Suamiku Bucin Akut

Suamiku Bucin Akut
Hidup Bahagia


__ADS_3

Di pagi hari yang cerah, terlihat seorang wanita cantik dengan balutan pakaian muslim di tubuhnya, tengah sibuk mengurusi kebutuhan anak dan suaminya dengan sangat telaten. Wanita yang semakin hari semakin berusaha menjadi ibu, istri dan anak yang baik itu semakin hari juga membuat banyak orang semakin menyukainya.


Wanita tersebut sangat di hormati baik dari kedua anak, suami dan seluruh pelayan yang bekerja di rumah mereka, karena kebaikan dan sikap penyayang yang dia miliki.


"Ayah. Berhentilah menjahili Bunda!" terdengar suara anak kecil menegur ayahnya yang selalu saja menjahili bunda-nya saat tengah memasangkan dasi, membuat sesuatu yang harusnya sebentar menjadi lebih lama.


"Itu, dengarkan apa kata Dilan, Mas!" ucap Vani menyelesaikan dengan cepat tugasnya memasangkan dasi sang suami, yang seharusnya bisa memakainya sendiri, tapi Juna selalu ingin Vani yang melakukannya.


"Sayang," ucap Juna menunjuk bibirnya menggunakan jari telunjuk yang ia tempelkan di bibirnya.


Vani yang telah selesai memasangkan dasi Juna kembali menghampiri Juna, menunggu saat di mana putranya lengah, dan dengan cepat mengecup sekilas bibir suaminya, karena Vani tau betul jika belum mendapat kecupan darinya, maka Juna tidak akan berhenti memintanya.


"Ayah, ayo sarapan! Nanti terlambat," ucap Dilan lagi saat kedua orang tuanya masih saja berdiri sedari tadi.


"Baiklah jagoan," jawab Juna semangat setelah mendapat apa yang ia inginkan, ia duduk di kursinya dan memimpin doa memulai sarapan mereka.


Kebahagian dan keharmonisan begitu terasa di kediaman Vani dan Juna.

__ADS_1


Vani menatap suami dan putranya. Ia merasa bersyukur mempunyai suami yang begitu sangat mencintainya, kehidupan Vani terasa makin sempurna saat sang maha kuasa memberikannya dua keturunan yang begitu cantik dan tampan anak yang akan selalu du anggap sempurna bagi kedua orang tuanya.


Anak pertama Vani berjenis kelamin laki-laki yang di beri nama, Dilan Zayn Emery. Saat Dilan berusia empat tahun, Vani kembali hamil dan melahirkan anak keduanya yang berjenis kelamin perempuan, tepat tiga bulan lalu yang diberi nama, Aurelia Dara Emery.


Berkat bibit unggul dari Vani yang cantik dan juga Juna yang tampan serta kepribadian mereka yang baik, kedua anak mereka juga terlahir dengan wajah yang rupawan serta sikap yang baik.


"Dilan, ayah hari ini tidak bisa jemput kamu pulang ya? Nanti supir yang jemput, ayah ada pekerjaan di luar kota hari ini, mungkin akan pulang malam!" ucap Juna pada putranya.


"Baiklah. Ayah hati-hati ya," jawab Dilan membuat Juna tersenyum mendengarnya.


"Mas, hari ini aku yang akan menjemput Dilan, apa kami boleh ke rumah nenek dan Kakeknya setelah pulang dari sekolah?" tanya Vani lembut pada suaminya.


"Tentu saja boleh, tapi tidak boleh menyetir sendiri, harus pergi bersama supir," ucap Juna yang di anggukkan oleh Vani.


"Princess-nya Ayah dari tadi anteng ya," ucap Juna mencubit gemas dagu Dara yang sedari tadi hanya berbaring di stroller bayi menemani kakak dan orang tuanya sarapan.


Meski hidup berkecukupan dan bisa melakukan banyak hal dengan uang yang mereka miliki, tetapi Vani tetaplah Vani yang lebih mengutamakan keluarga. Vani tidak menggunakan jasa pengasuh, Vani sudah belajar banyak dari pengalaman pertamanya merawat Dilan meski tak jarang juga Vani meminta bantuan pelayan jika dibutuhkan.

__ADS_1


"Ayah, Bunda, aku sudah selesai!" ucap Dilan mengalihkan kedua orang tuanya dari Dara.


"Baiklah, kalau begitu kita berangkat." Juna lebih dulu bangkit dari duduknya.


Vani yang melihat suaminya sudah berdiri, ikut berdiri dan mencium punggung tangan Juna, di balas sebuah kecupan oleh Juna di dahinya.


"Kami pergi dulu ya," ucap Juna lembut kembali mengecup dahi Vani setelah itu menunduk mengucup kedua pipi putri kecilnya.


"Ayah pergi ya cantik, jangan rewel ya!" ucap Juna pada Dara yang hanya tersenyum menanggapinya.


"Bunda, aku berangkat ke sekolah ya, nanti setelah pulang aku pasti bantu Bunda untuk menjaga Ara," ucap Dilan mencium punggung tangan Vani di hadiahi kecupan di pipinya oleh Vani.


"Hati-hati sayang, belajar yang rajin, Ya," ucapnya yang di anggukkan oleh Dilan.


"Kakak pergi dulu ya Ra. Nanti kita bermain lagi," ucap Dilan lembut mengecup pipi adiknya yang selalu dia panggil dengan sebutan Ara itu, lalu menyusul Juna yang sudah lebih dulu keluar.


Vani tersenyum menatap punggung anak dan suaminya yang sudah melangkah keluar dari rumah, ia benar-benar tak dapat mengungkapkan betapa ia bahagia dengan kehidupannya sekarang.

__ADS_1


__ADS_2