Suamiku Bucin Akut

Suamiku Bucin Akut
Pasangan Sangat Romantis


__ADS_3

Setelah membalas pesan Johan. Vani memutuskan untuk menyimpan nomor kontak Johan di phonselnya. Membenci apalagi memusuhi masa lalu, Vani sadari tidak ada gunanya karena hanya akan membuat Vani kembali terpuruk dan diselimuti dengan kesedihan. Sekarang Vani sudah bisa merelakan Johan dan menerima Johan kembali dalam hidupnya, meskipun dengan status yang berbeda. Tidak ada salahnya berteman dengan mantan. Itulah yang ada dipikiran Vani.


Meski tidak menjalin hubungan teman seperti pada umumnya, setidaknya Vani tidak akan menganggap Johan sebagai musuh apalagi pria jahat.


Ditengah lamunannya yang kembali mengingat kenangan masa lalu. Vani tersadar saat seseorang mencubit pelan lengannya, siapa lagi jika bukan Esi.


"Kenapa?" tanya Vani pada Esi yang terus tersenyum menatapnya


"Ada yang mencarimu."


"Siapa?"


"Calon suamimu!" kata Esi pelan namun begitu mengejutkan Vani yang seketika bangkit dari duduknya.


"Arjuna? Dia disini?" tanya Vani panik yang di angguki oleh Esi.


Bukankah baru beberapa menit yang lalu Arjuna mengirimnya pesan, kenapa sekarang tiba-tiba dia sudah ada di sini?


Tanpa sadar Vani heboh sendiri berusaha memperbaiki penampilannya, sebelum keluar dari balik mejanya, tetapi seaat kemudian dia menghentika langkahnya. Hal tersebut tak luput dari pandangan Esi yang tersenyum melihatnya.


Aku harap dia benar-benar bisa menggantikan Johan di hatimu. Batin Esi.


"Ada apa?" tanya Esi saat Vani kembali duduk.


"Masih jam kerja," jawabnya.


"Sepuluh menit lagi istirahat, lagi pula kamu sedang tidak melayani nasabah. Pergilah! Temui dia!" ujar Esi.

__ADS_1


"Boleh?" tanya Vani pelan yang ditanggapi Esi dengan anggukan kepala.


Vani keluar dari sana diikuti oleh Esi yang mengekor di belakanhnya dengan terus mengulum senyum menatap sahabatnya yang terlihat salah tingkah.


"Dia pria idaman, bukan?" Esi berbisik di telinga Vani yang menatap pada Arjuna, yang tengah berdiri di depan mobil sembari memperhatikan Dika yang tengah berbicara dengan keamanan sembari membawa banyak makanan.


Mendengar ucapan Esi, Vani hanya bisa melototkan matanya pada Esi seolah mengancam Esi untuk menghentikan tingkah konyolnya.


"Kamu di sini?" Vani menghampiri Arjuna yang sudah tersenyum padanya.


"Iya, kebetulan barusan ada sedikit urusan dengan seseorang tak jauh dari sini! Jadi aku sekalian mampir kemari. Tidak masalah, bukan? Aku juga belum pernah kemari." Arjuna menjawab.


"Tidak kok, sama sekali bukan masalah. Terima kasih sudah mampir dan membawakan kami makanan," jawab Vani tersenyum.


Bagaimana bisa dia bilang kebetulan. Jelas-jelas tujuannya memang kemari. Dia juga bilang belum pernah kemari? Jelas-jelas dia sering menguntit nona Vani. Tuan, apa Anda sadar jika Anda sekarang pandai berbohong. Batin Dika yang mendengar ucapan Arjuna.


"Sekarang kita bisa makan siang bersama, kan? Aku bisa ikut makan siang bersama kalian," ucap Arjuna lagi terdengar begitu manis di telinga para pegawai Vani, yang menguping dan terpesona dengan ketampanan serta sikap manis Arjuna.


"Ya Tuhan. Berikan aku pria yang seperti dia." gumam beberala pegawai di sana pelan, namun terdengar


di telinga Esi yang dengan cepat mencubit pelan tangan pegawai tersebut.


"Menghayal terlalu tinggi. Nanti jatuh!" cibirnya.


