
Amanda tiba di tujuannya. Tujuan Amanda adalah Vani, dia berpikir Vani adalah tempat terbaik untuknya bercerita. Menceritakan keluh kesahnya pada Vani. Amanda pernah merasakan ketenangan saat berbicara pada Vani, untuk itu dia datang menemui Vani. Wanita yang baru di kenalnya, namun membuatnya merasa nyaman dekat dengannya.
"Silahkan masuk, Nona Amanda!" sambut pelayan pada Amanda saat pintu di buka.
"Terima kasih, Bi. Vani-nya ada?" tanya Amanda sopan pada pelayan.
"Nyonya Vani ada di atas. Masuklah, saya akan panggilkan!" ucap pelayan lagi yang di anggukkan setuju oleh Amanda yang mulai melangkah masuk menuju ruang tamu yang ada di sana, mengikuti langkah pelayan membawanya.
Beberapa saat kemudian, setelah menyajikan minum serta camilan untuk Manda, pelayan pamit untuk naik ke atas memanggil majikanya.
Pelayan mengetuk pintu kamar Vani.
"Iya, Bi. Ada apa?" sahut Vani keluar dari kamar lainya yang berada di samping kamarnya.
Pelayan tersenyum menghampiri Vani. "Di bawah ada Nona Amanda, dia ingin bertemu Anda!" seru pelayan pada Vani.
"Baiklah, Bi. Bibi tolong jaga Dara, ya! Dia baru saja tidur," pinta Vani pada pelayan yang menjawab patuh dengan anggukan kepala.
Vani melangkah menuruni anak tangga, dari kejauhan dapat ia lihat jika Amanda terlihat murung, dan itu sedikit membuatnya bertanya-tanya.
"Hai, Mbak!" sapa Vani tersenyum ramah pada Amanda yang langsung tersadar dari lamunannya saat Vani menyapanya.
"Hai, Van." balasnya bangkit berdiri lalu memeluk Vani, sekilas.
"Kamu sibuk? Apa aku mengganggumu?" tanya Amanda setelah keduanya kembali duduk.
__ADS_1
"Tidak, Mbak. Aku baru saja menidurkan Dara. Neisha mana? Kenapa tidak di bawa?" tanya Vani.
"Neisha tinggal di rumah bersama Mama," jawab Manda. "Aku kemari karena aku butuh teman untuk bicara, Van. Aku ingin bercerita padamu," sambung Amanda menyampaikan maksud tujuannya ke sana.
Vani yang melihat gelagat Manda, mengerti jika sudah terjadi sesuatu padanya. "Aku senang mendengar Mbak menjadikan aku sebagai tujuan untuk bercerita." Vani tersenyum tulus mengatakannya.
"Kita ke taman saja ya mbak, lebih tenang!" ajaknya pada Amanda yang menyetujuinya, lalu Vani lebih dulu bangkit dari duduknya, diikuti oleh Amanda yang mengekor di belakangnya.
"Van. Apa aku salah jika aku mencintai Mas Alan?" tanya Amanda mulai bicara saat mereka sudah berada di taman.
"Mbak, tidak ada yang salah dengan yang namanya cinta, karena rasa cinta itu datangnya dari hati," jawab Vani tenang.
"Sejak bertemu dengannya aku begitu mencintainya, aku menjaga cintaku untuknya, tapi kenapa dia justru menyakitiku? Dia bersama wanita lain di saat aku jelas-jelas menunggunya," ucap Amanda mulai berkaca-kaca.
Vani tak lagi terkejut mendengar Amanda mengatakan mencintai pria lain yang merupakan mantan suaminya yang sebelumnya di duga telah meninggal. Renata sudah menceritakan apa yang terjadi pada Amanda.
Awalnya Vani merasa sangat di sayangkan jika semuanya terjadi, tapi mengingat apa yang terjadi di antara Manda dan Alan serta hubungan Manda dan Johan, Vani akhirnya hanya bisa mendoakan agar mereka bisa menyelesaikan semua masalah dan menjalani kehidupan yang lebih baik lagi, terutama untuk Johan dan Manda, pria yang pernah ada di hatinya. Vani sangat berharap jika Johan dan Manda hidup bahagia sebab meski Manda belum mengakuinya, tetapi Vani tahu tidak mungkin Manda tidak menaruh rasa pada Johan.
