Suamiku Bucin Akut

Suamiku Bucin Akut
Akan Coba Membicarakannya


__ADS_3

Vani yang awalnya meminta Juna menemaninya untuk keluar, mengurungkan niatnya. Kehadiran Johan dan Amelia hari ini membuat perasaan. Vani benar-benar lega. Terlebih setelah Johan datang dengan begitu berani mengakui kesalahannya dan berkata akan berubah. Vani sangat berharap Johan menepati kata-katanya.


"Aku senang bertemu Johan hari ini," ucap Vani yang justru membuat Juna kesal mendengarnya.


"Apa maksudmu?" tanyanya.


"Dia berani datang mengakui kesalahan dan berjanji akan berubah. Itu benar-benar sikap yang baik," jawab Vani jujur, tapi pujiannya justru semakin membuat Juna cemburu.


"Biasa saja. Dia seperti itu karena dia tahu dia tidak akan menang melawanku. Tidak akan ada pria yang bisa merebut istriku dariku. Jangan memujinya! Aku pria terbaik dalam hidupmu," ucap Juna sinis.


'Semakin hari dia semakin berlebihan, tapi entah kenapa aku semakin bahagia karenanya. Apa ini karena kehamilanku?' batin Vani bertanya dalam hatinya.


"Sayang. Kamu baik-baik saja?" tanya Juna saat istrinya diam. Juna cemas Vani masih kepikiran atas semua yang terjadi hari ini, terutama pertemuannya dengan Johan.


"Aku baik-baik saja mas, bahkan hari ini hari yang sangat baik menurutku! Aku senang jika pada akhirnya Johan bisa menerima semua ini," ulang Vani sembari bersandar di bahu suaminya.


"Mas, apa kamu akan melarang ku memberi perhatian pada anak mereka?" tanya Vani kembali mengangkat kepalanya menatap serius pada Juna.


Juna yang mendengar pertanyaan Vani langsung menatap Vani, dengan tatapan yang mungkin hanya ia sendiri yang mengerti maksud dari tatapannya.


"Mas, kamu marah?" ulang Vani bertanya.

__ADS_1


"Sayang. Jujur saja sebenarnya aku tidak ingin kamu memberikan perhatian kepada siapapun selain padaku dan anak kita. Apa lagi dia anak dari mantan kekasihmu, aku tidak ingin kehadirannya malah membuat renggang hubungan kita dan malah membuatmu kembali dekat dengan Johan. Aku juga tidak ingin nantinya putra kita merasa jika kamu membagi kasih sayangmu dengan anak lain, namun karena kamu sudah berjanji pada Amelia. Mau tidak mau aku harus mengizinkannya, aku berharap kamu bisa bersikap bijak dalam melakukan semuanya," jawab Juna jujur mengatakan isi hatinya.


"Bahkan setelah tadi apa yang disampaikan Johan?" tanya Vani yang diangguki Juna.


"Aku percaya dia berniat untuk berubah dan melepaskan mu, tapi tetap saja aku merasa takut jika kalian kembali bersama dan kamu melupakan aku serta anak kita," lirih Juna.


"Mas, tolong percaya padaku. Mungkin dia pernah ada dihidupku, namun sekarang dan selamanya hanya kamu yang ada di hidup dan hatiku. Bagaimana mungkin aku bisa melupakanmu saat aku begitu mencintaimu! Apalagi dengan adanya dia," jawab Vani sambil mengusap perutnya membuat mata Juna berbinar bahagia mendengarnya.


"Kamu berjanji?"


"Aku berjanji, baik kamu ataupun anak kita tidak akan merasakan kekurangan kasih sayang ataupun perhatian dariku. Kalian tetap akan menjadi prioritas utama dalam hidupku," jawab Vani memberikan senyuman terbaiknya.


"Aku juga mencintaimu, sayang. Sangat mencintaimu," ucap Juna berulang kali mengecup sayang wajah Vani.


"Kamu menyesal?" tanya Rizal pada putranya yang saat ini tengah menemani Johan berada di sebuah bar ternama yang ada di ibu kota.


