Suamiku Bucin Akut

Suamiku Bucin Akut
Johan Kecelakaan


__ADS_3

Tatapan penuh Amarah terlihat dari seorang wanita paruh baya saat melihat kehadiran Vani di depannya.


"Kalian juga disini? Siapa yang sakit?" tanya Rizal balik pada Vani sembari berusaha tenang menutupi perasaan bersalah yang ada di hatinya, terlebih melihat wajah Vani yang begitu mirip dengan Irene–mantan istrinya.


"Om, siapa yang sakit?" tanya Vani mengulang pertanyaannya.


"Johan. Dia yang terbaring sakit di sini, dan sudah satu minggu. Kamu senang bukan?" ucap Renata sinis.


"Johan?" tanya Vani yang terkejut dengan ucapan Renat pasalnya seminggu yang lalu ia masih melihatnya.


"Sakit apa?" tanya Vani terlihat cemas bertanya pada Renata, membuat Juna yang melihat merasa tertusuk hatinya saat istri yang dicintainya, terlihat mengkhawatirkan pria lain yang merupakan mantan kekasihnya.


"Kamu bisa lihat sendiri, bahkan dia sudah satu minggu ini belum juga sadar. Semua karenamu," ucap Renata dengan air mata yang mulai menetes.


"Om, Johan sakit apa?" tanya Vani mengabaikan Renata yang menangis dengan tatapan kebencian padanya.


"Dia kecelakaan," jawab Rizal.


"Kecelakaan, kapan?" ulang Vani kembali bertanya, tanpa menyadari suaminya yang hanya bisa terdiam menahan sesak di dadanya melihat Vani.


"Satu minggu yang lalu Johan mengalami kecelakaan lalu lintas, hingga membuatnya koma sampai saat ini, dari yang dikatakan Dokter cedera yang cukup serius di bagian kepalanya lah yang membuat Johan belum sadar sampai sekarang!" jawab Rizal membuat Vani merasa lemas mendengarnya.

__ADS_1


Dibalik karena merasa iba pada pria yang pernah menjadi kekasihnya itu, Vani juga merasa bersalah karena berpikir jika dirinyalah yang menyebabkan Johan kecelakaan.


Jika benar kejadiaannya terjadi satu minggu yang lalu, sudah bisa ia pastikan jika dirinyalah penyebab kecelakaan tersebut. Vani masih mengingat jelas bagaimana terlukanya Johan saat melihat kebahagiaannya bersama Juna di restoran saat itu. Kebahagiaan yang ia perlihatkan, pastinya membuat Johan begitu hancur.


"Apa ini semua karena aku?" tanya Vani dengan raut kesedihan serta penyesalan yang ada dihatinya.


"Tidak, ini semua tidak ada hubungannya denganmu!" jawab Rizal coba lenih tenang.


"Tentu saja semua karenamu!" teriak Renata.


"Bu, Pak. Tolong jangan berisik," tegur seorang perawat mendengar suara Renata yang kencang.


Renata yang mendengar itu memilih pergi sebelum emosinya semakin meledak.


Apa dia masih ada didalam hatimu hingga kamu begitu mengkhawatirkan keadaanya seperti ini, sayang? batin Juna bertanya-tanya, saat mereka sudah berada di ruangan dimana Vani saat ini masih terbaring tak sadarkan diri.


Rizal yang sedari tadi melihat kebungkaman Juna, tentu saja mengerti apa yang dirasakan dan dipikirkan Juna. Rizal merasa sudah cukup kesalahan yang pernah dia buat, untuk itu dia tidak ingin kesalahpahaman terjadi antara Vani dan Juna.


"Juna. Maaf atas sikap istriku. Tolong jangan salah paham. Vani dan Johan sudah saling mengenal cukup lama. Mereka pernah 3 tahun bersama dan mungkin kamu tahu bagaimana hubungan keduanya dulu, jadi wajar saja jika Vani terkejut mendengar berita ini. Saya harap kamu dapat mengerti dan tidak salah paham atas apa yang terjadi," ujar Rizal berusaha untuk lebih bijak.


"Maaf, apa kalian sudah mengetahui tentang kehamilan pasien?" tanya dokter yang sedang memeriksa Vani.

__ADS_1


"Vani hamil?" tanya Rizal mengulang pertanyaan dokter menatap Juna.


"Benar, istriku sedang mengandung! Kami datang kemari untuk memeriksa kehamilannya," jawab Juna senang namun tertutup dengan kegundahan hatinya.


"Selamat untuk kalian," ucap Rizal tulus mengatakannya.


"Jika kalian baru saja menemui Dokter kandungan, pastinya ia sudah menjelaskan apa saja yang rentan terhadap ibu hamil. Pasien pingsan karena beban pikiran yang dialaminya. Untuk itu saya juga ingin mengatakan, tolong jangan membuat pasien stres karena itu tidak baik untuk janinnya!" terang sang Dokter yang memeriksa Vani.


Seperti yang dikatakan Dokter jika Vani akan segera sadar ternyata benar, perlahan mata yang terpejam itu mulai terbuka.


Vani menatap heran pada semua orang, saat menyadari dirinya yang terbaring di ranjang pasien.


"Mas?" ucap Vani, menatap suaminya yang masih terdiam menunduk duduk di sofa.


Juna yang mendengar suara istrinya, mengangkat kepalanya menatap Vani yang masih menatap sendu padanya. Juna bangkit berdiri menghampiri Vani.


"Kamu baik-baik saja? Apa ada yang kamu inginkan, sayang? Kamu haus?" tanya Juna, masih berusaha menahan sesak di dadanya.


"Tidak mas, aku baik-baik saja. Aku hanya terkejut dan merasa bersalah atas apa yang menimpa Johan. Tolong jangan salah paham. Maaf jika sikapku menyakiti perasaanmu," jawab Vani.


"Aku hanya mencintaimu. Aku ingin kamu tetap berada di sisiku, dan jangan pernah tinggalkan aku," sambung Vani yang berhasil menerbitkan senyum di wajah Juna. Bukan hanya Juna yang senang mendengar ucapan Vani, Rizal juga merasa senang saat Vani dengan cepat mengerti apa yang dirasakan oleh suaminya.

__ADS_1


Mereka terlihat saling mencintai. Tidak ada harapan untukmu, Jo. Papa harap kamu bisa menerima semua itu. Batin Rizal.


"Tentu sayang, tentu saja aku akan selalu di sampingmu. Menjagamu, dan anak kita!" jawab Juna, mengecup sayang kening Vani.


__ADS_2