
Selesai dengan urusan ranjang mereka, Johan dan Manda masih berbaring di atas tempat tidur dengan posisi Manda yang berada dalam dekapannya.
Johan merasa amat bahagia, kebahagiaan yang luar biasa besar ia rasakan setelah mendengar tentang kehamilan Manda. Sesuatu yang sudah sangat dia harapkan untuk memiliki anak bersama wanita yang dia cintai.
Johan sadar jika sudah ada Arsenio dam Nesiha yang mengubah statusnya menjadi sebagai seorang ayah, namun semua berbeda karena dia tidak dapat merasakan kebahagiaan saat dia mengetahui berita kehamilan istrinya, serta dia tidak menemani istrinya di masa kehamilan, melahirkan dan menemani istrinya merawat anak mereka. Perasaan seperti itu tidak sepenuhnya Johan dapatkan dari Arsenio namun dibalik itu semua kasih sayangnya untuk Arsenio dan Neisha juga sangat besar.
"Sayang, kapan kamu memeriksanya? Kapan kamu mengetahui semua ini? Kanapa kamu baru mengabari aku sekarang?" tanya Johan begitu penasaran.
"Satu jam yang lalu!" jawab Manda, membuat Johan sontak saja terkejut, ia bangkit dan duduk di atas ranjang menatap Manda.
"Jangan bilang semua ini hanya tebakanmu?" tanya Johan terlihat gelisah membayangkan bagaimana jika tebakan istrinya salah, Johan sudah merasa sangat bahagia dan Johan tidak ingin kecewa.
"Percaya padaku! Meski bukan ahlinya yang memastikan kehamilanku, tetapi alat pendeteksi kehamilan yang tadi aku coba sudah cukup untuk mengetahui itu semua. Jika kurang yakin, besok pagi kita coba lagi. Kita juga bisa memeriksa ke dokter kandungan," ucap Manda.
"Kita harus segera memeriksanya, aku ingin tau kepastiannya!" ucap Johan tetap tak dapat tenang.
Manda terdiam kesal melihat sikap suaminya, dia tau betul apa yang di rasakan dan dikhawatirkan oleh suaminya tersebut, tapi dia juga merasa kesal saat Johan seolah meragukannya.
"Kamu tidak percaya dengan ucapanku?" kesal Manda ingin menjauh dari Johan, namun Johan dengan cepat menahannya dan memeluk Manda erat.
"Sayang, aku percaya padamu, aku hanya mengatakan jika aku ingin kita memeriksanya, lagipula tidak ada salahnya kita memeriksakan kandunganmu, aku juga ingin tau, siapa tau bayi kita kembar," ucap Joha. Manda langsung menatap Johan dan bertanya. "Kamu menginginkan anak kembar?"
"Tentu saja aku sangat menginginkannya, banyak sekali orang yang ingin mempunyai keturunan kembar. Di keluargaku tidak yang kembar," ucap Johan menerangkan keinginannya.
"Tapi apakah mungkin bisa kembar jika tidak ada faktor keturunan?" ucap pria itu lagi.
"Mungkin saja, Mas. Tidak ada yang tidak mungkin. Kebanyakan orang memahami bahwa kehadiran bayi kembar dalam silsilah keluarga dapat meningkatkan kesempatan memiliki anak kembar. Padahal sebenarnya, tidak sepenuhnya hanya faktor keturunan yang mutlak bisa menentukan hamil anak kembar," ujar Manda menanggapi suaminya.
"Eh, tapi bagaimana jika tidak kembar?" tanya Manda lagi menatap serius pada Johan.
"Dia tetap anakku dan aku tetap mencintai kalian," jawab Johan. "Maka dari itu, kita harus memeriksanya untuk memastikan semuanya, ya, sayang?" sambungnya lagi.
"Iya, kita akan memeriksanya, tapi tidak hari ini. Aku sangat lelah, aku ingin tidur dalam dekapan suamiku, itupun kalau dia bersedia," ucap Manda pada Johan yang merasa gemas mendengarnya.
"Tentu saja aku selalu bersedia mendekap wanita cantik ini," jawabnya.
****
Esok harinya dengan perasaan yang membuncah bahagia, setelah kemarin mendapat kabar bahagia dari istrinya, Johan seakan tak mau bergeser sedikitpun dari Manda, dia terus saja menempel pada Manda dan itu membuat Manda sedikit risih namun juga merasa senang.
Hari ini Johan dan Manda akan memeriksakan kandungan Manda.
