
Beberapa jam kemudiaan, Vani yang tengah bersiap untuk menjemput Dilan di sekolah, mendengar suara dering ponselnya yang berada di atas sofa, ia mengambil ponselnya dan menjawab panggilan dari seseorang yang tertera nama mama Renata. Vani tersenyum sebelum menjawabnya, sebab Vani tahu dia akan mendapat kabar tentang Arsen, anak angkatnya yang cukup dekat dengannya, tapi setelah pindah begitu jarang menghubunginya.
"Assalamualaikum, halo Tante," ucapnya sopan pada ibu mantan kekasihnya yang ada di seberang sana.
"Waalaikumsalam, halo Vani," balas Renata.
"Tante apa kabar? Arsen juga apa kabar" tanya Vani lembut membuat Renata selalu saja merasa tenang saat mendengar suara lembut dari mantan kekasih anaknya itu.
"Baik, Van. Kami semua baik-baik saja," jawab Renata. "Kalian di sana apa kabar?" sambung Ratna balik bertanya.
"kami semua di sini Alhamdulillah baik."
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu. Oh iya, Van. Tante punya kabar gembira," ucap Renata terdengar riang mengatakannya membuat Vani jadi penasaran.
"Kabar gembira, apa itu Tante? Apa ini tentang Arsen?" tanya Vani.
"Ya bisa dikatakan seperti itu. Lebih tepatnya, Tante ingin mengabari jika minggu ini Johan akan menikah," ungkap Renata membuat Vani terdiam mendengarnya, namun sesaat kemudian kesadarannya kembali, dan ia tersenyum menjawab ucapan Renata.
Diamnya Vani sesaat sebelumnya bukan karena sedih atau pun tak terima, hanya saja Vani terkejut dengan hal itu sebab terakhir mereka memberi kabar, tidak pernah sedikitpun membahas hal-hal ke arah sana atau pun tentang Johan yang punya pasangan.
"Tante minta maaf karena tidak bisa datang langsung mengundang kalian. Tante akan sangat sibuk di Semarang menyiapkan semua ini. Tolong sampaikan permintaan maaf mama Tante ya pada orang tua dan mertuamu, Tante juga sudah mengirimkan undangan pada kalian, mungkin hari ini akan sampai di sana. Tante sudah beberapa hari berada di Semarang menyiapkan semua keperluan disini," ucap Renata lagi.
"Baiklah Tante, tidak apa-apa, nanti aku sampaikan pada Mama dan Papa. Aku ikut bahagia ya Tante, titip salamku pada keluarga yang ada di sana, terutama putraku–Arsenio. Katakan aku juga merindukannya," balas Vani.
__ADS_1
"Iya Van. Pasti Tante sampaikan. Sudah dulu ya Vani, Tante sedikit sibuk. Assalamualaikum...." Renata tertawa pelan mengatakannya yang dapat dimengerti oleh Vani.
"Waalaikumsalam," jawab Vani setelahnya panggilan berakhir.
Vani berulang kali mengucap istighfar, mencoba mengenyahkan respon tubuhnya yang sempat tak dapat ia artikan apa, saat mendengar jika Johan akan menikah. Vani terdiam duduk di atas ranjang, menatap wajah cantik Dara yang masih terlelap, pikirannya melayang mengingat sosok putra angkatnya yang pernah ia asuh, yang juga begitu ia sayangi yaitu Arsenio, putra dari Johan bersama almarhumah Amelia.
'Hai Mel, apa kabarmu? Putramu akan mendapatkan ibu pengganti yang akan mencintainya, aku harap kamu senang melihatnya dari atas sana!' batin Vani mengingat sosok ibu kandung Arsen yang pernah menitipkan Arsenio padanya.
Di seberang sana, Renata menatap sendu pada ponselnya setelah berbicara pada Vani. Meskipun ia sadar mungkin Johan masih menyimpan perasaan untuk Vani, dan akan bersedih melihat Vani, tetapi tetap saja Renata ingin Vani hadir ke hari bahagia putranya kelak. Berharap adanya pernikahan Johan akan semakin membuat keadaan lebih baik, agar semakin membuka hati, mata dan pikiran Johan untuk sadar jika semua telah berlalu dan saatnya memulai awal baru bersama pasangan baru.
Renata juga merasa bersalah, mengingat Vani yang menyebut Arsen sebagai putranya dan menitipkan salam untuk Arsen. Karena apa? Karena atas permintaan Johan, agar tidak ada yang membahas tentang ibung angkat Arsenio yaitu Vani, sebab Johan tidak ingin Arsen menjadi seperti dirinya yang merasa sangat bergantung pada Vani dan tak dapat melupakan Vani.
__ADS_1
Maafkan Tante, Van. Batinnya.