
Johan tiba di rumah saat jarum jam tepat menunjukan pukul lima sore, ia yang masuk ke dalam rumah tidak melihat dan mendengar suara putranya, sudah bisa menebak dimana Arsen berada saat ini.
Ia naik ke kamarnya, meletakkan tas kerjanya di atas meja, melepas pakaiannya, dan mengganti dengan celana boxer, setelah itu keluar menggunakan handuk kimono menuju kolam berenang yang ada di bagian atas rumah mereka.
Meski baru berusia lima tahun, Arsen adalah anak yang sangat suka berenang, untuk itu Johan sengaja membuat kolam renang dengan dua ukuran yang ada di atas rumah mereka.
"Tebakanku benar!" ucap Johan tersenyum saat melihat putranya yang tengah berenang kesana-kemari dengan terampilnya.
"Bi, Bibi boleh kembali ke bawah, tapi sebelumnya tolong bawakan aku jus alpukat sama susu coklat untuk Arsen!" ucap Johan pada bi Maryam yang berada di sana menemani Arsen.
"Baiklah, Tuan!" jawab Maryam patuh.
Johan melepaskan kimono yang digunakannya, lalu masuk ke kolam renang, kolam yang khusus untuk orang dewasa, berdiri di dinding penyekat kolam tersebut sembari menatap putranya.
"Papa sudah pulang?" ucap Arsen bertanya, setelah tiba di depan Johan dengan nafas yang terengah-engah.
"Ya, papa merindukanmu. Makanya Papa memutuskan untuk cepat pulang!" jawab Johan membuat Arsen mendengus mendengarnya.
"Mau coba berenang di sini?" tanya Johan menawarkan Arsen untuk berenang di ukuran yang lebih dalam.
__ADS_1
"Tentu saja mau," jawab Arsen lantang, tanpa rasa takut sedikitpun.
"Itu baru Rajendra Arsenio–putraku," ucap Johan bangga.
Arsen naik ke atas kolam, lalu berdiri di atasnya bersiap sebelum masuk ke dalam kolam yang biasa digunakan orang dewasa.
"Ayo, papa akan mengiringi," ucap Johan pada Arsen yang masih terdiam.
"Baiklah. Satu, dua, tiga!" ucap mereka secara bersamaan, lalu mulai berenang secara beriringan, di mana Johan berusaha pelan mengiring putranya.
Tiba di ujung kolang, Arsen langsung berpegangan pada pinggiran kolam dengan nafasnya yang kembali terengah-engah.
"Tentu saja hebat, Arsen selalu menjadi yang terbaik!" jawab Johan.
"Pa, bagaimana menurut papa, tentang bunda guru bernama Amanda yang tadi siang kita temui?" tanya Arsen sesaat kemudian, membuat Johan yang baru saja berhasil melenyapkan bayangan Amanda kembali mengingatnya.
"Ada apa dengannya?" tanya Johan menatap bingung pada Arsen.
"Dia cantik, dia seperti Mama dan aku menyukainya," ungkap Arsen jujur mengungkapkan isi hatinya.
__ADS_1
"Kamu menyukainya?" tanya Johan memastikan pendengarannya, karena untuk pertama kalinya Arsen mengatakan menyukai seseorang selain dia, Maryam dan kedua orang tuanya.
"Karena mirip mamamu?" tanya Johan lagi.
"Pertama karena itu. Dia sangat mirip dengan Mama, jika saja mama masih ada, aku pasti akan salah mengira jika dia mama. Tapi selain itu aku juga menyukainya dari cara dia mengajar sangat lembut, dan tulus. Tidak ada kesan di buat-buat darinya. Terlebih lagi dia tidak mencari perhatian pada Papa. Percayalah, penilaianku tidak mungkin salah," ucap Arsen lagi berkata persis seperti pria dewasa.
"Tapi dia bukan mamamu, Ar." Johan tak ingin putranya berharap banyak pada Amanda hanya karena wajah mereka mirip.
"Ya, aku tahu, Pa. Aku hanya menyukainya," ucap Arsen lagi dengan tenang meski apa yang Johan takutkan benar adanya jika Arsen memang berharap Amanda adalah Amelia.
"Baguslah, jadi kamu akan betah di sekolah yang sekarang, itu artinya Papa juga tidak perlu mencarikan sekolah lain lagi seperti sebelumnya!" ujar Johan tersenyum.
"Itu pendapatku, bagaimana pendapat papa tentang Bunda guru?" tanya Arsen lagi memicingkan sebelah matanya membuat Johan salah tingkah.
"Biasa saja!" jawab Johan datar.
"Benarkah?" tanya Arsen lagi yang diangguki mantap oleh Johan.
"Pa, Papa tidak ingin mendekatinya untuk aku?" pinta Arsen yang benar-benar membuat Johan terkejut mendengarnya.
__ADS_1