Suamiku Bucin Akut

Suamiku Bucin Akut
Tidak Bisa Menghindar


__ADS_3

Kamar mandi yang harusnya menjadi tempat untuk membersihkan tubuh, justru dijadikan pasangan pengantin baru itu sebagai tempat untuk melakukan pemanasan sebel memulai sesuatu yang akan menjadi penyatuan antara dua insan yang saling mencintai.


Vani mulai membalas ciuman Arjuna. Tangan Juna sudah bergerak melepaskan kaitan bra yang Vani kenakan hingga mengeluarkan dua bongkahan yang besar, padat, dan sangat menantang itu. Kecupan Arjuna mulai turun ke leher Vani, ia yang biasanya memberikan lukisan hanya di bagian yang mudah di tutupi itu, sekarang justru memberikan stempel di leher bagian atas Vani sengaja memberikan di sana berharap akan ada orang yang melihat dan menyadari jika Vani sudah punya suami.


Arjuna ingin semua orang melihat hasil karyanya di sana. Arjuna yang semakin bersemangat, mengangkat tubuh Vani, lalu mendudukkannya di wastafel, mulai menikmati kedua bongkahan tersebut, tangan dan lidah sama-sama bergantian memberikan kenikmatan pada bongkahan kembar tersebut.


Vani mengeluarkan suara nikmat saat Arjuna mulai bermain dan meremas dengan begitu lembut di bukit miliknya. Tangannya bergerak sendiri meremas dan menekan kepala Arjuna agar memberikan kenikmatan lebih untuknya.


Masih dengan posisi Arjuna yang duduk di atas wastafel, Juna dengan pelan menarik turun sisa benang yang menutupi di bagian inti Vani. Setelah Vani benar-benar polos, ia duduk berjongkok di lantai membuka kedua kaki Vani dan berniat memberikan kenikmatan pada bagian bawah sana menggunakan jari dan juga lidahnya.


"Jangan memintaku berhenti!" ucap Juna menepis tangan Vani yang coba menghentikannya.


"Apa yang ingin kamu lakukan?" tanyanya dengan wajah merona.


"Nikmati saja, percayalah kita sama-sama belajar," ucap Juna yang selalu berusaha meyakinkan Vani jika hal itu juga pertama untuknya. Vani yang sudah terlena tak memikirkan apapun lagi, seperti yang Juna katakan, dia hanya bisa menikmati itu semua.


Vani yang awalnya malu dan merasa gugup itu, sekarang justru membalas setiap apa yang Arjuna lakukan padanya, ia turun dari wastafel dan untuk pertama kalinya ia mencoba memberikan kenikmatan dan memanjakan milik Arjuna menggunakan tangan lalu perlahan menggunakan mulutnya.


Dalam hati Vani berkata dia seperti wanita liar, tetapi dia tetap saja mencoba untuk memuaskan suaminya.


Suara kenikmatan dari Juna mulai terdengar saat senjatanya telah masuk ke dalam mulut Vani. Di tengah kenikmatan yang di rasakannya, Juna sadar jika istrinya itu masih kaku melakukannya, untuk itu dia membantu Vani agar melakukannya dengan cara yang benar. ******* Arjuna terdengar lebih kencang dari suara ******* Vani sebelumnya, dan itu cukup membuat Vani senang sebab itu artinya suaminya menikmati apa yang ia lakukan.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian Arjuna menarik Vani agar kembali berdiri, mengusap bibir Vani yang basah menggoda itu, lalu kembali menyatukan bibir mereka sembari mengiring tubuh mereka untuk berdiri dibawah guyuran air shower.


Tangan Arjuna yang sebelumnya berada di tengkuk Vani, sekarang sudah kembali bermain lepas di kedua bongkahan padat milik istrinya.


Keintiman yang terjadi dibawah guyuran air membuat suasana semakin memanas. Keduanya seolah melupakan niat mereka sebelumnya, yang ingin membersihkan diri mereka.


Arjuna terus saja mengecap tubuh istrinya tanpa melewatkan satu inci pun kulit Vani.


Beberapa saat kemudian, Vani yang baru menyadari tujuan awal mereka masuk kedalam kamar mandi, akhirnya menyudahi kegiatan Arjuna yang sedang asik bermain dengan tubuhnya.


"Cukup, kelamaan di kamar mandi basah seperti ini kita bisa saja sakit," ucap Vani pelan menjauhi Arjuna dan memulai ritual mandi yang sesungguhnya.


Setelah selesai, Vani dengan cepat melilitkan handuk ke tubuhnya, lalu keluar dari kamar mandi, meninggalkan Juna yang masih tersenyum senang melihat tingkah Vani yang sangat menggemaskan menurutnya.


"Huff, selamat!" gumam Vani bernafas lega setelah keluar dari kamar mandi.


Vani dengan cepat membuka lemari, namun saat lemari pakaian terbuka. Vani sama sekali tidak menemukan apa pun di dalam sana. Vani terlihat bingung harus menggunakan apa.


"Bagaimana ini? Aku tidak mungkin di hari tanpa menggunakan pakaian seperti ini," gumam Vani.


"Hahaha Haha" Arjuna tertawa begitu kencang melihat Vani yang selalu terlihat menggemaskan menurutnya.

__ADS_1


Arjuna sama sekali tidak berpikir jika Dika akan lupa menyiapkan kebutuhan mereka, tetapi Arjuna sama sekali tidak marah, dia justru senang akan ketidaksengajaan Dika.


Bukan tidak sengaja. Sepertinya Dika memang lupa. Batin Juna.


"Apa yang kamu tertawakan? Apanya yang lucu?" tanya Vani kesal berkacak pinggang, tanpa menyadari tatapan mesum Vani menatap tubuhnya yang terlihat seksi menggunakan handuk yang melilit di tubuhnya.


"Istriku semakin cantik jika sedang kesal seperti ini!" ucap Arjuna lembut menghampiri Vani, masih dengan menggunakan handuk yang juga hanya melilit di pinggangnya.


"Apa yang ingin kamu lakukan? Juna. Jangan mendekat!" Vani menjadi salah tingkah, saat menyadari jika dirinya dan Juna saat ini hanya menggunakan handuk apa lagi saat kesadarannya mengingatkan ia dengan apa yang baru saja terjadi di kamar mandi.


"Sayang. Panggil aku sayang atau suamiku atau panggilan romantis lainnya," pinta Juna masih terus melangkah menghampiri Vani.


"Sayang, berhenti! Apa yang ingin kamu lakukan?" ulang Vani bertanya.


"Kita akan melakukan sesuatu yang sangat penting. Kita tidak memerlukan pakaian malam ini, tidak ada pengantin baru di malam pertama mereka menggunakan pakaian," ucap Juna lembut dengan cepat menarik pinggang Vani dan melingkarkan tangannya di pinggang Vani.


"Juna!" ucap Vani pelan dengan semburat kemerahan yang sudah mewarnai pipinya.


"Bukankah kita sudah mandi, lalu apa lagi alasan yang akan kamu buat untuk menghindari malam ini? Sekeras apapun kamu menghindar, malam ini tetap akan terjadi!" Juna berbisik, sembari mengecup telinga Vani yang menegang dibuatnya.


"Ak–"

__ADS_1


Belum sempat Vani menyelesaikan ucapannya, Juna sudah lebih dulu menutup mulutnya dengan cara yang mesra.


__ADS_2