Suamiku Bucin Akut

Suamiku Bucin Akut
Pendapat Vani


__ADS_3

Seperti yang sudah mereka rencanakan, sekarang Vani dan Amanda beserta anak-anak akan jalan ke pusat perbelanjaan terbesar yang ada di ibuk kota. Meski tanpa Juna ataupun Renata dan Rizal, namun, keamanan yang di berikan Juna tentu saja tingkat tinggi. Juna menggunakan jasa orang-orang terbaik yang dapat menjaga keamanan istri dan anaknya tanpa harus membuat orang-orang tau akan keberadaan mereka yang bertugas menjaga keluarganya.


"Van, kamu yakin bawa mobil sendiri? Bagaimana dengan suamimu? Dia mengizinkan?" tanya Amanda ragu ketika mereka sudah berada di perjalanan, mengingat bagaimana Juna yang ia lihat begitu posesif pada Vani.


"Tenang, tidak apa-apa. Tuh liat di belakang dan di depan kita!" tunjuk Vani membuat Manda sontak saja menatap ke depan dan ke belakang meraka.


"Ada apa?" tanyanya bingung pada Vani.


"Mas Juna mana mungkin membiarkan aku pergi tanpa pengawalan, aku boleh menyetir sendiri seperti ini asal double pengawal, seperti yang ada di depan ini. Sekarang aku jadi merasa sudah seperti istri pejabat tinggi," ucapnya tertawa. Amanda yang mulai mengeri arti ucapan Vani ikut tertawa di buatnya.


"Itu tandanya dia sangat mencintaimu," ucap Manda tersenyum yang lagi-lagi kembali teringat pada Alan yang begitu perhatian dan menjaganya saat masih ada.


"Kenapa, Mbak?" tanya Vani menatap Amanda sekilas yang terlihat murung setelah mendengar jawabannya.


"Aku merindukan almarhum suamiku," jawabnya membuat Amanda mengerutkan alisnya bingung saat Manda menyebut pria lain di saat statusnya sudah menjadi istri Johan, meskipun orang yang ia bahas sudah meninggal.

__ADS_1


"Aku dan Johan tidak ada apa-apa. Kami berteman, karena dia hanya mencintai ka–" ucapan Manda terputus saat Vani mengisyaratkan dengan mimik wajahnya untuk berhenti bicara, karena ada anak kecil bersama meraka dan ia juga tidak ingin membahas semua itu.


"Jangan membahasnya, aku merasa tidak nyaman mendengarnya," ucap Vani pelan.


"Ya ampun, aku lupa ada mereka!" Amanda menepuk dahinya sendiri, lalu keduanya tertawa.


"Maaf ya, Van," ucap Manda.


"Tidak apa-apa Mbak, aku hanya tidak ingin mereka mendengar obrolan orang dewasa. Nanti kita bicarakan setelah anak-anak sudah berada di tempat bermain, karena di sana akan ada petugas yang menjaga mereka, tapi jangan membahas tentang yang lain, aku akan mendengarkan cerita Mbak, juga maksud Mbak yang berkata jika hanya berteman tadi saja," ucap Vani yang di anggukkan setuju oleh Amanda.


"Apa maksud Mbak, dengan berteman?Kalian sudah menikah, kalian pasangan suami istri, Mbak?" ucap Vani saat mereka sudah mengambil tempat duduk di cafe tersebut.


"Kami berdua nyaman berteman. Kami juga sama-sama tidak bisa membuka hati, dan kami nyaman dengan hubungan yang sekarang kami jalani," jawab Amanda santai sembari tersenyum pada Vani.


"Mbak yakin? Menurutku kalian salah," ucap Vani.

__ADS_1


"Nyaman hanya ucapan kalian karena yang sebenarnya nyaman itu datang karena perasaan kalian satu sama lain yang membuat kalian merasa nyaman. Kalian hanya belum menyadari perasaan kalian masing-masing," ucap Vani lagi membuat Manda menatap bingung dari mana Vani bisa menilai seperti itu.


Vani tersenyum mengerti apa yang Manda pikirkan. "Aku percaya dengan penilaianku, Mbak. Kalian terlihat cocok satu sama lain, meski aku tidak menyaksikan langsung kehidupan kalian, tapi aku sangat tahu jika sudah banyak yang berubah dari Johan. Semua karena kehadiran, Mbak Manda."


Vani terus saja mengatakan pendapatnya dan Amanda yang mendengar mencoba mencerna semuanya. Benarkah itu yang terjadi? Tapi aku masih mencintai mas Alan. Batinnya.


"Sepertinya kalian salah menilai, Van. Mungkin karena kami begitu pandai melakoni peran kami sebagai papa dan mama untuk anak-anak. Aku dan Johan dapat menjadi partner yang baik dalam menjaga anak-anak. Johan menerima Neisha, begitupun aku menyayangi Arsenio," ucap Amanda mencoba menyangkal pendapat


"Kalian pasangan yang serasi. Aku yakin semua hanya butuh waktu, ketika kalian menyadari perasaan kalian, maka dengan sendirinya hati kalian akan menerima satu sama lain. Mbak, aku sangat mengenal Johan. Nyaman bukan hal yang mudah dalam hidup Johan dan kenyamanan hanya dia dapatkan bersama orang yang dia sayangi. Perasaan itu sudah ada, Mbak. Hanya kalian saja yang belum menyadarinya," ucap Vani masih mencoba meyakinkan Amanda dengan pendapatnya.


"Entahlah, aku tidak tahu harus menanggapi seperti apa pendapatmu," kata Manda.


"Aku hanya bisa berdoa yang terbaik untuk kalian." Vani tersenyum mengusap tangan Manda yang juga tersenyum menatapnya.


"Mbak, maaf sebelumnya. Tapi, apa aku boleh bertanya tentang Neisha?" tanya Vani membuat raut wajah Manda berubah tegang.

__ADS_1


__ADS_2