Manda sudah memilih dan menghubungi dokter kandungan yang akan ia datangi. Dokter terbaik di rumah sakit dekat kantor Johan menjadi pilihan Manda sebab dia cukup mengenal dokter kandungan itu yang merupakan ibu dari Mantan muridnya.
__ADS_1
"Sayang, bagaimana dengan Neisha dan Arsen?" tanya Manda memikirkan nasib putranya yang masih berada di sekolah dan Neisha yang tengah tidur.
"Aku sudah menghubungi mama tadi pagi. mama bilang jika dia tiba sesuai jadwal maka dia akan menjaga Neisha dan Papa akm menjemput Arsenio di sekolah," jawab Johan.
"Mas, kamu menghubungi Mama hanya untuk menjaga mereka?" tanya Manda tak percaya.
"Tentu saja. Mama pasti menantikan kabar ini. Apalagi saat aku bilang akan membawamu menemui dokter kandungan, dia malah sangat gembira mendengarnya dan dia sendiri berkata akan datang. Aku hanya memberitahu, dan Mama sendiri yang menawarkan diri," ujar Johan tersenyum.
"Hmmm, baiklah."
"Ya sudah, ayo kita berangkat! Aku sudah tidak sabar," ucap Johan begitu antusias.
Johan dan Manda tiba di rumah sakit yang mereka tuju. Di ruangannya, dokter Amira sudah menunggu Manda.
Setelah sedikit berbincang santai, Amira memutuskan untuk segera melakukan tugasnya saat melihat tatapan kesal dari Johan saat mereka terus saja berbincang. Terlihat jelas jika Johan kesal karena ia sudah tidak sabar untuk melihat hasil pemeriksaan Manda.
"Ok, karena kalian sudah memeriksanya beberapa kali menggunakan testpack, sekarang mari kita lihat bagaimana janinnya di dalam," ucap Amira mengarahkan Manda untuk berbaring di ranjang pasien.
Amanda mengambil gel, dan mengoleskannya di perut Manda, menggosoknya perlahan di permukaan perut Manda, lalu mulai menempelkan transduser di permukaan kulit Manda secara perlahan dan melakukan pemeriksaan USG.
Amira tersenyum menatap Manda yang juga tersenyum menatapnya. "Aku hamil?" tanyanya memastikan yang di jawab anggukan oleh Amira.
"Selamat ya, Bu Manda, Pak Johan. Kalian akan mempunyai anak ketiga," ucap dokter Amira membuat Johan yang berada di samping Manda tersenyum senang, menggenggam tangan Manda menatap penuh cinta pada istrinya itu.
"Coba tebak itu apa?" tanya Manda yang merasa benar-benar bahagia melihat arah tunjuk Johan.
"Sayang. Jangan bermain tebakan denganku! Apa itu?" tanyanya lagi begitu penasaran tak mengalihkan pandanganya dari layar tersebut.
"Tanyakan saja langsung pada dokter Amira," titah Manda tersenyum jahil pada Johan.
Mendengar ucapan Manda, Johan sontak saja langsung mengalihkan pandangannya menatap dokter Amira yang juga tersenyum menatapnya.
"Janinnya sehat, dan yang lebih menggembirakan adalah, detak jantungnya ada dua," ucap Amira tersenyum riang menatap Johan dan Manda. Sebagai seorang dokter, menyampaikan kabar bahagia juga akan menjadi kebahagiaan tersendiri untuk mereka.
"Maksudnya?" tanya Johan yang masih belum mengerti.
"Selamat, kalian akan memiliki bayi kembar," ucap Amira mengulang ucapannya agar ebih jelas dan dapat di mengerti oleh Johan.
"Benarkah? Mungkinkah itu?" tanya Johan seakan tak percaya jika harapannya menjadi kenyataan.
"Kenapa tidak mungkin? Meski kemungkinan itu kecil, tetapi semua itu mungkin dan inilah yang ada sekarang. Aku akan menjelaskan sedikit tentang mempunyai bayi kembar tanpa faktor keturunan," ucap Amira memulai penjelasannya yang cukup panjang.
Setelah mendengar penjelasan Amira, Johan benar-benar merasa terharu, ia merasa amat bahagia mendengar penjelasan Amira. Tanpa sadar sudut matanya berair saking bahagianya menatap takjub dan penuh syukur pada layar yang memperlihatkan keberadaan kedua calon anaknya.
__ADS_1
"Sayang kita benar-benar akan mempunyai bayi kembar, terima kasih sayang, terima kasih!" ucap Johan begitu senang mengecup lembut dahi Manda yang di balas Manda dengan menangkup kedua tangannya lalu mengusap air mata yang menetes di wajah tampan suaminya.
