Suamiku Bucin Akut

Suamiku Bucin Akut
Kapan Kalian Menikah?


__ADS_3

Vani terdiam mencoba mencerna apa yang baru saja didengarnya. Rasa ingin percaya, tetapi rasa ragu itu juga hadir saat Vani merasa terlalu cepat untuk mencintai terlebih mereka bahkan belum tiga bulan bertemu. Jika saja itu cinta pertamanya, Vani merasa mungkin saja itu terjadi, tetapi Vani baru saja patah hati, apa mungkin secepat itu dia mencintai Arjuna?


Tidak. Di sini yang mengatakan cinta adalah dia. Jika seperti yang pernah dia katakan jika aku adalah wanita pertama dalam hidupnya, maka kemungkinan besar apa yang dia katakan benar. Dia mencintaiku. Batin Vani terus saja berdialog sendiri.


"Bagaimana denganmu? Apakah benih itu juga mulai tumbuh di hatimu? Apa kehadiranku bisa menggantikan posisinya?" tanya Arjuna dengan lembut mengusap bibir Vani.


Vani gelagapan mendengar pertanyaan Arjuna. Dia ingin menjawab jika benih itu memang sudah tumbuh di hatinya, tetapi Vani juga ragu. Vani tidak ingin memberi harapan untuk Arjuna sekalipun status hubungan mereka sudah mendekati puncak sebuah hubungan.


Melihat Vani yang tak menjawab pertanyaannya membuat Arjuna berpikir jika dia terlalu percaya diri menganggap Vani mungkin juga sudah menaruh perasaan padanya. Tangan yang tadinya berada di wajah Vani mengusap bibir dan pipi Vani itu perlahan turun, tetapi belum sepenuhnya tangah Arjuna menjauh dari wajah Vani, tanganya kembali terangkat dan ditempelkan ke wajah Vani, oleh Vani yang tersenyum menatapnya.


"Tatap mataku dan lihat ke dalamnya. Bagaimana menurutmu? Aku yakin kamu bisa menemukan sendiri jawabannya," ujar Vani masih terus memberikan senyum terbaiknya.

__ADS_1


Arjuna yang mendengar itu langsung merangkul Vani, membawa Vani masuk ke dalam pelukannya dan berulang kali mengecup sayang dahi Vani sembari kembali mengatakan, 'Aku mencintaimu.'


***


Vani tiba di kantor diantar oleh Arjuna. Keduanya benar-benar terlihat seperti pasangan yang tengah di mabuk cinta. "Boleh aku turun?" tanya Vani melirik tangannya yang masih digenggam oleh Arjuna.


Arjuna mencium tangan Vani, setelah menganggukkan kepala mengizinkan Vani keluar dari mobil.


Vani membuka pintu mobil, keluar dari mobil, lalu melakukan hal yang cukup mengejutkan Arjuna, tetapi membuat hati Arjuna berbunga-bunga setelahnya.


"Ad–"

__ADS_1


Satu kecupan singkat memotong ucapan Arjuna yang terdiam mematung akan aksi mengejutkan Vani. "Jemput aku tepat waktu!" Vani berlari masuk ke area kantornya setelah mengatakan hal itu, meninggalkan Arjuna yang hanya bisa tersenyum senang melihat tingkah Vani.


"Wanitaku sangat menggemaskan," gumam Arjuna sebelum pergi dari sana.


Vani terlihat salah tingkah dan wajahnya terlihat sangat merona, hal itu membuat sebagian orang yang ada di kantornya tersenyum geli sendiri melihat sikap Vani yang seakan bisa mereka tebak.


"Cinta memang luar biasa. Aku merasa hariku jadi lebih berwarna hanya dengan menjadi saksi dari pasangan yang tengah jatuh cinta. Melihat mereka membuat status jombloku meronta-ronta untuk segera menemukan tambatan hati," sindir seseorang dengan nada bercanda, membuat Vani yang sadar sindiran itu ditujukan padanya semakin salah tingkah.


"Jadi, kapan acaranya? Kapan kalian menikah?" tanya pegawai lainnya menatap Vani yang baru akan tiba di meja kerjanya.


"Doakan saja yang terbaik, kak. Undangan akan tiba di tangan kalian jika sudah waktunya," jawab Vani pada temannya sembari tersenyum menatap buket bunga di atas meja kerjanya.

__ADS_1


Vani mengambil bunga itu dan ingin melihat ucapan manis apa yang akan Arjuna tuliskan di kertas kecil yanga ada di sana, tetapi saat melihat sesuatu yang janggal, senyum di wajah Vani menghilang. "Aku sangat merindukanmu. Aku tidak akan pernah melepaskanmu, karena selamanya kamu akan selalu menjadi milikku, aku tidak akan membiarkan pria lain memilikimu. Akulah pria yang paling mencintaimu dan tidak akan ada pria yang bisa mencintaimu lebih besar dariku."


Bunga itu terlepas dengan sendirinya dari tangan Vani. Tubuh Vani menegang dengan wajah yang terlihat pucat. Rasa takut mulai menyelimutinya setelah menyadari bunga itu bukan dari Ajuna melainkan dari Johan, pria yang telah menyakiti, mengkhianati dan meninggalkannya tetapi justru seakan dialah yang telah disakiti.


__ADS_2