
Beberapa bulan telah berlalu, semua orang saat ini sedang berada di rumah sakit menyambut kehadiran anggota baru keluarga besar Anggara dan Lakeswara.
Vani sudah mulai merasakan kontraksi sejak pagi hari tepatnya beberapa jam yang lalu. Semua keluarga sudah berkumpul di rumah sakit dengan perasan cemas, doa-doa terus dipanjatkan oleh semuanya mengharapkan Vani dan bayinya selamat. Kecemasan juga dirasakan oleh Juna, ia begitu takut jika apa yang menimpa Johan juga menimpa dirinya. Juna merasa begitu takut jika Vani akan pergi meninggalkannya.
Vani yang merasakan sakit harusnya adalah orang yang paling merasa cemas menjelang kelahiran putranya, namun disaat melihat bagaimana seluruh orang terdekatnya yang tampak cemas malah membuat Vani terdiam. Ia berusaha untuk tidak terlalu memperlihatkan rasa sakitnya, meskipun sesungguhnya ia merasa begitu sakit. Vani jelas mengerti apa yang ditakutkan oleh semua orang, karena ia pun juga merasakan hal yang sama.
'Ya Allah, berikanlah kemudahan untukku!' ucap Vani dalam hati menahan rasa sakitnya.
Juna yang menemani Vani diruang persalinan tak dapat menahan emosinya, saat dokter lagi-lagi mengatakan belum saatnya melahirkan karena baru pembukaan lima.
Baik Ajeng dan Abimanyu, kedua orang tua Juna yang juga merasa jengah dengan sikap Juna yang dinilai berlebihan memilih untuk keluar meninggalkan Juna dengan drama yang dibuatnya.
"Dia sangat berlebihan!" ucap Anggara tertawa mengingat tingkah Juna.
"Itu tandanya dia begitu menyayangi putri kita, Mas!" sahut Ana.
"Entahlah, saat mamanya melahirkan dia. Aku tidak seperti itu," ucap Abimanyu mendapat cibiran dari istrinya.
"Kalian ayah dan anak sama saja!" sarkas Ajeng mengundang tawa semua orang yang mendengarnya.
"Apa tidak ada obat atau apapun itu yang dapat menghilangkan rasa sakit istriku?" tanya Juna menatap tajam pada dokter Indira, namun tangannya masih tetap menggenggam erat tangan Vani.
"Maaf, Tuan. Seperti inilah proses melahirkan, semua wanita pasti mengalami hal yang sama," jawab Indira berusaha untuk tetap tenang, sebab sudah biasa menghadapi keluarga pasien seperti Juna.
Semua petugas yang bekerja disana merasa begitu tegang dengan keberadaan Juna, apalagi Juna tidak mengizinkan satupun dari mereka untuk keluar meninggalkan Vani yang belum dapat diperkirakan jam berapa tepatnya mencapai pembukaan sepuluh sehingga siap untuk melahirkan.
"Mas, tenanglah!" ucap Vani pelan menatap Juna.
__ADS_1
"Bagaimana aku bisa tenang melihatmu seperti ini. Ya Tuhan, aku siap menggantikan rasa sakitnya, jangan istriku, aku saja yang merasakannya!" ucap Juna mengusap wajah pucat Vani dengan sebelah tangannya.
Proses persalinan Vani diselimuti dengan perasaan cemas, namun juga sedikit lucu dan mengesalkan karena sikap Juna. Kepanikan Juna membuat suasana menjadi lucu sekaligus membuat orang-orang jengah melihat sikapnya.
Setelah beberapa jam berlalu, sekarang tibalah dimana dokter Indira mengatakan jika Vani sudah siap untuk melahirkan, Ia meminta untuk semua orang yang tidak berkepentingan keluar dari ruangan, begitupun dengan Juna karena dokter Indira berpikir tingkah Juna malah akan mengganggu pekerjaan mereka, namun Juna tetap dengan pendiriannya untuk tetap berada disana.
"Baiklah Tuan, kami mohon maaf sebelumnya. Jika anda tetap ingin berada disini menemani istri anda, maka tolong bersikap tenang dan jangan mengganggu pekerjaan kami," ucap Indira tegas pada Juna yang mengangguk mengerti.
Pukul setengah empat sore, bertepatan dengan suara adzan berkumandang. Akhirnya hal besar itu tiba juga, dimana suara tangis bayi terdengar menggema didalam ruangan bahkan terdengar sampai keluar. Kebahagiaan yang begitu besar dirasakan oleh semua yang menantikan kehadiran anggota baru mereka, terutama Juna. Kebahagiaan yang begitu besar dirasakannya tak bisa dilukiskan oleh Juna saat mengetahui bagaimana wujud makhluk tampan nan mungil yang kehadirannya sangat dinantikan oleh semua orang selama sembilan bulan.
Juna yang pertama kali melihat putranya, terlihat menangis akibat terharu dan bahagia. Seorang bayi yang sangat tampan, dilahirkan dengan berat 3,5 kilogram dan panjang 51 centimeter. Juna menatap penuh cinta pada istrinya yang masih terbaring lemah di ranjang persalinan. Tanpa basa-basi, ia pun menangkup kedua pipi Vani dan membisikkan sesuatu di telinganya, "Anak kita sangat tampan, dia persis seperti ayahnya. Terima kasih sayang, aku sangat mencintaimu, aku sangat mencintai kalian!"
