Suamiku Bucin Akut

Suamiku Bucin Akut
Aku Merindukanmu


__ADS_3

Dengan perasaan yang teramat bahagia, Arjuna tiba di Jakarta. Arjuna yang saat ini sudah berdiri di depan pintu apartemen Vani, dengan membawa buket bunga berukuran cukup besar, tersenyum membayangkan hari-hari yang akan mereka lalui nanti. Membayangkan tinggal satu langkah untuknya menghilangkan pembatas diantara mereka, membuat Arjuna semakin senang.


"Aku belum bisa mengatakan aku mencintaimu, sebab aku sendiri masih belum yakin apa ini cinta. Namun yang aku tahu semua perasaan yang aku miliki untukmu tulus, dan aku yakin semua ini akan mengarah pada kata cinta, seiring waktu kita bersama. Selamat malam sayang," ucapnya sebelum masuk ke apartemennya sendiri yang berhadapan dengan unit milik Vani.


Juna bisa saja dengan mudah mengatakan jika dia mencintai Vani, tetapi Juna tidak melakukan semua itu sebab Juna tidak ingin mengatakan sesuatu yang dia sendiri belum bisa memastikannya. Berkata yang tidak sebenarnya bukanlah Juna. Jika dia sudah mengatakannya, maka sudah dipastikan jika itu memang yang dia inginkan. Juna bukan tipe pria yang akan berbohong hanya agar mendapat pujian atau merayu wanita. Setiap apa yang dia ucapkan, maka harus keluar bukan hanya dari mulut tapi tulus dari hatinya. Itulah Juna, sosok pria yang tentu saja mencerminkan sebagai pria yang bijak dan bertanggung jawab.


Esok harinya. Arjuna terbangun lebih cepat dari biasanya. Satu hari tak bertemu membuat rasa rindu itu seakan sudah sangat berat. Dengan hati gembira, Arjuna bergegas membersihkan diri sebelum mendatangi kekasihnya itu.


Jarum jam baru menunjukan pukul setengah enam pagi, tetapi Juna sudah berdiri di depan pintu apartemen Vani dengan membawa buket bunga mawar putih yang bersyukur masih terlihat segar.


Arjuna yang sudah tahu kode akses masuk ke dalam apartemen kekasihnya itu, dengan mudah membuka pintu. Sunyi sepi itulah yang menggambarkan suasana di sana saat pemilik apartemen tersebut masih terlelap. Pria tampan dengan sejuta pesona itu perlahan membuka pintu kamar Vani, senyum yang indah kembali terbit di bibirnya saat melihat wajah cantik wanita yang disayanginya.

__ADS_1


Dengan sangat hati-hati agar tak membangunkan Vani, Arjuna meletakkan bunga yang dibawanya di atas bantal sebelah kanan Vani. Kartu ucapan yang ada di bunga itu di tulis dengan kalimat. "Selamat pagi calon istriku. Aku merindukanmu."


Setelah itu, Arjuna memutari ranjang, menatap Vani sejenak, menikmati keindahan yang ada di depan matanya, sebelum akhirnya mendekat, meninggalkan satu kecupan di dahi Vani.


Arjuna bergegas keluar dari kamar Vani, saat menyadari jika tidak akan baik bila dia berlama-lama di sana. Tujuan Arjuna selanjutnya adalah dapur.


Sebagai seorang Milyarder, memasak tentunya bukan pekerjaan Juna. Namun, meski tak bisa dikatakan ahli, tetapi Arjuna dapat membuat beberapa masakan dan yang saat ini akan Arjuna lakukan adalah membuatkan sarapan untuk wanitanya. Ya, satu-satunya orang yang mendapatkan perlakuan istimewah darinya.


Vani yang sadar jika pria pemaksa itu saat ini pasti berada di apartemennya, bergegas turun dari ranjang, mencuci muka dan menggosok giginya, setelah itu keluar dari kamar. Suara berisik dari arah dapur menjadi tujuan Vani. Dia berjalan dengan hati-hati berniat untuk mengejutkan pria yang saat ini dia lihat tengah fokus berkutat di dapur itu.


Niat hati yang awalnya ingin mengejutkan Juna justru berbeda dengan apa yang Vani lakukan. Vani justru memeluk Juna dari belakang dan menikmati apa yang tengah dia lakukan dengan senyum bahagia.

__ADS_1


"Aku merindukanmu," kata itu terucap dari bibirnya membuat Arjuna yang masih membelakanginya dan menikmati pelukan Vani ikut tersenyum bahagia.


Juna sadar dan merasa yakin jika Vani spontan melakukan itu dan belum menyadari apa yang dia lakukan.


"Aku juga sangat merindukanmu," jawab Juna mengusap lembut tangan Vani yang melilit di pinggangnya.


Vani yang merasakan itu baru menyadari dengan apa yang dia lakukan, Vani melepaskan pelukannya dan bersiap menjauh, tetapi Juna dengan cepat berbalik justru menahan dan membawa Vani masuk dalam pelukannya.


"Lepas!" pinta Vani dengan wajah menunduk, tak berani menatap Arjuna.


Arjuna yang melihat itu menjadi gemas, dia menyentuh dagu Vani, mengangkat pelan dagu Vani agar Vani menatapnya. Saat tatapan keduanya bertemu, pancaran mata keduanya memancarkan kebahagiaan, wajah Arjuna perlahan mendekat dan semakin mendekat.

__ADS_1


"Aku harus mandi dan bersiap!" Vani mendorong pelan Arjuna, lalu berlari masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Arjuna yang hanya bisa tertawa melihatnya.


__ADS_2