
Arjuna yang melihat Vani hanya diam, menjadi bertanya-tanya. Kenapa Vani tak menjawab lamarannya? Apa dia melakukan kesalahan? Atau justru Vani tengah memikirkan alasan untuk menolaknya? Pikir Arjuna.
"Kamu tidak ingin menikah denganku?" tanya Arjuna lagi merasa kecewa meski belum mendengar jawaban Vani.
Vani yang mendengar itu dengan cepat menggelengkan kepala, tetapi masih dengan raut wajah datar. "Baiklah, tidak masalah. Mungkin belum sekarang, tapi aku harap harap kamu masih membiarkan aku dekat denganmu, membuktikan lebih jauh tentang keseriusanku padamu," ucap Arjuna lagi yang sudah menyimpulkan sendiri arti respon gelengan kepala Vani.
"Kamu terlalu cepat menyimpulkan," cibir Vani.
Arjuna masih saja terdiam dan itu membuat Vani tertawa saat Vani berpikir jika Juna saat ini tengah merajuk padanya. Ya Tuhan, kenapa dia jadi terlihat menggemaskan? Batin Vani masih merasa lucu dengan sikap Juna.
Melihat Vani menertawakannya, sikap Arjuna semakin menggemaskan menurut Vani, pria itu masih saja merajuk padanya tanpa bertanya lebih lanjut akan jawabannya.
"Aku ingin kamu menemui keluargaku!" ucap Vani terdengar lebih serius dari sebelumnya.
Juna yang baru saja akan kembali melanjutkan perjalanan mereka, kembali menghadap Vani. "Aku sudah bertemu dengan mereka," jawab Arjuna masih terdengar datar.
"Hah? Apa?" Vani jelas terkejut mendengar ucapan Arjuna.
__ADS_1
"Aku bertemu dengan mereka di bandara, sata itu aku tengah menunggu jemputan, dan mereka sepertinya melihatku, mereka menghampiriku dan langsung mengenaliku. Kami berbicara sedikit di sana." Arjuna menceritakan sedikit yang terjadi agar Vani mengerti.
"Kenapa kamu tidak menceritakan itu padaku? Kenapa juga mereka tidak mengatakan apa pun padaku mengenai itu?" gumam Vani. "Apa yang kalian bicarakan?" tanya Vani lagi.
"Aku meminta izin mereka untuk mendekatimu," jawab Arjuna jujur.
"Kamu serius?" tanya Vani sedikit tak percaya karena tak ada pria yang selama ini berani berterus terang menghadapi Angga–ayahnya termasuk Johan. Namun, Arjuna, pria yang batu dikenalnya justru berani menghadapi ayahnya. Hal itu membuat Vani semakin menilai jika Arjuna memang jauh lebih baik dari Johan.
"Apa yang Papa katakan?" ucapnya tak berhenti bertanya.
"Calon mertuaku hanya mengatakan untuk tidak menyakiti putri kesayangan mereka," jawab Arjuna dengan senyum yang sudah kembali terlihat di wajah tampannya.
Menikah. Dulu menikah adalah hal yang sangat Vani inginkan. Menikah dengan pria yang dia cintai. Namun, setelah apa yang Johan lakukan padanya, Vani merasa ragu untuk menuju pada sebuah hubungan yang serius. Vani takut hal yang sama akan terulang lagi padanya.
"Temui keluargaku secepatnya, jika kamu memang serius padaku. Jika perlu, datanglah besok!" tantang Vani berbicara tanpa memikirkan terlebih dulu.
"Baiklah. Aku akan datang, besok!" jawab Arjuna lantang. "Tapi sebelumnya aku ingin mendengar jawabanmu terlebih dulu. Stevani Putri Anggara, maukah kamu menikah denganku? Menjadi istriku, mengganti nama belakangmu menggunakan namaku, menjadi ratu dalam kehidupanku, menjadi ibu dari anak-anakku, hidup bersamaku serta menua bersama hingga ajal menjemput kita." Arjuna kembali melamar Vani.
__ADS_1
Meski lamaran yang Vani dapatkan tidak seperti lamaran pasangan lain pada umumnya yang terjadi di tempat mewah, indah, romantis atau hal menarik lainnya. Namun cara Arjuna melamarnya tetap saja memberikan kesan tersendiri yang justru membuat Vani merasa cara Arjuna melamarnya adalah sesuatu yang tetap dapat membuatnya merasa acara lamaran mereka sempurna dan sulit untuk dilupakan.
"Bagaimana jika aku menolak?" tanya Vani berusaha menahan agar tidak tersenyum.
"Tidak ada lagi kesempatan untuk menolak," jawab Arjuna sembari melepaskan sebuah cincin dari jari kelingkingnya, dan memakaikannya di jari manis Vani.
"Aku sudah lama ingin bertanya. Cincin apa ini? Kenapa kamu selalu menggunakannya dan itu di jari kelingking?" tanya Vani memperhatikan cincin yang terlihat sederhana tetapi bermakna besar itu. "Jangan katakan kamu mafia!" sambung Vani membuat Arjuna tertawa sembari mencubit gemaa hidung Vani.
"Banyak hal yang dapat menjelaskan arti cincin ini, tapi satu hal yang harus kamu tahu, semuanya adalah hal baik. Tidak ada makna buruk sedikitpun dari cincin ini. Aku akan menceritakannya nanti secara perlahan, yang jelas cincin ini sangat berarti untukku karena itu aku tidak pernah melepaskannya," jawab Arjuna.
"Lalu kenapa kamu memberikannya padaku?" tanya Vani.
Arjuna terdiam sejenak. Pertanyaan Vani menjadi pertanyaan darinya untuk dirinya sendiri. Kenapa dia bisa memberikan cincin itu pada Vani? Apa sebegitu beartinya Vani dalam hidupnya? Pikir Arjuna.
Arjuna dengan cepat menahan tangan Vani yang ingin melepaskan cincin itu. "Kamu jauh lebih berharga dari cincin ini, karena itu aku mempercayakannya padamu. Dan lagi, karena aku belum sempat menyiapkan cincin untuk melamarmu, jadi aku menggunakan cincin ini untuk melamarmu. Aku pasti akan menggantinya dengan cincin yang jauh lebih bagus dari ini, jangan khawatirkan itu," ucap Arjuna.
"Aku tidak ingin cincin lain, aku menyukai ini," jawab Vani tersenyum mengangkat tanganya, memamerkan cincin yang sudah tersemat indah di jari manisnya tersebut.
__ADS_1
"Itu artinya kamu menerima lamaranku?" tanya Arjuna kembali memastikan dan itu membuat Vani gelagapan dan salah tingkah.
"Ingat. Temui orang tuaku jika kamu serius!" Hanya itu yang dapat Vani ucapkan sebelum akhirnya mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju pulang.