"Sekarang jaman sudah sangat canggih, semua yang ingin kalian ketahui bisa kalian cari di internet, jadi aku cukup menjelaskan itu saja. Selebihnya jika kurang jelas kalian bisa lihat di internet," ucap Amira tertawa.
"Sekali lagi selamat untuk kalian," ujar Amira setelah membersihkan sisa gel di perut Manda.
***
Johan dan Manda yang baru saja tiba di rumah mereka saling tatap setelah mendengar suara yang cukup ramai dari dalam rumah mereka. Sudah bisa di pastikan jika itu semua ulah Renata yang memberi tahu semua orang tentang rencana Manda dan Johan yang akan datang ke dokter kandungan.
"Mas!" Manda berkata dengan penuh penekanan menatap suaminya yang hanya bisa tersenyum takut menatap Johan.
'Ya ampun Mah, apa yang mama lakukan sampai Vani dan Juna juga ada di sini?' batin Johan merutuki kehebohan yang telah di perbuat oleh mamanya.
"Assalamualaikum...," ucap Manda masuk ke dalam rumah mengalihkan fokus semua orang yang sibuk dengan obrolan mereka masing-masing dimana mereka semua seolah terbagi menjadi dua kelompok dimana ada orang dewasa, dan anak-anak.
"Waalaikumsalam...," jawab mereka semua secara bersamaan menoleh ke asal suara, dimana Manda sudah berdiri tak jauh dari sana menatap mereka semua.
"Sayang kamu sudah pulang, ayo sini duduk!" ucap Renata menghampiri Manda lalu membawa Manda untuk duduk di sampingnya tentunya setelah Manda menyapa Vani dan Juna.
"Van, kapan tiba?" tanya Manda.
"Secara sangat kebetulan hari ini kami ikut mas Juna yang ada pekerjaan di Semarang, apalagi Dilan sangat senang mendengar Mas Juna akan ke Semarang, dia bilang merindukan Arsen. Kami bertemu tante dan Om di bandara, mendengar kabar bahagia dari tante, kami langsung ikut kemari," jawab Vani tersenyum.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Vani mengalihkan perhatian semua orang langsung tertuju pada Manda, menanti jawaban yang akan keluar dari bibir Manda.
"Alhamdulillah, hasilnya seperti yang kita semua harapkan," jawab Manda tersenyum bahagia mengatakannya, membuat kekesalannya pada Johan seakan menghilang saat mengucapkan kabar bahagia tersebut.
"Alhamdulillah...," ucapan syukur terdengar dari semua yang ada di sana, ucapan selamat juga tentu saja Manda dapatkan dari Vani dan semua orang yang merasa ikut bahagia mendengar kabar bahagia tersebut.
Sekarang semua kebahagiaan yang mereka semua rasakan seakan lengkap. Baik Johan atau pun Vani sudah sama-sama bahagia dengan kehidupan mereka meski dengan pasangan yang berbeda. Kedua keluarga yang sebelumnya cukup sering bersitegang setelah hubungan Vani dan Johan kandas kala itu sekarang benar-benar sudah damai tanpa ada sedikitpun noda di antara mereka. Vani tersenyum menatap Manda dan Manda yang seakan mengerti apa yang dipikirkan Vani juga tersenyum membalasnya.
Terima kasih, Tuhan. Terima kasih untuk akhir yang bahagia ini. Ucap keduanya dalam hati.
TAMAT
****
Ya ampun, akhirnya beneran tamat. Maaf sekali lagi jika cerita ini tidak seperti yang kalian harapkan, maaf jika masih banyak kesalahan dari cerita ini baik segi penulisan, alur atau pun riset yang kurang mateng. Selalu dan selalu aku ucapkan banyak terima kasih untuk semuanya yang sudah mampir dan selalu mendukung cerita ini. Semoga kalian semua diberikan kesehatan, kemudahan rejeki dan bahagia selalu.
Meski cerita ini sudah tamat, aku beneran antara aku dan kalian nggak berakhir di cerita ini, berharap kalian juga berkenan mampir ke ceritaku yang lain. Karena seperti yang sering aku katakan, support dari pembaca beneran jadi penyemangat untuk kami penulis, terutama penulis remahan seperti Cinta Halu ini. 🤭
Terima kasih, banyak ya kak. Sampai jumpa di ceritaku yang lainnya. 🙏🙏🙏🤗🤗
__ADS_1