
Manda terbangun lebih dulu dari Johan. Manda sama sekali tidak tahu jika semalam Johan telah menyentuhnya meski hanya kecupan di dahi, jika Manda tahu, mungkin keduanya akan sama-sama menjadi salah tingkah. Manda yang baru saja akan turun dari ranjang menoleh saat menyadari jika Johan juga terbangun. "Maaf aku jadi membangunkanmu," ucapnya.
Johan tersenyum, berbicara dalam hatinya. 'Selamat pagi istriku.' Hanya dalam hati karena Johan tidak ingin Manda menjadi ilfil padanya jika tahu Johan menaruh rasa padanya, melanggar kesepakatan yang telah mereka buat untuk tidak membawa perasaan dalam hubungan mereka.
"Aku bangun bukan karenamu," jawab Johan tersenyum. "Ayo solat bersama, kita belum pernah solat bersama!" ajak Johan membuat Manda menatap terkejut padanya.
Johan turun dari ranjang menghampiri Manda yang masih terdiam berdiri menatapnya. "Buruan! Aku akan membersihkan diri di kamar sebelah, kamu bersiaplah. Kita solat bersama," ucap Johan lagi dengan senyum yang hampir selalu dia perlihatkan pada Manda.
"Ada apa dengannya? Apa dia mengigau? Apa dia sadar apa yang dia katakan?" gumam Manda setelah Johan keluar dari kamar.
Manda berusaha mengabaikan sikap Johan lalu masuk ke dalam kamar mandi. Sepuluh menit kemudian saat Manda keluar dari kamar mandi, Manda di kejutkan dengan keberadaan Johan yang sudah rapi dengan pakaian sholatnya. "Kenapa melihatku seperti itu? Aku tau aku tampan," ucap Johan lagi-lagi tersenyum.
__ADS_1
Ya Tuhan, ada apa dengannya? Ada apa juga denganku? Kenapa jantungku akhir-akhir ini berdetak lebih kencang? Ucap Manda dalam hati.
"Kenapa kamu selalu melamun setiap kali aku bicara. Ada apa?" tanya Johan mendekat pada Manda yang justru melangkah mundur melihatnya. "Apa aku membuatmu takut?" tanya Johan lagi.
"Tidak. Bukan seperti itu. Aku hanya merasa aneh saja dengan sikapmu yang tak biasa ini," jawab Manda jujur.
"Baiklah. Aku mengerti. Tapi, mulai sekarang kamu harus terbiasa dengan sikapku ini," ucap Johan lagi kembali ke posisi semula dimana dia telah menggelar sajadah untuk mereka solat.
Renata tak bisa menahan air matanya yang menetes keluar melihat sesuatu yang begitu mengharukan dan menyejukkan hatinya itu. Keberadaan Amanda dalam keluarga mereka benar-benar membuat Renata merasa jika penderitaan putranya sudah berakhir. Renata ada di sana bersama Neisha dan Arsen karena Neisha terbangun dan mencari keberadaan Amanda, mendengar tangis Neisha, Arsenio juga terbangun dan mereka berniat menemui Manda di kamarnya.
'Terima kasih, Tuhan. Terima kasih untuk semua ini,' ucap Renata dalam hati.
__ADS_1
"Oma, aku senang melihat Papa dan Mama solat bersama," ucap Arsenio menatap Renata. "Oma menangis?" tanyanya lagi pada Renata yang masih menggendong Neisha yang sudah berhenti menangis saat melihat Manda, meski Manda dan Johan yang tengah solat, membelakanginya.
"Tidak, Oma hanya merasa senang melihat ini. Sama sepertimu," ucap Renata lagi dengan suara pelan, lalu menutup lagi pintu kamar Johan dan Manda yang awalnya memang sedikit terbuka.
Manda mencium tangan Johan setelah selesai dengan sholatnya dan sesuatu yang mengejutkan kembali terjadi saat Johan membalas dengan mengusap lembut kepala Manda lalu mengecupnya. 'Aku berharap yang terbaik untukmu,' batin Johan.
"Jo," lirih Manda menanggapi apa yang baru saja terjadi.
Tatapan keduanya bertemu. Tatapan Johan yang penuh kelembutan dengan tatapan mata Manda yang penuh dengan kebingungan.
"Maaf, aku terbawa suasana!" ucap Johan tersenyum canggung mernjadi salah tingkah.
__ADS_1
Johan yang merasa malu dengan tingkahnya serta merasa takut Manda berpikir buruk tentangnya, bergegas keluar dari kamar. Berbeda dengan Amanda yang masih terdiam di tempatnya memikirkan semua keanehan dari sikap Johan padanya. "Ada apa dengannya? Apa dia Me–" Manda menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ya ampun, apa yang aku pikirkan, mana mungkin dia menyukaiku," ucapnya lagi berusaha mengenyahkan pikiran yang ada.