
Esok harinya setelah pulang sekolah.
"Bunda, ini rumah Bunda?" tanya Arsen saat mobil yang dikemudikan oleh Amanda berhenti di depan sebuah rumah.
"Bukan, Bunda harus menjemput anak Bunda dulu, Arsen tunggu di mobil sebentar ya?" ucap Amanda pada Arsenio yang nampak terkejut.
"Baiklah Bunda," jawab pria kecil itu terdengar pelan.
Arsen terdiam memikirkan ucapan Amanda yang mengatakan menjemput anaknya, Arsen sama sekali tidak tau dan tidak menyangka jika Amanda punya anak. Mungkin Johan pernah mengatakan itu, tetapi Arsen pikir itu hanya kebohongan agr Arsen tak berharap pada Amanda, tapi ternyata semua benar. Ada sedikit rasa iri di hatinya saat mengetahui Amanda sudah mempunyai anak, namun sesaat kemudian rasa iri itu memudar saat melihat seorang bayi yang begitu imut dan menggemaskan berada dalam gendongan Amanda menuju mobil.
"Hai Kak Arsenio kenalkan aku Neisha," ucap Amanda menirukan suara anak kecil berbicara pada Arsen yang tersenyum menatap bayi yang berada di pangkuan Amanda.
"Bunda, dia sangat menggemaskan? Apa dia adikku?" ucap Arsenio membuat Manda tersenyum mendengar Arsen mengatakan kata 'Adikku.'
"Hai Neisha ini kak Arsen," ucap pria kecil itu mengecup gemas wajah Neisha yang terlihat keriangan saat di sentuh oleh Amanda.
"Wah, cantiknya Bunda suka sama kak Arsen ya?" ucap Amanda turut mengecup pucuk kepala putrinya.
"Kita pulang, ya. Neisha diam jangan nakal," ucap Amanda lembut pada putrinya.
"Bunda, apa tidak apa-apa mengendarai mobil memangku adik Neisha seperti itu?" tanya Arsen cemas.
__ADS_1
"Tidak jauh sayang, itu di ujung sana rumah Bunda!" ucap Amanda mulai menghidupkan kembali mobilnya.
Seperti yang di katakan Amanda tidak butuh waktu dua menit mereka tiba di tujuan.
"Jadi ini rumah Bunda?" ucap Arsen riang mengedarkan pandanganya menatap sekeliling rumah Amanda saat mereka telah keluar dari mobil.
"Iya, ayo masuk!" Amanda melangkah lebih dulu di ikuti oleh Arsenio.
Tak terasa Arsen sudah satu jam berada di rumah gurunya, Arsen merasa sangat betah berada di sana, belum lagi bermain dengan Neisha yang membuatnya merasa amat senang
"Neisha mengantuk?" tanya Arsen pada Neisha dimana ia menemani Neisha bermain sembari menunggu Manda menyiapkan makan siang mereka.
Neisha yang berada di dalam sepedanya hanya bisa bergerak lincah namun sesekali mulai menguap menanggapi Arsen.
"Arsen punya adik di rumah?" tanya Manda saat melihat bagaimana Arsenio begitu baik menjaga dan menemani putrinya–Neisha bermain.
"Tidak, hanya Neisha adik Arsen," jawabnya terdengar sendu membuat Amanda teringat kembali dengan ucapan Arsen yang pernah mengatakan tidak punya Mama.
"Oke baiklah, Neisha sekarang akan menjadi adiknya kamu," ujarnya membuat senyum Arsen terbit di wajah pria kecil tersebut.
"Bunda tidurkan adik Neisha di kamar sebentar, ya? Setelah itu kita makan siang bersama. Arsen bisa menonton tv sembari menunggu Bunda," ucap Amanda yang di anggukkan oleh Arsenio.
__ADS_1
***
Rani tak pernah menyerah untuk mencoba mendekati Johan, terbukti dari saat ini dimana ia tengah memperbaiki penampilannya agar terlihat menggoda, lalu melangkah masuk ke dalam ruang kerja Johan sembari membawa kotak bekal makanan di tangannya.
"Apa kamu tidak bisa mengetuk pintu? Di mana letak sopan santun mu?" ucap Johan menatap tajam pada Rani yang baru saja masuk ke dalam ruangnya tanpa mengetuk pintu.
"Maaf Pak, sekarang jam istirahat!" jawabnya pelan.
"Jadi jika sedang jam istirahat ataupun di luar jam kerja, kamu berhak masuk ke dalam ruangan saya sesukamu?" tanya Johan terdengar semakin kesal dengan sikap Rani.
"Saya minta maaf Pak, saya janji tidak akan mengulanginya lagi!" ucap Rani menunduk takut.
"Baiklah, ada perlu apa?" tanya Johan berusaha lebih tenang.
"Saya membawa bekal untuk makan siang, saya membuatkan juga untuk Bapak, apa kita bisa makan bersama?" tawar Rani memberanikan diri melangkahkan kakinya menghampiri Johan, yang masih duduk di kursi kebesarannya dengan kaca mata yang bertengger di hidungnya.
"Tidak, saya sudah ada janji menjemput Arsen di rumah gurunya, kamu bisa tawari karyawan lainnya," ucap Johan bangkit dari duduknya.
"Tapi, Pak? Saya menyiapkan ini semua untuk bapak," ucap Rani dengan beraninya menahan pergelangan tangan Johan saat Johan akan pergi.
"Rani, jaga sikapmu! Lagi pula saya tidak memintamu untuk menyiapkan semua ini. Berhenti bersikap seperti wanita penggoda," ucap Johan menepis kasar tangan sekretarisnya.
__ADS_1
"Satu lagi, saya tidak akan kembali ke kantor karena saya akan langsung pulang ke rumah," ucap Johan lagi sebelum akhirnya keluar dari ruangannya, meninggalkan Rani yang selalu mengeram kesal di buatnya.