
Seperti yang di katakan Rani sebelumnya jika pukul sebelas Johan akan mendatangi sekolah baru untuk Arsen, saat ini duda tampan tersebut sudah berada di rumah menjemput putra kesayangannya.
"Bi, Arsen sudah siap?" tanya Johan pada Maryam.
"Sudah tuan, saya panggilkan dulu!" ucap Maryam.
"Baiklah, aku tunggu di mobil, ya Bi!" Johan beranjak keluar dari rumah.
Johan berdiri di samping mobilnya sembari mengeluarkan sebatang rokok dan menghisapnya, Johan yang dulu jarang merokok, sekarang mengalihkan dari kebiasaannya mengkonsumsi minuman beralkohol dengan rokok. Entah sudah berapa banyak minuman keras itu masuk ke dalam tubuhnya saat ia patah hati pada cinta pertamanya dulu, yang jelas saat ini dia sudah sangat jarang melakukan hal buruk itu.
"Wah, tampannya putraku!" ucap Johan menginjak puntung rokoknya, saat melihat Arsen melangkah keluar dari rumah, menghampirinya.
"Merokok bisa membunuh perokok!" kata Arsen ketus, masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah di bukakan oleh Johan, membuat Johan yang mendengar tertawa.
Slogan merokok bisa membunuh perokok, itu selalu menjadi kalimat Arsen setiap kali melihatnya merokok. Putranya tidak pernah secara langsung memintanya untuk berhenti merokok, tapi kalimat yang di ucapkan lebih pedas yaitu merokok dapat membunuh perokok.
"Papa berharap semoga kamu suka dengan sekolah baru ini, ya!" Johan berkata saat mobil sudah melaju keluar dari kediaman mereka.
"Selagi aku tidak melihat guru-guru yang kecentilan, maka aku akan menyukai sekolah tersebut," balas Arsen.
Yang di katakan Arsen bukan tanpa alasan. Terbilang sudah tiga kali Johan mengantarkan Arsen ke taman kanak-kanak, namun tidak ada satupun yang di sukainya, dengan alasan niat wanita di situ bukan mengajar namun mencari pacar. Entah bagaimana bisa anak seusianya bisa berpikiran seperti itu, namun begitulah faktanya yang terjadi.
"Kenapa kamu bisa bilang guru-guru itu kecentilan?" tanya Johan penasaran.
"Bagaimana tidak kecentilan jika setiap ada pria tampan yang datang ke sana mereka mulai terlihat mencari perhatian, terutama saat melihat Papa. Mereka bahkan berpura-pura mendekatiku, hanya untuk mencari informasi tentang Papa," jawab Arsen mengatakan yang sebenarnya.
"Jadi ingat pesanku, Papa hanya boleh menikah kembali jika aku yang mengizinkannya, aku akan menilai terlebih dahulu calon mama tiriku," ucap Arsen terdengar seperti pria dewasa yang tengah menasehati anaknya, membuat Johan tertawa sembari mengacak gemas rambutnya.
"Terkadang aku merasa putraku lebih seperti seorang teman di bandingkan anak," ucap Johan tertawa.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, tibalah mereka di tujuan, di sebuah bangunan bertuliskan 'TK Harapan.'
Johan turun dari mobil terlebih dahulu Lalu membukakan pintu mobil untuk putranya, keduanya melangkah masuk ke dalam gerbang sekolah, namun sebelumya Johan berhenti sejenak membaca tulisan yang berada di dinding sekolah.
TK Harapan.
VISI:
Menyiapkan generasi kreatif, cerdas dan berkarakter.
MISI:
Menggali pembelajaran yang bersumber pada kreativitas.
Menggali dan mengembangkan potensi kecerdasan anak dengan belajar melalui bermain.
Mewujudkan penyelenggaraan pendidikan yang menghargai keanekaragaman dan tidak diskriminatif bagi semua anak.
TUJUAN:
Mengembangkan kreativitas anak didik.
Melatih anak berpikir kreatif, analitis dan inovatif.
Mengoptimalkan potensi kecerdasan melalui stimulasi yang sesuai dengan tahap perkembangan anak.
Mempersiapkan calon generasi masa depan yang menghargai perbedaan.
__ADS_1
Membekali anak dengan berbagai kemampuan untuk mengikuti pendidikan selanjutnya.
Ada lagi beberapa informasi lainnya mengenai prestasi dan keunggulan TK tersebut membuat Johan merasa tertarik dengan TK yang akan ia titipkan sebagi tempat belajar putranya.
"Sepertinya kali ini pilihan yang tepat," gumam Johan melangkah masuk mencari ruang dimana tempat pendaftaran.
"Silahkan masuk, Pak!" ucap seseorang yang menjabat sebagai kepala sekolah, bernama Yuli.
"Terima kasih," jawab Johan masuk ke dalam ruangan tersebut dan duduk di kursi yang tersedia di sana, bersama Arsen.
"Wah, ini anaknya ya, yang mau bersekolah di sini? Tampan sekali," puji Yuli. "Siapa namanya, kalau Bunda boleh tau?" ucap Yuli bertanya sembari mengusap lembut kepala Arsen yang hanya memasang wajah datarnya.
"Arsen." Dengan singkat bocah itu menjawab.
"Arsen masih malu sepertinya, ya?" ucap Yuli lagi, yang hanya di anggukkan oleh Johan.
'Bukan malu, melainkan dia tidak suka anda menyentuh kepalanya,' jawab Johan dalam hati.
"Sebelumnya saya berterima kasih karena bapak Johan berniat menitipkan putra Anda di sekolah kami, saya akan menjelaskan mengenai semua yang ada di sini ... " ucap Yuli mulai menerangkan semua hal yang berhubungan dengan TK Harapan.
Johan mendengarkan semua penjelasan dengan seksama, dan tibalah akhirnya kepala sekolah itu menanyakan pendapat Johan.
"Bagaimana menurut bapak? Jika ada yang mau di tanyakan silahkan, pak!" ucap Bunda Yuli.
Semua guru yang ada di sana berjenis kelamin perempuan, dan akan di panggil dengan sebutan Bunda oleh semua muridnya.
"Arsen, bagaimana menurutmu?" tanya Johan pada Putranya.
__ADS_1
"Aku setuju," dua kata yang terucap dari bibir Arsen membuat Johan menghela nafas lega.