"Tidak. Meskipun jujur saja hati ini merasa sedih, namun aku juga merasa lebih lega setelah melakukannya," jujur Johan terbuka pada ayahnya.


"Johan. Papa minta maaf karena sudah merahasiakan kebenaran tentang Irene darimu. Papa minta maaf atas semuanya, " ujar Rizal merasa bersalah.


"Apa kamu masih mencintai Vani?" tanya Rizal saat putranya hanya diam.

__ADS_1


"Cinta? Aku bahkan sangat mencintainya. Aku melakukan seperti yang pernah ia ajarkan padaku, melepaskan demi kebahagiaan orang yang dicintai. Seperti yang terlihat, Pa, dia begitu bahagia dengan kehidupannya yang sekarang. Mungkin dengan melepaskannya adalah caraku membuktikan jika aku mencintainya, dan sebagai pria yang mencintainya, aku ingin dia bahagia!" jawab Johan menyeka air matanya yang menetes.


Sebagai seorang ayah, Rizal sangat mengerti apa yang dirasakan oleh Johan. Ia sangat berharap jika setelah ini seperti yang Johan janjikan pada Vani, jika ia akan berubah menjadi lebih baik lagi.


"Yang kamu lakukan sudah benar. Sebagai pria yang baik sudah sewajarnya kamu melepaskan, Vani. Papa tau kamu mencintainya, namun kembali lagi kepada hati. Kita tidak bisa memaksakan siapapun untuk mencintai kita dan kita juga tidak bisa menyalahkan hati yang mempunyai rasa cinta itu," ucap Rizal menepuk pelan bahu Johan.


Seperti Papa yang masih sangat mencintai Irene dan menyesal sudah menyakitinya. Batin Rizal.


"Lalu bagaimana dengan Amelia? Apa kamu tidak ingin membuka hatimu untuknya demi anak kalian?" tanya Rizal lagi.


"Untuk itu aku belum bisa, Pa. Mungkin aku akan menerima kehadirannya sebab dia adalah ibu dari anakku, tapi untuk mencintainya atau membuka hati untunya semua sangat sulit. Sebab apa? Sebab hati ini masih begitu sangat mencintai Vani. Aku tau aku salah mencintai istri pria lain disaat aku sendiri sudah mempunyai Amelia sebagai istriku, tapi balik lagi seperti yang Papa katakan jika kita tidak bisa menyalahkan cinta!" jawab Johan dengan tatapannya yang diselimuti kesedihan.


"Baiklah, aku mengerti. Apa itu artinya kalian tidak akan berpisah?"


"Aku masih ragu untuk hal itu. Disatu sisi aku tidak ingin egois dengan memikirkan ego kami sehingga nantinya berdampak buruk untuk anakku, tapi disisi lainnya aku juga merasa kasihan jika Amel hidup bersamaku. Hidup bersama pria yang mencintai wanita lain, malah akan menyakiti hatinya. Aku harus bagaimana, Pa? Aku bingung harus melakukan apa?" ucap Johan kembali terdengar frustasi.


"Apa kamu sudah membicarakan semuanya pada Amelia? Menurut Papa ada baiknya kamu berterus terang pada Amel, mungkin awalnya akan menyakiti hatinya, namun setelah itu kalian bisa menemukan jalan keluarnya ntah itu tetap bersama atau harus benar-benar berakhir!" jawab Rizal mencoba memberikan masukan sebab sebagai ayah dia pasti ingin yang terbaik untuk anaknya.


Johan terdiam sesaat mencoba mencerna apa yang disarankan oleh Rizal. Beberapa saat kemudian setelah memikirkannya, Johan akhirnya menjawab, "Aku akan mencoba membicarakan semua ini dengan Amelia."


Rizal yang mendengarkan semua ucapan Johan merasa senang karena pada akhirnya putranya sudah kembali berpikir jernih. Pria dewasa yang bisa menghadapi masalahnya dengan baik.

__ADS_1


Papa berharap hidupmu jauh lebih baik dari Papa, Jo. Jangan hidup untuk cinta yang tidak bisa kita miliki. Batinnya.


__ADS_2