Suamiku Bucin Akut

Suamiku Bucin Akut
Berduka


__ADS_3

Meninggal dunia tentu saja akan membawa kesedihan yang mendalam bagi orang-orang yang ditinggalkan. Begitulah yang dirasakan keluarga besar Johan saat ini.


Semua yang menghadiri acara pemakaman Amelia, juga merasa sedih akan kepergiannya, terutama jika memikirkan nasib sang anak yang harus kehilangan ibunya disaat ia baru saja lahir ke dunia ini.


Vani yang saat ini berada dikediaman orang tua Johan menemani bayinya Amelia, tak bisa menahan air matanya melihat bayi mungil yang harusnya sedang berada dalam kehangatan seorang ibu, namun malah tak dapat mencicipi hangatnya dekapan seorang ibu. Masih terngiang jelas ditelinga Vani ucapan terakhir Amelia yang memintanya untuk menjaga Anaknya, Vani jadi mengerti jika inilah maksud dari ucapan Amelia yang sebenarnya, menitipkan bayi mungil tersebut padanya.


Air mata Vani semakin mengalir menatap foto yang berada diatas nakas. Foto dimana, dan ntah kapan Amelia melakukannya. Foto yang memperlihatkan Amelia sedang tersenyum dengan sangat bahagia sembari membentuk lambang cinta dengan tangan diatas perutnya. Kesedihan Vani begitu menyesakkan dadanya karena Vani sangat tau bagaimana Amelia bahagia dengan kehamilannya, dan ia juga merasakan bagaimana bahagianya menjadi seorang ibu.


"Hai, sayang. Kamu jangan bersedih ya, ada Bunda disini. Nak, kamu bisa anggap Bunda sebagai ibumu. Kami semua mencintaimu, Nak. Kamu tidak akan kekurangan kasih sayang, karena semua orang menyayangimu!" ucap Vani pelan, menatap iba pada bayi yang belum ia ketahui namanya tersebut.


"Amelia, aku dan semua orang sudah memaafkan semua kesalahanmu. Aku harap kamu bisa tenang disana, semua orang pasti akan memberikan yang terbaik untuk putramu. Aku juga akan memberikan perhatian dan kasih sayangku, padanya. Kamu ibu yang hebat Mel, aku bangga kepadamu!" ucap Vani lagi, beralih menatap foto Amelia yang sedang tersenyum dengan perut buncitnya.


Beberapa saat kemudian, Vani mendengar suara keramaian yang berasal dari bawah. Ia tau jika semua orang sudah kembali dari pemakaman Amelia, untuk itu ia keluar dari dalam kamar sembari membawa bayi Amelia dalam dekapannya.


"Kita turun ya, sayang. Semua orang pasti sedang menunggumu," ujar Vani mengecup sayang pucuk kepala si bayi.

__ADS_1


Semua orang yang berada dibawah menatap kearah tangga dimana Vani dengan perut buncitnya sedang berjalan menuruni anak tangga membawa bayi Amelia.


Hati Johan begitu nyeri melihat pemandangan tersebut, pemandangan yang sebenarnya sangat ia harapkan menjadi kenyataan dimana Vani membawa anaknya, anak yang lahir dari Vani, dari wanita yang dicintainya. Sakit, sungguh sakit yang dirasakan Johan saat lagi-lagi ia menyadari jika semua hanyalah sebuah harapannya yang tidak akan pernah mungkin terjadi, karena Vani bukan lagi miliknya. Sekarang hanya bayinya yang ia miliki, karena Amelia sudah tiada. Rencana yang ia simpan untuk memulai hubungan dengan Amelia telah gagal bahkan sebelum Johan sempat menjalankannya. Sekarang Johan berjanji akan memprioritaskan hidupnya hanya untuk anaknya.


Johan berjalan menghampiri Vani membawa kesedihannya, membuat semua orang yang melihat menjadi tegang tak terkecuali Juna yang melihatnya. Perasaan Juna tiba-tiba menjadi kalut saat melihat Johan menghampiri istrinya, tiba-tiba ia menjadi takut jika Johan kembali meminta Vani untuk bersamanya dan Vani menuruti permintaan Johan. Ketakutan Juna semakin menjadi saat Johan sudah berdiri tepat dihadapan Vani yang masih berada dianak tangga terakhir disana.


Sama halnya dengan semua orang yang diselimuti dengan ketegangan, Vani juga merasakan hal yang sama saat ini. Apalagi melihat tatapan Johan yang terus saja menatapnya.


"Van, sekali lagi maafkan aku atas semua yang sudah terjadi. Terimakasih sudah menjaga putraku," ucap Johan mengambil anaknya dari Vani, lalu memutar tubuhnya menatap semua orang yang juga masih menatapnya, "Terima kasih juga untuk kalian semua," sambung Johan, lalu membawa anaknya berlalu dari sana menaiki anak tangga menuju kamar yang selama ini ditempati Amelia.


'Aku akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian, Jo,' ucap Vani dalam hati menatap Johan yang sudah semakin menjauh.


"Sayang, kita pulang!" ajak Juna yang sudah berada disamping Vani


"Iya Mas," jawab Vani menyambut uluran tangan suaminya.

__ADS_1


Semua orang satu persatu mulai berpamitan pada keluarga besar Johan, termasuk Vani, Juna dan kedua orang tua mereka.


"Terima kasih Van, terima kasih untuk semuanya!" ucap Renata menangis sembari memeluk Vani


"Sama-sama, Tante. Aku berharap dan aku akan merasa senang jika Tante membawa keponakanku berkunjung ke rumah, karena kalian tau aku tidak mungkin mengunjunginya!" ucap Vani yang dapat dimengerti oleh semua.


"Tentu Van, tentu saja kami akan sering membawanya menemui mu. Tante ingin dia mengenal dan mendapat kasih sayang dari seorang ibu sepertimu," ungkap Renata membuat Juna merasa tidak terima mendengarnya, namun ia berusaha untuk tetap tenang.


"Baiklah, Tante, Om. Aku dan suamiku pasti senang jika kalian datang berkunjung. Kami juga menyayanginya," jawab Vani mengerti apa yang dirasakan suaminya.


"Iya kan, Mas?" tanya Vani sengaja bergelayut di lengan suaminya, berharap dapat menghilangkan perasaan gusar Juna.


"Yang istriku katakan benar, Tante. Tentu kami menyayangi keponakan kami!" jawab Juna tersenyum menatap Vani.


"Kalau begitu kami pamit pulang. Sekali lagi kami turut berduka cita!" sahut Anggara mengakhiri perjumpaan mereka hari ini.

__ADS_1


__ADS_2