"Aku sangat mencintainya Van.. cinta ini juga sangat menyakitiku," ucap Amanda tak dapat lagi menahan air matanya untuk keluar.
Vani terdiam. Ucapan Amanda mengingatkan ia pada masa lalunya, di mana ia begitu mencintai Johan. Mencintai pria yang justru menikahi wanita lain. Vani sangat mengerti apa yang Amanda rasakan karena yang namanya cinta dan luka, sudah lebih dulu ia rasakan sebagai pelajaran dalam hidupnya.
"Kenapa dia berubah? Kenapa dia dengan mudahnya menjalin hubungan dengan wanita lain, di saat ada aku yang begitu sangat mencintainya?" ucap Amanda lagi.
"Mbak sudah bertemu dengannya?" tanya Vani yang di anggukkan oleh Amanda.
__ADS_1
"Setelah beberapa minggu ini aku mencoba menemuinya tapi tak pernah berhasil. Hari ini aku berpikir Tuhan menyayangiku, dengan mempertemukan aku dengannya. Tapi ternyata aku salah, Tuhan justru mempermainkan ku, dia sudah bersama wanita lain, dan dia mengakui semuanya, dia mengatakan semua hal yang buruk tentangku, dia menghinaku sama seperti yang keluarganya lakukan padaku. Dia sungguh menyakitiku. Dia tidak mencintaiku, seperti aku mencintainya, Van...," ucap Amanda di sela isak tangisnya.
"Mbak. Cinta tak selamanya akan dibalas dengan perasaan yang sama dan tidak ada juga orang yang ingin jatuh cinta pada seseorang yang tidak mencintai kita. Lebih baik ikhlaskan dari pada memaksa seseorang yang tak mencintai kita, karena hanya akan menyakiti diri sendiri jika terus mencintai dia yang tak mencintai kita.
Berhentilah berharap kepada seseorang yang tidak lagi memiliki perasaan pada Mbak. Berusahalah untuk tidak mencintai orang yang salah walau aku tau tidak akan mudah melakukannya, karena semakin tidak berusaha maka Mbak akan semakin terluka, jadi cobalah untuk melupakan.
Melupakan seseorang yang membuat Mbak merasa sakit dan terluka hanya karena mencintainya." Dengan begitu lembut Vani menjawab apa yang bisa ia katakan untuk Amanda.
"Cobalah untuk mencintai, menghargai diri dan hati Mbak sendiri. Dengan Mbak bersedih, orang-orang yang ada di sekitar Mbak juga akan bersedih. Ikhlaskan dia jika benar dia tidak lagi mencintai, Mbak. Yakinlah akan ada pria yang tulus mencintai Mbak."
Ucapan Vani membuat tangis Manda seketika berhenti saat ucapan Vani membuatnya teringat akan Johan. Pria yang telah menjadi suaminya.
"Van, apa aku melakukan kesalahan? Apa Johan akan membenciku?" tanya Manda.
Vani yang mendengar itu berusaha menahan senyumnya, dalam hati Vani sangat yakin jika perasaan antara Johan dan Amanda sudah tumbuh. Hanya saja mereka belum menyadari atau belum ingin mengakuinya.
Jika Amanda tidak mencintai Johan, Manda tidak mungkin memikirkan Johan.
"Jujur saja mbak melakukan kesalahan menurutku, karena apa? Karena mbak adalah istri Johan, jadi tidak pantas jika mbak membahas pria lain. Namun, aku sangat mengenal Johan, dia tidak akan marah apalagi membenci mbak Manda. Dia menyayangimu, Mbak. Percaya padaku," ucap Vani membuat wajah Manda merona mendengarnya.
Disaat keduanya tengah berbicara, pelayan datang menghampiri mereka. "Ada apa Bi?" tanya Vani.
"Itu, Nyonya. Di luar ada tuan Johan," ucap pelayan terdengar gugup.
Manda terkejut mendengar itu, tapi tidak dengan Vani yang tersenyum menatap Manda. "Ucapanku benar, Mbak. Dia menyayangimu, lihatlah dia yang seharunya di Semarang bisa ada di sini saat ini," ucap Vani menggandeng tangan Manda untuk keluar menemui Johan.
__ADS_1