Suamiku Bucin Akut

Suamiku Bucin Akut
Tak Pernah Lelah


__ADS_3

Disaat hampir semua orang telah memulai aktivitas sehari-hari mereka, tetapi semua itu tidak dengan sepasang pengantin baru yang masih saja memejamkan mata mereka, terlelap dalam mimpi indah.


Arjuna dan Vani baru memejamkan mata mereka beberapa jam yang lalu, tepatnya setelah pergulatan yang memberikan sensasi kenikmatan itu selesai. Bukan hanya sekali, keduanya melakukan semua itu berulang kali, meski awalnya Arjuna ragu untuk terus menyerang Vani mengingat ini menjadi pengalaman pertama mereka.


Pasangan yang sekarang mendapat gelar bucin di keluarga mereka itu, sudah melewati apa yang dikatakan sebagai malam pertama, dan keduanya sudah mempunyai kenangan terindah yang mereka ciptakan dimalam pertama mereka yang tidak akan mungkin mereka lupakan.


Tempat tidur yang awalnya terlihat begitu rapi dan indah dengan semua dekorasi malam pengantin baru, sekarang terlihat berbanding terbalik dari apa yang sebelumnya ada. Ranjang yang indah itu, sekarang menjadi sebuah tempat tidur yang begitu berantakan akibat ulah kedua pasangan yang semalaman terus mencari kepuasan.


Entah apa saja yang sudah mereka lakukan, dan berapa lama tepatnya berlangsung, hanya mereka berdua lah yang tahu, dan merasakannya.


Keduanya masih terlelap dengan tubuh polos mereka yang hanya ditutupi dengan sebuah selimut tebal. Pergulatan yang cukup menguras tenaga tapi memberikan hasil kenikmatan yang luar biasa itu berhasil membuat keduanya tumbang hingga keduanya masih terlelap sampai saat ini.


Terlihat betul jika kedua insan yang sedang terlelap dengan tubuh polos yang saling menempel itu, begitu kelelahan setelah olahraga yang mereka lakukan semalam.


Juna perlahan terbangun dari tidurnya. Pria itu merasakan kebas pada tangannya yang dijadikan bantal oleh Vani. Bukannya berusaha menggerakkan tangannya, Arjuna justru tersenyum menatap wanita yang sekarang telah sah secara resmi dan agama menjadi wanitanya itu.


Kebahagian begitu besar dirasakan oleh Juna, kebahagiaan yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata betapa bahagianya Juna memiliki Vani dalam hidupnya.


Semua keinginannya seakan sudah terpenuhi setelah memiliki Vani, hidupnya menjadi sempurna setelah bersama Vani. Sekarang tak ada lagi dinding antara mereka. Juna dapat selalu melihat Vani disaat ia bangun dan sebelum tidur.


Rasa kebas pada lengannya seolah menghilang, saat melihat wanita cantik yang di cintainya tengah berada dalam dekapannya.

__ADS_1


"Aku sangat mencintaimu, istriku, aku begitu bersyukur bisa menjadi suamimu. Aku akan memberikan semua yang terbaik untukmu, istriku. Terima kasih sudah menerimaku sebagai suamimu," ucap Juna mengecup sayang pucuk kepala Vani dan mengecup seluruh wajahnya membuat Vani yang sedang terlelap merasa terusik.


Vani yang merasa terusik dengan kejahilan Juna memutar posisi tidurnya hingga membelakangi Juna yang tanpa sadar mendesah saat kulit mulus Vani menyentuh senjatanya, yang seketika berdiri mendapat sentuhan dari Vani yang saat ini membelakangi Juna.


Apa aku jadi benar-benar mesum seperti ini? Sedikit saja adik kecilku akan bangkit. Batin Juna.


Dengan nafsu yang kembali hadir, membuat Juna dengan santainya mulai memeluk tubuh Vani dari belakang, dan menempelkan senjatanya dibalik selimut itu, pada bagian tubuh belakang Vani.


Tangan yang awalnya hanya memeluk perlahan mulai menjalar menyentuh dan memainkan bongkahan padat milik Vani. Meremasnya begitu lembut dan mengusapnya. Kecupan demi kecupan terus Juna layangkan leher dan pundak Vani. Berharap agar Vani bangun dan merespon sentuhannya.


Vani yang masih setia memejamkan matanya jelas menyadari tingkah jahil suaminya. Ia dengan cepat menahan tangan Arjuna yang perlahan meremas bongkahan padat di dadanya. Masih dengan tangannya yang menahan pergerakan Juna, Vani menoleh bermaksud untuk menegur Juna namun Juna dengan cepat menyatukan bibir mereka saat Vani baru akan membuka mulutnya.


