Suamiku Bucin Akut

Suamiku Bucin Akut
Keinginan Ibu Hamil


__ADS_3

Kehamilan adalah salah satu hal terindah yang terjadi pada perempuan. Kehamilan tidak hanya diwarnai dengan kegembiraan, tapi juga tantangan yang akan membuat pengalaman seorang perempuan semakin berharga.


Satu minggu kemudian, setelah mengetahui tentang kehamilan Vani.


Juna dan semua orang menjadi Lebih memperhatikan Vani. Semua orang benar-benar menjaga dan menantikan anggota baru mereka, terutama Juna yang menjadi semakin posesif pada Vani.


Vani benar-benar merasa bahagia dengan perhatian serta kasih sayang yang diberikan keluarganya. Meskipun terkadang merasa jika semuanya terlalu berlebihan, apalagi Juna yang sangat-sangat berlebihan menurutnya, tapi dibalik itu semua, Vani merasa amat bersyukur dengan limpahan kebahagiaan yang ia dapatkan.


Hari ini, Semua orang berkumpul dikediaman Juna dan Vani dalam rangka akan mengunjungi beberapa panti asuhan serta beberapa tempat lainnya untuk memberikan santunan.


Semua merasa ingin berbagi kebahagiaan mereka atas kabar baik yang mereka dapatkan.


Juna berdiri dibalik pintu kamarnya melihat Vani yang sedang terlihat menatap perutnya yang masih datar lewat pantulan cermin.


Keinginan Juna yang berharap bisa secepatnya memiliki anak menjadi kenyataan, jadi sangat wajar jika Juna begitu bahagia dan begitu antusias menjaga serta menanti kehadiran anaknya.


"Sayang, kamu sudah siap?" tanya Juna menghampiri Istrinya dan mengecup sekilas bibir Vani.


"iya, sudah!" jawab Vani tersenyum menatap suaminya.


"Aku sangat tidak sabar menantikan kelahirannya!" seru Juna sembari berlutut didepan Vani, lalu mensejajarkan kepalanya tepat didepan perut Vani.


"Hai ... sayangnya Ayah. Baik-baik didalam ya nak, Ayah dan Bunda sangat menyayangimu!" ucap Juna lembut, mengecup perut Vani yang masih datar.


"Iya Ayah, aku juga menyayangi Ayah dan Bunda," jawab Vani, menirukan suara anak kecil, sembari membelai lembut rambut Juna.


'Ya Tuhan, terima kasih banyak untuk semua ini. Lindungilah selalu keluargaku dan orang-orang yang kusayangi!' batin Juna.

__ADS_1


Juna melingkarkan tangannya di pinggang Vani setelah mendengar ucapan Vani, wajahnya masih terus berada di depan perut dan mengecup perut Vani.


"Aku sungguh sangat mencintai Kalian, terima kasih sudah hadir dalam hidupku," ucap Juna dengan mata berkaca-kaca mendongakkan kepalanya menatap Vani lalu kembali mengecup sayang perut istrinya.


Vani menarik lengan Juna untuk berdiri, lalu menangkup kedua pipi suaminya dan mengusap air mata bahagia yang menetes dari sudut matanya.


"Aku juga sangat mencintaimu, Mas! Terima kasih juga sudah hadir dalam hidupku. Aku dan anak kita sangat mencintaimu," jawab Vani, mengecup seluruh wajah Juna lalu menghambur masuk dalam pelukannya.


Tok ... tok ... tok ...


"Juna, Vani. Semua sudah menunggu kalian!" suara mertua Vani terdengar dari luar pintu kamar.


"Iya, Ma!" jawab Vani dari dalam.


"Ayo, Mas. Semua sudah menunggu kita!" Seru Vani melepaskan pelukannya, lalu menarik tangan suaminya untuk keluar dari kamar mereka.


"Sekarang putraku sudah menemukan kebahagiaannya, kamu kapan Ra?" tanya Ajeng pelan pada Aura yang berdiri disampingnya.


"Apaan sih Ma? Aku masih kecil." Canda Aura santai.


"Kecil apanya? Hanya selisih setahun dari iparmu." Ajeng menepuk pelan lengan anaknya yang hanya menanggapi dengan cengiran.


Bukan hanya mereka yang menatap bahagia pada pasangan suami istri itu. Vani jiga menatap bahagia pada seluruh anggota keluarganya yang sudah berkumpul dikediamannya.


"Ya sudah, kalau semua sudah siap. Kita berangkat sekarang!" seru Anggara yang disetujui semua orang.


Seharusnya mereka bisa berbagi tugas untuk memberikan santunan ke setiap tempat yang akan mereka datangi, namun permintaan Vani ingin semuanya datang beramai-ramai agar semakin menyenangkan. Keinginan Vani tentu saja dituruti oleh semua orang, apapun keinginan Vani tentu saja mereka akan memberikannya.

__ADS_1


Secara beriring-iringan, mobil mulai membelah jalanan menuju tempat pertama yang akan mereka datangi.


Ditengah perjalanan, Vani meminta supir menghentikan laju mobil saat melihat penjual es keliling yang berada tak jauh dari mobil mereka.


"Mas, aku mau itu!" tunjuk Vani manja pada Juna.


"Sayang, bagaimana kalau ... "


"Jangan menilai apapun hanya dari luarnya, aku ingin itu! Kalau mas tidak mau, Mas tidak perlu turun," serkas Vani, yang tiba-tiba merasa kesal dengan Juna.


Dari arah samping, Vivian mengetuk kaca jendela mobil yang ditumpangi Juna, karena merasa bingung melihat mereka berhenti dipinggir jalan.


"Ada apa?" tanya Vivian setelah kaca mobil dibuka.


"Vani ingin itu!" tunjuk Juna pada penjual es keliling.


"Kamu mau es dawet, Van?" tanya Vivian lembut, pada Vani yang terlihat cemberut.


Vani menganggukan kepalanya masih dengan wajah yang setia cemberut, membuat Vivian menahan tawanya, merasa gemas dengan ibu hamil kesayangan mereka.


Vivian tersenyum menatap adik kesayangannya lalu berkata,


"Ya sudah, ayo kita kesana. Kakak akan menemanimu!"


Wajah cemberut Vani seketika berubah sangat ceria mendengar ucapan Vivian, dengan cepat Vani keluar dari mobil memutari mobil lalu melingkarkan tangannya di lengan Vivian.


Vivian dan Vani lebih dulu menyebrangi jalan menuju penjual es tersebut. Berbeda dengan Angga dan yang lainnya yang tertawa menatap Juna setelah mereka mengerti apa yang terjadi.

__ADS_1


"Ibu hamil memang suka begitu," ucap Anggara tertawa menepuk pelan bahu Juna lalu kembali ke mobilnya, sembari menunggu Vani dan Vivian.


__ADS_2