Suamiku Bucin Akut

Suamiku Bucin Akut
Rasa Yang Mulai Ada


__ADS_3

Tangis Amanda semakin menjadi saat melihat Johan, untuk pertama kalinya dalam satu tahun ini mereka terlihat begitu dekat. Selama menikah, tidak ada yang namanya , pelukan, ciuman apalagi berhubungan badan, hanya sebatas pegangan tangan. Namun, kali ini keduanya terlihat begitu dekat saat Amanda menghambur masuk ke dalam pelukannya dan semakin melepaskan tangisnya dalam pelukan Johan.


Debaran jantung Johan memompa cepat saat Amanda memeluknya. Rasa sayang dan peduli itu membuat Johan turut merasa sedih melihat kesedihan istri yang selama ini dianggap teman tersebut. Johan membiarkan Amanda memeluknya karena ia pikir Amanda memang butuh tempat bersandar dan sudah sewajarnya dia menjadi tempat Amanda bersandar. Entah dari mana pemikiran itu muncul, tapi itulah yang terjadi dimana Johan merasa dirinya harus ada untuk Amanda.


Sebelah tangan Johan yang balas memeluk Amanda perlahan terangkat lalu mengusap lembut punggung Amanda. "Ada apa?" tangannya dengan begitu lembut.


"Jo, rasanya begitu sesak! Hatiku terasa begitu perih. Aku tidak bisa menerima fakta jika dia sudah pergi, aku percaya su– aku percaya dia masih hidup!" ucapnya terbata entah kenapa sulit menyebut kata suami meski biasanya dia selalu menyebut Alan suamiku. Amanda terisak dalam pelukan Johan.


"Su apa? Kamu mau bilang suamimu meninggal? Aku suamimu dan aku masih hidup," ucap Johan tertawa pelan, sengaja mencari cara untuk menghibur Amanda yang terbukti sedikit mengurangi tangisnya dan tersenyum sendu masih dengan air mata yang menetes, menatap Johan.


"Bukan kamu, tapi dia," ucap Amanda membuat Johan tersenyum kecut dan itu justru membuat Amanda merasa bersalah. Amanda melepaskan pelukannya dan menghentikan sejenak tangisnya, kembali menatap kuburan yang ada di depan mereka.


Ada apa denganku? Kenapa aku takut menyakitinya? Kenapa aku merasa bersalah padanya? Batin Amanda.

__ADS_1


Akhirnya dia berhenti menangis!' ucap Johan merasa sedikit lega dalam hati sebab melihat Amanda menangis membuat dadanya sesak.


"Ada apa? ceritakan padaku!" ucap Johan pada Amanda yang sudah menghentikan tangisnya, meskipun tubuhnya masih berguncang kecil karena sesenggukan sisa tangisnya.


"Aku tidak percaya jika dia sudah pergi, aku sangat-sangat tidak bisa mempercayai apalagi menerima semua ini, Jo. Aku tidak bisa," ucapnya menunduk mengusap lembut nisan tersebut.


"Apa yang membuatmu merasa tidak percaya jika dia sudah pergi?" tanya Johan lagi pada Amanda.


"Banyak sekali kejanggalan yang aku rasakan akan semua ini, hatiku juga tidak bisa percaya jika semua ini benar," jawab Amanda membuat Johan yang mendengar semakin bingung di buatnya.


"Jelaskan dan ceritakan padaku, agar aku bisa memahaminya dan mungkin saja aku bisa mencari jalan keluar untuk semua ini," sambung Johan berbesar hati seolah memberikan harapan baru untuk Amanda yang mendengarnya.


"Kamu akan membantuku?" tanya Amanda menatap tak percaya pada Johan. Antara senang dan sedih Amanda mendengar itu. Senang karena Johan akan membantunya, sedih saat memikirkan apa yang akan terjadi jika benar Alan masih hidup? Apa yang akan dia lalukan saat dia sudah menjadi istri Johan.

__ADS_1


"Kita berteman. Bukankah teman akan saling membantu. Berbagi susah dan senang?" ucap Johan membuat wajah Amanda menunduk diam.


Yang dia katakan benar, tapi kenapa hatiku perih mendengarnya? Ada apa denganku? Amanda bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


Johan berusaha tenang dan tersenyum memghadapi Amanda, meski Johan terlihat dan terdengar sangat mendukung Amanda, tetapi jauh di lubuk hatinya ada perasaan enggan melakukan itu.


"Nda, boleh aku tanya?" ucap Johan gugup.


Amanda mengangguk pelan. "Apa kamu masih sangat mencintainya?" Entah kenapa Johan mempertanyakan hal itu meski Johan sudah tau jawabannya, apakah Johan berharap Amanda menjawab berbeda dari biasanya.


"Apa tanggapanmu jika aku masih mencintainya?" Amanda pun merasa ragu untuk menjawab berbeda dari sebelum-sebelumnya dimana dia selalu lantang berkata mencintai suaminya–Alan.


"Aku akan memutuskan setelah mendengar jawabanmu," ucap Johan membuat Manda bingung.

__ADS_1


"Aku tidak tau. Entah ini cinta atau perasaan yang tak rela dan tak bisa menerima kepergiannya, aku pun tidak tau. Hatiku hanya ingin bukti, hanya ingin kebenaran dari semua ini. Aku tidak punya jawabannya sebelum mendapat kebenaran dari semua masalah ini," jawab Amanda setelah beberapa saat terdiam.


Johan mengembuskan nafas lega mendengar jawaban Manda, senyum lembut kembali terbit di wajahnya sembari tangannya menggenggam tangan Manda. "Ceritakan padaku semuanya, agar aku dapat membantumu!" pintanya.


__ADS_2