Suamiku Bucin Akut

Suamiku Bucin Akut
Mengkhawatirkan Manda


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu, dan selama itu juga Amanda dan Neisha berada di Jakarta, berbeda dengan Johan dan Arsenio yang sudah kembali ke Semarang dan akan datang ke Jakarta setiap hari jum'at hingga minggu saat Arsenio selesai dengan sekolahnya.


"Kamu akan pergi lagi?" tanya Renata pada Amanda yang terlihat tengah bersiap-siap di kamarnya di temani oleh Neisha yang tengah bermain sendiri.


"Iya Mah, aku akan terus mencoba hingga aku bisa bertemu dan berbicara padanya," jawab Manda. "Maaf lagi-lagi aku titip Neisha ya, Ma?" sambungnya lagi.


"Johan tidak ada bersamamu, kamu yakin akan pergi sendiri?" tanya Renata yang dijawab anggukkan oleh Manda.


"Berhentilah menyakiti dan menyusahkan dirimu sendiri, Nda. Lupakan dia, dan pulanglah pada mereka yang jelas menunggumu," pinta Renata yang merasa iba dengan perjuangan Amanda.


"Ma, aku hanya akan berhenti setelah aku bertemu dengannya dan dapat menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, aku sangat yakin banyak sekali kesalahpahaman disini. Aku hanya ingin semua ibi berjalan sebagaimana mestinya dengan cara yang benar. Aku tidak ingin hidup dengan rasa penasaran dan tak tenang," ucap Amanda membuat Renata tak dapat lagi membantahnya jika itu sudah keinginan Manda, ia hanya bisa mendoakan agar semua cepat terselesaikan.


"Baiklah, pergilah. Hati-hati," ucap Renata melepaskan Manda pergi setelah Manda berpamitan pada Neisha–putrinya.


***


Johan yang tengah mengadakan rapat, teralihkan saat mendengar ponselnya berdering. Rani–sekretarisnya dan beberapa orang yang ada di ruang rapat turut menatap ke arah ponsel Johan. Nama mamanya tertera di sana, Johan seketika pamit kepada semua yang hadir di rapat dan meminta Rani untuk melanjutkannya.

__ADS_1


Sesaat setelah Manda pergi, Renata langsung menghubungi Johan dan Johan langsung menjawab setelah berada di ruangannya. "Assalamualaikum... Halo, Ma."


"Waalaikumsalam..." Renata menjawab.


"Ada apa, Ma? Apa ada perkembangan?" tanya Johan yang sesungguhnya tak pernah bisa tenang meninggalkan manda di Jakarta, tetapi dia juga harus bekerja dan Arsenio harus bersekolah.


"Manda pergi ke sana!"


"Apa?" Johan menjadi panik mendengar ucapan Renata.


"Mama tidak bisa menahannya, Jo. Karena itu mama langsung menghubungimu," ucap Renata merasa bersalah.


"Ma, jika bertemu, mereka bisa saja menyakiti istriku." Diseberang telepon, Renata tersenyum mendengar kekhawatiran putranya pada menantunya.


"Kenapa juga Manda pergi sendiri. Aku sudah bilang aku akan selalu menemaninya, tetapi saat aku tidak ada cukup memantau dari rumah," ucap Johan jelas terdengar begitu gelisah.


"Ma, aku tutup dulu, aku harus melakukan sesuatu! Assalamualaikum...." Johan langsung menutup telepon tanpa menunggu jawaban dari Renata.

__ADS_1


"Waalaikumsalam...." Renata kembali tersenyum menatap ponselnya setelah panggilan berakhir. Keyakinan Renata akan hubungan Johan dan Manda menjadi lebih baik semakin bertambah setiap harinya melihat sikap keduanya yang sama-sama saling peduli meski dengan cara mereka sendiri.


Renata teringat akan beberapa momen manis yang membuatnya senang. Seperti Manda yang setiap pagi selalu menghubungi Johan hanya untuk menanyakan kabar Johan dan Arsenio, serta mengatur pakaian dan hal kecil lainnya untuk Arsen dan Johan meski hanya lewat panggilan video. Manda berusaha melakukan tugasnya sebagai istri dan ibu meski dari jauh. Tak hanya Manda. Johan juga setiap malam selalu menghubungi Manda hanya untuk bertanya kabar Manda dan Neisha, hal sederhana tetapi terlihat indah bagi mereka yang melihatnya.


"Mama berharap kalian menjadi keluarga yang utuh, bahagia bersama selamanya," ucap Renata.


Kembali pada Johan. Johan terlihat tak sabar menunggu panggilan telepon yang dia tujukan pada seseorang yang tak kunjung mendapat jawaban. "Halo, apa yang kau lakukan hingga tak menjawab teleponku!" bentak Johan kesal.


"Maaf, tuan. Saya baru dari toilet!" jawab seorang pria di seberang sana.


"Istriku baru saja pergi menuju rumah Alan. Cepat ikuti dia dan pastikan keselamatan istriku, jangan biarkan siapa pun menyakitinya. Jika sedikit saja aku tahu istriku terluka, maka aku akan melakukan berkali lipat padamu!" titah Johan tanpa basa-basi terdengar tegas pada pria suruhannya.


"Baik, Tuan. Kami akan segera ke sana!" jawab pria itu.


Johan yang tak bisa tenang membiarkan Manda bergerak sendiri, tanpa menunda dan berpikir panjang langsung memesan tiket pesawat menuju Jakarta, Johan melihat jam dipergelangan tangannya, setelah itu bergegas menjemput Arsenio di sekolahnya.


"Kenapa kamu harus pergi sendiri, Nda?" gumam Johan mengusap gusar wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2