Masih dengan bibir yang terus bermain, mengecap dan lidah yang saling membelit. Juna memutar perlahan tubuh Vani agar menghadap padannya.


"Selamat pagi, suamiku." balas Vani mengusap lembut wajah pria yang terlihat begitu mencintainya itu.


"Sayang, apa kamu bahagia bersamaku?" tanya Juna mengelus punggung Vani yang saat ini kembali memeluk Juna menempelkan kepalanya di dada Juna.


"Tentu saja aku bahagia. Bagaimana denganmu?" Vani membalikan pertanyaan pada Juna.


"Tentu aku juga sangat-sangat bahagia, sayang. Aku begitu bahagia bisa memilikimu sebagai istriku. Aku begitu bahagia bisa hidup bersamamu dan aku begitu beruntung karena memilikimu. Terima kasih sudah hadir dalam hidupku!" jawab Juna mengeratkan pelukannya, membuat kedua bongkahan padat milik Vani begitu terasa menempel di tubuhnya.

__ADS_1


Juna berulang kali menelan salivanya, saat hasratnya kembali menggebu. Rasa ingin memasuki dan bermain itu kembali datang menyelimutinya saat ini.


Tangan yang semula mengelus punggung Vani, kembali bergerak meremas sebelah bongkahan tersebut.


"Aku tidak ingin mengucap janji seperti kebanyakan pria di luar sana. Namun aku akan berusaha membuktikan untuk selalu membahagiakanmu sayang, aku begitu mencintaimu, apapun akan aku lakukan untuk kebahagiaanmu! Jika aku salah, tolong tegur aku. Jika ada yang kamu tidak sukai dariku tolong katakan padaku," ucap Juna dengan tangan yang terus meremas bongkahan tersebut, membuat Vani merasa geli.


"Cukup! Jangan berpikir untuk itu, ini masih perih," ucap Vani pelan menahan tangan Juna yang terus memainkan sebelah bongkahan miliknya.


"Apa aku terlalu egois? Aku berusaha menahannya tetapi ini selalu saja bangkit," ucap Juna berusaha berhenti tetapi Vani justru tersenyum.


Vani mengangkat kepalanya menatap Juna yang sudah dipenuhi dengan nafsunya. Menatap wajah cantik Istrinya, membuat sesuatu yang berada di bawah sana, sesuatu yang sedari tadi berusaha ditahan olehnya, semakin memberontak meminta untuk masuk ke dalam sarangnya.


Melihat senyum Vani. Tangan-tangan jahil milik Juna kembali bermain ditubuh Vani, memberikan kenikmatan dan pancingan agar Vani kembali terhanyut dengan aksinya, saat Vani mulai terhanyut dengan permainannya, Juna semakin bergerak liar.


"Apa kamu tidak merasa lelah?" tanya Vani dengan nafas memburu saat Juna berhenti menciumnya.


"Menurutku. Saat kita menyukai sesuatu, kita tidak akan merasa bosan. Saat kita menyukai sesuatu maka tidak akan ada kata lelah," ucap Vani mengecup tiap bagian tubuh Vani yang diartikan sebagai bagian kesukaannya.


"Tidak ada kata lelah untuk melayani Istri tercintaku, dan tidak ada yang namanya lelah jika itu aku lakukan bersama istriku. Aku sangat mencintaimu!" sambung Juna, dengan cepat kembali menyatukan bibir mereka dengan bagian tubuh bawahnya yang juga mulai bergerak menuju masuk kedalam sarangnya. Kegiatan yang baru beberapa jam yang lalu selesai terjadi itu, kembali terulang seolah-olah keduanya tidak merasakan lelah ataupun bosan melakukannya.


******* dan erangan dari bibir keduanya kembali terdengar di dalam kamar tersebut, meski ragu, Juna mulai mencoba mengubah dari satu gerakan mencoba ke gerakan lainnya, dan Juna merasa senang saat Vani tak menolaknya tetapi justru mencoba mengikuti dan menikmati permainannya.

__ADS_1


Posisi yang awalnya Vani berada di bawahnya itu telah berubah menjadi menyamping, Juna bergerak sama liarnya bagaimanapun posisi mereka, memperlihatkan bertapa gagah dan kuatnya dia dalam memuaskan istrinya.


Keduanya terus berpacu untuk saling memberikan kenikmatan bersamaan dengan suara racauan keduanya yang mengiringi pergerakan mereka, hingga akhirnya secara bersamaan mereka sampai pada pelepasan, dan keduanya kembali terlelap dengan tubuh yang dipenuhi dengan peluh usai percintaan keduanya di pagi hari menjelang siang itu.


__ADS_2