Meski dalam keadaan yang lemas, Vani tetap tersenyum menatap suaminya. Senyuman Vani seketika membuat semua bisa menangkap ketenangan dan kebahagiaan di mata keduanya.
Juna keluar dari ruang persalinan saat perawat akan membersihkan anak dan istrinya. Ia keluar dengan raut wajah bahagia siap membagikan rasa bahagianya pada semua orang yang menunggu diluar.
Ia menatap satu persatu mereka yang ada diluar, hingga matanya bertemu dengan manik mamanya. Juna melangkahkan kakinya menghampiri sosok perempuan paruh baya yang sudah sangat berjasa dalam hidupnya. Menatap penuh rasa bahagia pada Wanita yang telah membesarkan dan memberikan kasih sayang yang berlimpah padanya.
Melihat bagaimana perjuangan Vani melahirkan anak mereka membuat Juna menjadi tau beratnya beban seorang wanita saat melahirkan, memperjuangkan, siap menghadapi maut saat melahirkan anak mereka.
"Selamat sayang, sekarang kamu sudah menjadi seorang Ayah. Jadilah kepala keluarga yang baik dan bijaksana untuk keluarga kecilmu, nak. Mama selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian, selamat atas kelahiran putramu, Nak!" jawab Ajeng balas memeluk Juna.
Semua orang yang mendengar merasa amat bahagia, kebahagiaan mereka terasa lengkap dan sempurna dengan kabar bahagia yang mereka dengar saat ini. Meskipun sudah mendengar suara tangisan bayi sebelumnya, namun mendengar langsung dari Juna jika keduanya selamat, tentu lebih membahagiakan dan menenangkan untuk semua orang yang awalnya merasa cemas.
Ucapan selamat, Juna dan Vani dapatkan dari semua anggota keluarga mereka, saat Vani dan bayinya sudah dipindahkan kedalam ruang perawatan.
"Juna, bukankah kamu belum mengadzani putra kalian?" tanya Abimanyu mengingatkan menantunya.
__ADS_1
"Iya Ayah, aku hampir melupakannya saking senangnya!" jawab Juna menghampiri bayinya yang berada dalam dekapan Vani, lalu mengambilnya untuk mengadzani putra mereka.
Juna menggendong bayinya menghadap kiblat dan mulai mengumandangkan azan di telinga kanan putranya, lalu membacakan iqamah di telinga kirinya.
"Selamat datang, jagoan. Selamat datang
Dilan Zayn Emery, artinya anak laki-laki yang tampan selalu setia bagaikan pemimpin yang baik," ucap Juna dengan lantang terdengar ditelinga semua orang yang berada disana.
"Dilan Zayn Emery. Nama yang sangat bagus," sahut Vivian saudara ipar Juna menghampiri Juna dan Vani, kembali mengucapkan selamat untuk mereka.
"Jadi nama panggilannya siapa, Jun?" tanya Vivian.
"Dilan, kita akan menyebutnya Dilan," jawab Juna mengelus sayang wajah putranya.
Semua orang mulai berkerumun melihat baby Dilan yang sudah berada dalam dekapan Juna, membuat Vani yang melihat merasa sangat bahagia dan bersyukur atas semua yang ia dapatkan dalam hidupnya.
Juna yang melihat senyuman istrinya keluar dari kerumunan dan menghampiri istrinya. Duduk dipinggir ranjang, mengecup lama kening istrinya.
"Aku begitu mencintaimu, sayang. Sekali lagi terima kasih sudah memberikan aku hadiah terbesar dalam hidup ini, aku begitu bahagia. Aku sangat-sangat mencintai kalian, aku berjanji akan selalu memberikan kebahagiaan untuk kalian," ucap Juna membawa Vani untuk masuk kedalam pelukannya.
"Aku juga berterima kasih padamu, Mas. Terima kasih sudah menerima semua kekuranganku, terima kasih sudah menjadi suami yang baik untukku, aku berharap kedepannya semua akan lebih mudah dan membahagiakan untuk kita semua. Aku juga mencintaimu," jawab Vani bersandar dalam pelukan Juna menatap semua orang yang tengah menyapa putra mereka.
Manusia yang belum pernah mengalami penderitaan, dan belum tau apa itu kesabaran, tidak akan pernah mengalami yang namanya kebahagiaan hidup. Jadi, sebelum menemukan yang namanya kebahagiaan, pastinya kita harus tau terlebih dahulu apa itu penderitaan, agar kita dapat bersyukur atas yang namanya kebahagiaan.
***
Hai kakak semuanya. Untuk Vani dan Juna udah happy ending ya kak.
__ADS_1
Mungkin setelah beberapa extra part, selanjutnya cerita ini akan aku lanjutkan dengan season 2, tapi lebih kek kisah Johan dan anak-anak mereka nanti. Semoga masih ada yang mau mengikuti kelanjutannya.
Sekali lagi terima kasih untuk semua yang sudah mengikuti dan mendukung cerita ini. 🙏🤗🙏🤗