Suamiku Bucin Akut

Suamiku Bucin Akut
Kebesaran Hati


__ADS_3

Mendengar kabar dari art jika anak dan menantunya pergi ke rumah sakit lebih tepatnya ke dokter kandungan. Ajeng dan Abimanyu yang baru saja akan pergi ke luar kota justru bergegas pergi ke rumah sakit menyusul Vani dan Juna.


Perasaan bahagia menyelimuti mereka meski mereka belum tahu kepastian kandungan Vani, tetapi mereka merasa jika keinginan mereka untuk mempunyai cucu akan segera terwujud.


"Pak, tolong lebih cepat!" pinta Ajeng pada supir mereka.


Mereka tiba di rumah sakit yang dituju Vani dan Juna. Keduanya langsung bertanya dan mencari keberadaan Vani dan Juna, tapi yang mereka datangi bukan ruang dokter kandungan, melainkan ruang perawatan biasa.


Ajeng yang mulai panik bergegas masuk ke dalam kamar tersebut dan melihat menantunya tengah berbaring di sana.


"Tentu sayang, tentu saja aku akan selalu di sampingmu. Menjagamu, dan anak kita!" Ucapan Juna terdengar jelas di telinga Ajeng dan Abimanyu yang menerobos masuk ke dalam sana.


"Hamil? Vani hamil?" tanya Ajeng dengan antusias menghampiri Vani.


Vani, Juna, atau pun Rizal jelas terkejut dengan kedatangan Ajeng dan Abimanyu yang begitu tiba-tiba. Vani tersenyum mengangguk menanggapi pertanyaan mertuanya.


"Benar, Pa, Ma. Kami akan segera menjadi orang tua!" ucap Vani senang, perlahan duduk bersandar di ranjang dibantu oleh Jun.

__ADS_1


"Selamat untuk kalian. Kami merasa sangat bahagia mendengarnya, kami juga akan menjadi kakek dan nenek?" ucap Abimanyu tersenyum menatap Vani.


"Semoga kalian selalu dilindungi dan diberikan kebahagiaan, Mama selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian!" sahut Ajeng mengecup sayang kedua pipi Vani.


"Terima kasih Ma. Aku bahagia memiliki kalian semua," jawab Vani dengan mata berkaca-kaca.


Seseorang yang juga berada disana dan melihat semua yang ada didepan matanya, terlihat sendu saat melihat bagaimana bahagianya mereka menyambut kehamilan Vani, melihat bagaimana semua orang menyayangi Vani. Semakin terenyuh hati Rizal saat kenangan tentang Irene kembali terlintas di benaknya.


Maafkan aku, sayang. Harusnya kita juga bahagia seperti mereka. Namun aku menghancurkan semuanya, maafkan aku. Batinnya.


"Om," panggil Juna menghentikan langkahnya.


Rizal memutar tubuhnya menatap Juna. "Terima kasih," ucap Juna lagi.


Rizal tersenyum menanggapi ucapan Juna. "Jangan berterima kasih. Saya harusnya meminta maaf atas semua yang terjadi. Maafkan Johan karena masih saja mengusik Vani. Maafkan juga sikap Mamanya Johan. Saya dengan tulus meminta maaf dan berdoa untuk kebahagiaan kalian," ucapnya.


"Terima kasih, Om. Kami juga berdoa untuk kesembuhan Johan," balas Juna sebelum Rizal pergi.

__ADS_1


Juna kembali masuk ke dalam ruangan dimana Vani berada. Terlihat jelas wajah-wajah bahagia dari istri dan kedua orang tuanya.


"Sayang, kamu tidak ingin menjenguk Johan?" tanya Juna membuat Vani terdiam.


Vani terdiam mendengar pertanyaan dari suaminya. Di satu sisi ia ingin menjenguk Johna, namun disisi lainnya ia juga harus menjaga perasaan pria yang sudah menjadi suaminya itu.


"Johan? Pria itu? Yang pernah diusir saat akan mengacau di pernikahan kalian?" tanya Abimanyu membuta Vani terkejut mendengarnya.


Abi yang sadar telah salah bicara menjadi salah tingkah. "Dia terpaksa di usir karena dia mengamuk ingin masuk dan berkata kamu hanya boleh menjadi miliknya. Intinya dia tidak rela kalian menikah. Jadi sudah sewajarnya dia dilarang masuk." Ajeng yang juga mengetahui peristiwa itu, memberi tahu Vani dengan lembut. Ajeng jelas tidak ingin terjadi kesalahpahaman dalam rumah tangga anaknya.


"Iya Ma. Aku mengerti," jawab Vani pelan.


Juna yang mengerti apa yang sedang dipikirkan istrinya memilih mengalah, meskipun ia menawarkan, tapi jauh di lubuk hatinya dia sangat enggan mengizinkan istrinya menemui Johan. Juna merasa takut jika Vani akan kembali simpati dan kembali membuka hatinya untuk Johan, namun mengingat lagi pesan dokter agar tidak membebani pikiran Vani, membuat Juna akhirnya memilih mengalah.


"Sayang, temui dia jika kamu ingin menjenguknya. Aku tidak masalah," sahut Juna berkata pada istrinya.


"Mas sungguh mengizinkan?" tanya Vani mencoba memastikan lagi.

__ADS_1


__ADS_2