
Setelah puas menyapa anak dalam kandungan Amelia. Johan kembali memperbaiki posisi duduknya sembari menatap Amelia.
"Mel, aku mau minta maaf sebelumnya jika sikapku selama ini sudah menyakitimu!" ucap Johan terdengar tulus saat mengatakannya.
Amelia yang mendengar ucapan Johan merasa sangat bahagia, karena untuk pertama kalinya Johan mau berbicara dengannya dalam keadaan sadar dan tidak terlihat kasar setelah sekian lama Johan mengacuhkannya.
Harapan Amelia yang sebelumnya musnah kembali hadir mendengar ucapan Johan.
"Aku juga minta maaf atas semua kesalahan yang sudah aku lakukan selama ini padamu. Maafkan kehadiranku yang sudah membuatmu berpisah dari Vani," jawab Amelia menunduk sedih.
"Yang sepenuhnya bersalah disini adalah aku, aku yang menerima perjodohan itu. Aku menuruti keinginan orang tuaku, tapi melampiaskan emosiku padamu."
Amelia terdiam mendengar ucapan Johan, semua yang dikatakan Johan juga ada benarnya jika saja dulu mereka tidak melanjutkan perjodohan mereka, maka semua tidak akan terjadi seperti ini.
Mungkin semuanya benar, tapi semuanya juga sudah terjadi dan yang terjadi tidak bisa diulang kembali, yang ada hanya mencoba untuk memperbaiki agar tidak terulang lagi kesalahan yang sama seperti yang sering dikatakan Amelia.
"Mel. Apa kamu sudah yakin dengan keputusanmu untuk berpisah, setelah anak kita lahir?" tanya Johan, kembali membuat Amelia berharap banyak mendengar pertanyaan Johan yang ia duga sebagai awal dimana Johan akan memintanya untuk bertahan.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya Amelia, yang dalam hatinya sangat berharap Johan menjawab seperti yang ia harapkan.
"Apa kamu tidak ingin merawatnya paling tidak hingga dia sudah bisa berjalan sendiri?" tanya Johan, membuat Amelia merasa amat bahagia saat semua harapannya ternyata nyata bukan hanya sebuah harapan.
__ADS_1
Ia terdiam menunggu kalimat yang akan Johan selanjutnya, yang jelas saat ini hatinya bahagia mendengar Johan mencoba untuk menahannya agar tidak pergi meskipun hanya sementara waktu.
"Aku ingin kita bersama-sama membesarkannya, tapi ada satu hal juga yang ingin aku katakan padamu, Mel! Aku ingin memulai semuanya dengan kejujuran, agar semua bisa lebih baik kedepannya."
Degh ...
Jantung Amelia kembali berdebar kencang dengan dadanya yang tiba-tiba terasa sesak saat mendengar ucapan Johan. Pikirannya mulai menebak-nebak apa yang akan Johan katakan, kembali lagi perasaannya mengatakan jika Johan akan kembali menyakitinya.
"Katakanlah, Jo, semua yang dimulai dengan kejujuran aku percaya akan berakhir baik!" ucap Amelia berusaha untuk menguatkan hatinya, mendengar apa yang ingin Johan sampaikan.
"Aku ingin kita membesarkan anak kita bersama, tapi jujur saja aku tidak bisa memberikan cinta untukmu, jadi tolong jangan berharap padaku. Aku tidak bisa membuka hatiku untukmu, ataupun untuk wanita lainnya, karena hati ini sudah tersimpan nama seseorang dan aku yakin kamu tau siapa orangnya.
"Mel, kamu mau membesarkannya bersamaku? Aku berjanji aku tidak akan mengekang ataupun mengikut campur urusan pribadimu. Jika suatu hari nanti kamu menemukan pria yang kamu cintai atau kamu ingin bersama pria lain, aku siap melepaskan mu. Aku hanya meminta kita untuk bersama-sama ada disaat ia membutuhkan kehadiran kedua orang tua!" tanya Johan lagi saat Amelia tak juga menjawab ucapannya.
'Kenapa Tuhan? Kenapa rasanya bahkan lebih sakit dari saat dia mengacuhkan ku, dari saat dia terang-terangan menyakitiku. Semua ini terasa lebih menyakiti hatiku disaat ia memintaku hidup bersama, namun dia juga mengatakan mencintai wanita lain dan terang-terangan mendorong aku pada pria lain!' ucap Amelia dalam hati berusaha menahan tangisnya.
"Apapun itu yang terbaik untuk anak kita, aku siap melakukannya. Terima kasih sudah memberikan aku kesempatan untuk tetap berada didekat anakku dan hidup bersamanya!" jawab Amelia berusaha untuk tidak menangis dan berusaha kuat dihadapan Johan. Amelia tidak ingin lagi terlihat mengemis cinta Johan, dia tidak ingin lagi memperlihatkan keterpurukannya pada siapapun.
"Jadi kamu menyetujuinya, Mel?" ulang Johan bertanya, mencoba memastikan pendengarannya.
'Bagaimana mungkin aku tidak setuju, Jo. Hidup bersama dengannya adalah keinginan terbesarku, tidak mengapa hati ini merasa sakit asal aku bisa hidup bersama anakku!' batin Amelia.
__ADS_1
"Tentu saja aku setuju. Sama seperti kamu yang ingin memberikan yang terbaik untuknya, aku sebagai seorang ibu juga ingin memberikan yang terbaik untuk anakku!" jawab Amelia membuat Johan menghela nafas lega mendengarnya.
"Syukurlah jika kamu setuju. Aku juga ingin mengatakan jika setelah kamu melahirkan nanti, kita akan kembali tinggal di apartemenku sembari aku menyiapkan rumah baru untuk kita," sambung Johan.
"Aku sudah menyimpan semua kenangan Vani yang ada disana, sekali lagi aku minta maaf untuk semuanya, Mel!" ucap Johan, saat melihat raut wajah Amelia yang berubah ketika mendengarnya mengatakan akan kembali Apartemen lamanya. Johan sangat tau jika yang Amelia sedihkan adalah karena foto-foto Vani masih memenuhi apartemennya.
"Terima kasih, Johan. Terima kasih atas pengertianmu!"
'Terima kasih, setidaknya aku tidak harus semakin tersakiti saat berada disana, setidaknya aku bisa tenang mengangkat kepalaku saat berada di tempatmu,' sambung Amelia dalam hati.
Setelah percakapan yang serius tersebut selesai, Johan keluar dari kamar Amelia. Meninggalkan Amelia yang yang masih terdiam duduk ditempatnya dengan air mata yang sedari tadi berusaha ditahannya, mengalir deras membasahi wajahnya.
Amelia melepaskan semua tangisnya setelah Johan pergi, meluapkan semua kesedihannya lewat sebuah tangisan.
"Ya Tuhan, kenapa rasanya begitu sakit? Sangat sakit," ucap Amelia disela isak tangisnya.
***
**Maaf baru sempat lanjut, Kak. Sibuk banget di RL akhir2 ini.🙏 Maaf juga kalau alurku nggak seperti yang kalian inginkan. 🙏
Terima kasih selalu untuk semua dukungan kalian**.
__ADS_1