
Sama halnya dengan Johan yang tengah berbahagia mempersiapkan semua kebutuhan anaknya.
Vani dan Juna juga selalu merasa bahagia dengan hari-hari mereka, kehadiran seorang anak benar-benar membawa kebahagiaan untuk semua calon orang tua.
"Sayang, ayo kita belanja kebutuhan baby!" ucap Juna yang tak henti-hentinya merengek pada Vani yang tengah asik menikmati buah segar didalam kamarnya sembari menonton Tv.
"Mas, aku bilang nanti. Belum sekarang, Mas!" jawaban yang sama juga Vani lontarkan pada Juna.
"Kenapa? Aku sudah tidak sabar!" tanya Juna.
"Mas aku bilang nanti aja!" jawab Vani menekan kalimatnya membuat Juna seketika diam, saat melihat senyum di wajah Vani menghilang.
"Baiklah, nanti!" ucap juna mengalah.
"Mas sini!" pinta Vani agar Juna menempati ruang kosong disampingnya.
Juna yang diminta Vani untuk duduk malah merebut piring buah yang ada ditangan Vani, lalu meletakkannya diatas meja kemudian ia berbaring dengan paha Vani menjadi bantalnya.
"Halo jagoan ayah, baik-baik didalam ya sayang!" ucap Juna mengusap lembut perut buncit Vani.
Vani yang sedang asik menonton tv sama sekali tidak merasa keberatan dengan tingkah Juna, ia menonton tv dengan tangannya yang membelai lembut rambut suaminya yang juga sedang asik dengan kegiatannya sendiri mengajak anak mereka berbicara.
"Sayang."
"Sayang!" ulang Juna, namun Vani yang sedang serius menonton tidak menanggapinya, membuat Juna dengan gemas meremas sebelah bongkahan milik istrinya yang akhirnya berhasil mengeluarkan suara pekikan terkejut dari Vani.
"Mas, kamu apa-apaan sih, Mas?" kesal Vani yang merasa terkejut.
__ADS_1
Juna sama sekali tidak mengindahkan ucapan Vani, karena tangannya yang sudah terlanjur menyentuh aset Vani itu membuatnya malah ketagihan untuk menyentuhnya.
"Mas, aku lagi nonton!" tegur Vani mencoba menghentikan tangan nakal suaminya.
"Biarkan mereka yang gantian menonton kita!" jawab Juna asal.
"Maksudnya?"
Juna mengambil remote tv lalu mematikan tv tersebut, bangkit duduk disamping Vani dengan tatapan memuja yang terpancar dimatanya. Vani yang mengerti arti tatapan suaminya dengan cepat bangkit berdiri, namun Juna juga tak kalah cepat menarik Vani hingga jatuh terduduk di pangkuannya.
"Mas, kita belum sholat Isya!" ujar Vani mencoba memperingati suaminya.
"Setelah ini kita sholat, sedikit saja!" jawab Juna dengan cepat menyatukan bibir mereka, tanpa membiarkan Vani untuk menjawab.
Bibir yang menyatu diawali dengan keinginan sepihak itu, sudah mulai terjadi atas keinginan keduanya yang sudah saling membelit dan bermain satu sama lain dengan bibir mereka. Juna dengan ahlinya membuat istrinya turut bermain dalam setiap gerakannya. Setelah dirasa pasokan oksigen yang mulai berkurang, Juna barulah melepaskan penyatuan bibir mereka.
"Kamu tidak bosan mengatakannya setiap saat?" tanya Vani, juga dengan nafas memburu.
"Tidak akan ada kata bosan dalam hidupku selagi itu berhubungan denganmu, aku sangat mencintaimu, istriku!" ulang Juna.
"Sekarang ayo kita sholat!" ajak Vani yang sudah turun dari pangkuan Juna dan berjalan menuju kamar mandi.
"Baiklah, tapi setelah itu kita lanjutkan lagi ya sayang!" pinta Juna yang sama sekali tidak ditanggapi oleh Vani.
"Mau atau tidak aku tetap akan menggiringmu menuju kenikmatan!" gumam Juna menyusul Vani.
***
__ADS_1
Seperti yang sudah direncanakan Johan. Ia tiba dikediaman orang tuanya saat jam sudah menunjukan pukul setengah sembilan.
Johan mencari keberadaan Amelia diruang tamu, ruang keluarga, ataupun taman, namun tidak menemukannya itu artinya Amelia saat ini berada di kamarnya.
Kenapa bisa disebut kamarnya, bukan kamar mereka? Itu karena keduanya memang tidak tidur dikamar yang sama, meskipun kedua orang tua Johan sudah berulang kali menasehati dan memaksa Johan untuk tidak pisah kamar dengan Amelia, namun Johan tetap kekeh dengan pendiriannya.
Saat tiba didepan pintu kamar Amelia. Johan merasa ragu untuk mengetuk pintunya. Ia berpikir untuk mengurungkan niatnya dan kembali memutar tubuhnya untuk pergi dari sana, namun semua terlambat saat Amelia keluar dari kamarnya dan memergoki Johan.
"Johan." Amelia gugup, membuat Johan menjadi salah tingkah.
"Ada yang mau aku bicarakan!" ucap Johan berusaha untuk tenang.
"Boleh aku masuk?" tanya Johan lagi, karena ia berpikir berbicara didalam kamar mungkin lebih aman untuk mereka.
"Silahkan!" ucap Amelia yang sebenarnya merasa terkejut dengan keberadaan Johan, tapi tetap mempersilahkan Johan untuk masuk kedalam kamarnya.
Johan duduk diatas sofa diikuti oleh Amelia yang juga duduk disana, berhubung sofa didalam kamar Amelia hanya satu yang berukuran cukup lebar, keduanya terpaksa duduk di satu tempat yang sama.
"Bagaimana keadaan kalian?" tanya Johan memulai pembicaraan melirik kearah perut Amelia.
"Alhamdulillah kami baik," jawab Amelia.
"Apa aku boleh menyapanya?" tanya Johan lagi yang diangguki oleh Amelia.
Mendapat persetujuan dari Amelia. Johan menundukkan kepalanya mendekati perut buncit Amelia lalu menempelkan telapak tangannya disana.
"Selamat malam anak papa! Kamu sudah tidur? Baik-baik didalam ya, papa sangat menantikan kehadiranmu, papa menyayangimu, Nak!" ucap Johan terdengar seperti melodi yang indah ditelinga Amelia saat Johan menyapa anak mereka dengan sangat lembut dan penuh kasih.
__ADS_1
'Apa sebenarnya yang ingin kamu katakan, Jo? Semoga bukan sesuatu yang akan kembali menyakitiku!' batin Amelia, berusaha untuk tetap tenang meskipun jantungnya berdebar kencang berada diposisi sedekat itu dengan Johan.