak akan mengulanginya lagi!" ucap pelayan lainnya merasa takut melihat amarah keluarga Lakeswara.


"Ma. Usir mereka semua dari sini, karena aku tidak mau melihat keberadaan mereka di rumahku lagi!" ucap Juna menatap mamanya.


"Pergilah ke atas temani Vani, jangan sampai dia turun ke bawah. Mama akan mengurus semuanya," ucap Ajeng tak ingin melihat anaknya gelap mata dengan menghukum langsung para pelayan.


"Aku ingatkan pada kalian semua. Aku dan istriku menikah karena cinta. Bukan istriku yang berniat merusak pernikahan mantannya, tapi justru mantan kekasihnya itu yang masih saja terobsesi dengan istriku. Aku tidak akan diam jika ada yang berani berkata seperti itu lagi tentang istriku! Cam kan itu!" ucap Juna dengan lantang dan tegas tegas, lalu beranjak pergi dari sana.


Setelah Juna menghilang dari sana, semua pelayan mulai berdebat dan saling menyalahkan satu sama lain. Mereka sama-sama tidak terima saat mereka dipecat, kecuali pelayan yang menjadi penyebab utama amarah Juna tersebut. Ajeng yang melihat hal tersebut hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Bersyukurlah karena kalian hanya dipecat! Sekarang kalian boleh bereskan barang-barang kalian dan silahkan pergi dari sini!" titah Ajeng tegas.

__ADS_1


__ADS_2