Suamiku Bucin Akut

Suamiku Bucin Akut
Rumah Kita Nanti


__ADS_3

Hampir satu jam perjalanan dan mereka belum juga tiba di tujuan. Vani yang sebelumnya terus mengoceh dan mendesak Arjuna untuk menjawab akan membawanya kemana tak mau menjawab pertanyaannya hingga tiba saatnya mereka memasuki sebuah gerbang yang terbuka secara otomatis. Vani yang sedari tadi terus mengoceh sekarang justru terdiam menatap sangat takjub pada pemandangan yang begitu menarik yang ada di depannya saat ini.


"Sayang, ayo turun!" ajak Arjuna yang sudah membukakan pintu mobil untuk Vani yang masih terdiam menatap bangunan yang ada di depannya.


"Kenapa kita kemari? Rumah siapa ini? Kejutan apa ini? Rumah barumu?" tanya Vani setelah turun dari mobil, kembali menatap takjub juga bingung pada bangunan di rumahnya.


"Kamu suka?" tanya Arjuna menyelipkan helaian rambut Vani yang terkena hembusan angin ke balik telinganya.


"Jawab serius. Kenapa kita kemari? Ini rumah siapa?" tanya Vani lagi.


"Aku ingin menunjukan ini padamu," ucap Arjuna menggandeng tangan Vani untuk menyusuri bagian luar rumah tersebut.


Rumah yang bisa dikatakan sangat besar dan mewah itu terlihat menjadi berkali lipat lebih besar sebab lahan lainnya yang tersedia dan sudah di hiasi dengan taman bunga yang begitu indah. Rumah tersebut terlihat seperti rumah idaman Vani. Sebuah rumah yang mempunyai taman yang besar serta lahan yang cukup untuk menata bagian outdoor lainnya.


"Dari mana kamu tahu semua ini?" tanya Vani yang mulai mengerti dengan apa yang terjadi.


Arjuna tersenyum setelah mendengar pertanyaan Vani, ia kembali menarik tangan Vani untuk melangkah masuk ke dalam rumah tersebut.

__ADS_1


"Untukku?" tanya Vani saat Arjuna dengan santainya membawa ia masuk kedalam rumah.


"Ya, untukmu. Ini rumah yang nanti akan kita tempati bersama anak-anak kita," jawab Arjuna santai terus melangkah membawa Vani menuju lift yang ada di rumah itu lalu menuju lantai tiga rumah itu yang langsung tertuju pada sebuah kamar yang sangat besar serta begitu mewah. Tak berhenti di sana, Arjuna seakan belum mengizinkan Vani melihat seisi kamar tersebut, sebab Arjuna masih menggandeng tangan Vani menuju sebuah pintu kaca yang tertutup gorden otomatis yang setelah terbuka, memperlihatkan sebuah kolam renang besar tak lupa pemandangan indah yang dapat terlihat dari atas sana.


Vani semakin terpana setelah melihat dekorasi yang begitu indah di gazebo tak jauh dari kolam renang tersebut. Terdapat sebuah meja kecil yang sudah di dekorasi dengan sangat indah, dan juga terdapat banyak kelopak bunga diatur sedemikian rupa seakan menjadi petunjuk jalan untuk menuju ke sana.


Dengan senyum yang begitu cerah di wajahnya, Vani berdiri tepat dihadapan Arjuna, memperlihatkan pada Arjuna jika perasaannya saat ini sangat baik. Arjuna membalas senyum Vani dengan kecupan lembut di dahinya. "Aku bahagia melihatmu bahagia," ucapnya kembali menggandeng tangan Vani menuju gazebo yang sudah dihias indah tersebut, lalu duduk di sana.


"Terima kasih," ucap Vani yang semakin yakin semua memang dipersiapkan untuknya.


"Aku mencintaimu," balas Arjuna atas ucapan Vani, sembari memberikan buket bunga yang ada pada Vani, membuat wajah Vani bersemu merah akan perlakuan manisnya.


"Siapa lagi jika bukan Dika," jawab Arjuna tertawa pelan. Tawa yang jarang dilihat oleh orang-orang, tetapi sering terlihat dan terdengar oleh Vani.


"Dia memang pandai. Dia sangat romantis, beruntung wanita yang akan menjadi pasangannya nanti," ucap Vani membuat raut wajah Arjuna berubah kesal.


"Ada apa?" tanyanya bingung.

__ADS_1


"Jangan memuji pria lain. Aku bisa melakukan lebih baik darinya," jawab Arjuna membuat Vani tertawa mendengarnya.


"Cemburu?" Vani mendekat dan mencubit pelan lengan Arjuna yang justru menariknya, membawa Vani duduk di pangkuannya.


Wajah Vani semakin merona saat berada di posisi seperti itu, Vani yang berniat meledek Arjuna justru seakan membuat dirinya terperangkap sendiri dalam permainannya.


Arjuna terus menatap Vani seolah memperlihatkan semua perasaan yang ada di hatinya. Wajahnya perlahan mendekat dan semakin mendekat untuk menggapai bibir Vani, tetapi terlambat saat Vani dengan cepat turun dari pangkuannya.


"Aku lapar!" ucap Vani yang sudah kembali duduk seperti semula.


Vani yang salah tingkah, mulai menyentuh makanan yang tersedia agar Arjuna percaya jika dia benar-benar lapar, tetapi Arjuna yang masih saja terus menatapnya, membuat Vani tak dapat mengabaikannya. "Ada apa?" tanya Vani menatap Arjuna yang tersenyum padanya.


Vani baru saja akan membersihkan sisa makanan yang ada di jarinya menggunakan lidah, tetapi Arjuna menghentikannya, menarik tangan Vani dan menggantikan Vani untuk membersihkan jari tangan Vani menggunakan lidahnya. Perasaan yang sulit dijelaskan Vani rasakan atas apa yang Juna lakukan. Vani dengan cepat menarik tangannya. Wajahnya terlihat semakin merona.


"Sayang, suapi aku!" pinta Arjuna begitu lembut pada Vani yang hanya bisa mengangguk menyetujuinya.


'Ya Tuhan, jantungku berdebar begitu kencang setiap kali bersamanya dan semakin kencang saat mendapat gombalan serta perlakuan seperti ini darinya. Ini gila. Aku menyukai semua yang dilakukannya.' Batin Vani.

__ADS_1


'Semua ini nyata. Aku mencintainya. Aku akhirnya menemukan wanita yang menjadi pemilik hatiku ini, terima kasih, Tuhan. Aku mencintainya dan tidak akan menyia-nyiakan apa cinta yang kau berikan ini,' ucap Arjuna yang juga berbicara di dalam hatinya.


__ADS_2