Kembali pada Vani. Vani menyetujui ucapan Arjuna. "Hemm... Baiklah. Berhubung sudah diani. Ayo kita makan bersama. Kalian juga, tolong undang Bu Airin, kita makan siang bersama," ucap Vani mengejutkan semua orang terutama Dika yang seakan membeku mendengarnya.


Dika yang mendengar ucapan Vani menjadi cemas sendiri. Bagaimana mungkin Vani meminta Arjuna untuk makan bersama dengan para pegawai di sana. Seumur hidupnya Arjuna sangat pemilih dalam segala hal terutama dalam urusan makan. Arjuna tidak akan semudah itu untuk makan bersama orang-orang asing.

__ADS_1


"Nona Vani. Maaf sebelumnya. Tapi–"


"Baiklah, makan bersama pastinya akan terasa lebih nikmat," jawab Arjuna cepat memotong kalimat Dika yang ia tahu akan mewakilinya menolak tawaran Vani.


'Apa? Tuan Arjuna menyetujui ajakan Nona Vani untuk makan bersama di sini?' Batin Dika tak percaya dengan pendengarannya sendiri.


"Baiklah, ayo masuk! Kita bisa makan di ruang tunggu, karena pantri kantor tidak akan cukup menampung semua orang.


Hampir semua pegawai kantor mendapatkan bagian masing-masing. Wanita bernama Airin yang tengah berulang tahun juga sudah ikut berkumpul. Dika terlihat menghampiri Airin dan memberikan sebuah kotak berukuran sedang pada Airin, sembari berkata. "Nona Airin, ini hadiah dari Tuan Arjuna dan Nona Vani."


Kekaguman semua orang semakin bertambah saat melihat sosok pria tampan yang terkenal sukses dan tentunya mapan seperti Arjuna, mau berbaur bersama mereka, belum lagi melihat hadiah yang Arjuna siapkan. Airin yang mendapatkan hadiah dari pria seperti Arjuna jelas merasa sangat senang.


"Terima kasih," ucapnya pelan pada Dika yang menjadi perantara. "Terima kasih, Tuan Arjuna, Vani. Semoga kalian langgeng dan segera menikah," sambungnya berbicara menatap Arjuna dan juga Vani yang terlihat salah tingkah.


"Aamiin... Doakan saja yang terbaik untuk kami," jawab Arjuna tersenyum menatap Vani sambil menautkan tangan mereka.


Tak dipungkiri jika Vani juga turut merasa kagum melihat sikap Arjuna. Perasaan bangga hadir di hatinya.


Beberapa saat berlalu, atas izin dan tawara atasan mereka, Vani membawa Arjuna makan di ruangan khusus nasabah prioritas. Orang-orang di sana merasa tidak enak jika pria seperti Arjuna harua makan di ruang tunggu sederhana yang pastinya tidak mungkin pernah pria seperti Arjuna lakukan.


"Jangan menatapku terus. Tidak akan ada yang merebutku darimu. Aku hanya milikmu," ucap Arjuna membuat Vani seketika tersadar, jika saat ini dia masih dengan konyolnya menatap Arjuna. Semburat kemerahan semakin memenuhi wajah Vani saat ini, perasaan malu begitu dirasakannya saat tertangkap basah sedang menatap Arjuna.


"Terima kasih untuk semuanya," ucap Vani setelah kembali bisa menguasai dirinya.


"Berulang kali aku katakan, jangan ucapkan itu. Aku melakukan semua untuk wanitaku. Melihatmu senang adalah cara membuatku senang," jawab Arjuna sambil mengangkat sendoknya, mengarah ke Vani yang tak menolak untuk membuka mulutnya.


Arjuna mengusap lembut sudut bibir Vani yang sedikit berminyak. Hal itu membuat semua orang yang diam-diam memperhatikan interaksi antara keduanya menjadi tersenyum sendiri. Keduanya seakan merasa dunia milik berdua, melupakan kehadiran orang lain di sana.

__ADS_1


"Aku seperti tengah menonton drama kisah cinta yang sangat romantis," ucap seseorang yang juga memperhatikan Arjuna dan Vani.


__ADS_2