Suamiku Bucin Akut

Suamiku Bucin Akut
Merindukan Mama


__ADS_3

Sebagai seorang pebisnis sukses, tentu saja Johan tak menunda untuk membayar semua biaya sekolah Arsen, hingga selesai. Johan juga menyumbangkan tak sedikit nominal kepada sekolah yang akan menjadi tempat belajar anaknya itu.


Selesai dengan prosedur pendaftaran, Johan meminta Yuli untuk memperkenalkan semua ruangan dan fasilitas yang ada di sana padanya terutama pada Arsen, dan tentu saja Yuli menyetujuinya.


"Ini TK B, Pak. Dimana Arsen akan bergabung dengan mereka, ada tiga kelas untuk TK B, masing-masing kurang lebih berjumlah tiga puluh anak!" Yuli menunjuk satu persatu TK B yang di maksudnya.


"Aku mau yang ini," ucap Arsen menghentikan langkahnya. Arsen berhenti di depan sebuah ruangan yang memperlihatkan seseorang dari celah pintu yang terbuka, seorang wanita tengah tersenyum riang mengajar anak didiknya dan itu membuat Arsen ikut tersenyum melihatnya.


Johan terkejut dengan permintaan Arsen, tak biasanya Arsen meminta seperti itu, tapi kali ini dia sendiri yang memilih ingin masuk di kelas mana, dan itu merupakan sesuatu kemajuan menurut Johan.


"Apa bisa Arsen bergabung dengan teman-teman dari kelas ini?" tanya Johan pada Yuli.


"Kelas Bunda, Amanda. Tentu saja bisa!" jawab Yuli menyetujui permintaan Johan.

__ADS_1


"Namanya Amanda?" beo Arsen masih menatap ke arah wanita yang tengah mengajar tersebut.


Beberapa saat kemudian, wanita yang berada di dalam ruangan, wanita yang bernama Amanda tersebut menoleh ke samping dan membuat pandangan mereka bertemu. Manda tersenyum menatap Arsen, lalu kembali menatap anak didiknya, memberikan tugas kepada mereka, setelah itu melangkah keluar menghampiri anak yang masih berdiri di depan pintu memperhatikannya.


"Hai, sayang. Siapa namamu?" ucap Amanda menundukkan sedikit tubuhnya, tersenyum mengusap kepala Arsen yang tersenyum di buatnya.


Johan yang berada di belakang Manda menatap tak percaya saat melihat untuk pertama kalinya Arsen tersenyum ketika seseorang mengusap kepalanya.


"Aku Arsen, Bunda," ucap Arsen kembali tersenyum cerah menatap calon guru barunya itu.


"Hemm..., Bunda Amanda. Ini Arsen dan ini Pak Johan–Papanya. Mulai Minggu depan Arsen akan bergabung bersama kita di sini, dan akan bergabung bersama anak didik Bunda Manda!" sahut Yuli menghampiri Amanda yang baru menyadari keberadaan Yuli dan Johan.


Amanda memutar tubuhnya menatap sosok bernama Johan yang di katakan oleh Yuli, saat manik keduanya bertemu, baik Johan dan Manda sama-sama terdiam dengan pikiran mereka masing-masing.

__ADS_1


"Amelia," gumam Johan tak mengalihkan sedikitpun tatapannya dari Amanda.


"Hah? Maaf Pak Johan. Amanda, bukan Amelia." Yuli yang juga mendengarkan nama yang disebut oleh Johan mengkoreksinya.


Tatapan Johan beralih dari Amanda ke Arsen yang terus saja menatap ke arah Amanda dengan raut wajah yang terlihat bahagia, perasaan Johan menghangat melihat senyum putranya tersebut.


"Permisi Pak, Bu. Mereka bertengkar!" Amanda bergegas masuk kembali ke ruang kelas saat mendengar suara kegaduhan di dalam sana. Yuli yang juga melihat itu tak berniat mencegahnya.


"Ayo, Pak, Arsen, kita lihat yang lainnya!" ajak Yuli menyadarkan kedua pria itu yang masih menatap ke arah Amanda.


Johan terlebih dulu sadar, Johan menggandeng tangan putranya, tapi Arsen melepaskannya. "Cukup, Pah. Aku tidak ingin melihat yang lainnya, aku ingin segera bersekolah di sini," ucap Arsen dengan tegas tetapi tatapannya masih tertuju pada Amanda.


"Kamu yakin?" tanya Johan.

__ADS_1


"Aku ingin kelas ini." Hanya itu tanggapan Arsen yang masih terus menatap Amanda yang tengah berusaha menenangkan murid-muridnya.


Mama, aku merindukan Mama. Batin Arsenio.


__ADS_2