Suamiku Bucin Akut

Suamiku Bucin Akut
Mengidam


__ADS_3

Setiap hari kehidupan Vani dan Juna selalu dilalui dengan canda tawa kebahagian. Tak lupa tentunya drama yang selalu hadir karena sikap posesif Juna dan sikap manja Vani semenjak kehamilannya.


Selama ini juga setiap minggu baik keluarga Vani ataupun Juna selalu bergantian datang mengunjungi dan menemani Vani dikediamannya.


Malam hari di dalam kamar mereka.


Juna yang sedang memangku laptopnya mengalihkan tatapannya pada Vani yang terlihat memasang wajah masam menatapnya.


"Kenapa sayang?" tanya Juna lembut, menutup laptopnya lalu meletakkan diatas nakas.


"Ngantuk! Mau tidur, tapi maunya di peluk," jawab Vani terdengar manja.


Juna yang mendengar ucapan istrinya tersenyum, sembari menundukkan kepalanya mendekat pada perut buncit istrinya.


"Hai jagoan. Bundamu semakin hari semakin Manja ya, tapi ayah suka. Itu semua berkat kamu yang membuat ayah dan Bunda semakin dekat. Ayah mencintai kalian sayang," ucap Juna lembut, mengecup perut Vani lalu membaringkan tubuhnya disamping Vani.


"Sayang, ini semakin besar dan padat aja!" ungkap Juna mengecup leher Vani, dengan tangannya yang sudah berada di kedua bukit milik istrinya tersebut.


"Mas, ngantuk!" Rengek Vani, namun tak dihiraukan oleh Juna yang semakin liar menggerayangi tubuh Vani.


Suara serak Vani keluar saat mulai terpancing gairahnya karena ulah Juna, membuat Juna semakin terbakar oleh gairahnya.


Juna mulai berpindah posisi menjadi di atas tubuh Vani. Tangannya dengan lincah mulai membuka setiap helai benang yang menempel di tubuh mereka.


kecupan-kecupan lembut tak lupa Juna layangkan di setiap inci kulit Vani sebagai pemanasan membuat Vani semakin bersuara menggoda.


Erangan dari keduanya terdengar saat senjata Juna telah tenggelam sempurna didalam tubuh Vani, Juna kembali mengecup lembut bibir Vani, dengan sebelah tangannya yang juga meremas lembut bukit kembar Vani. Gerakan yang berawal pelan mulai bergerak cepat. Gerakan demi gerakan terus dilakukan Juna, namun tetap dengan ritme yang lembut karena tidak ingin menyakiti bayi mereka. ******* dan erangan keluar dari kedua bibir mereka, berpacu dan terus berpacu hingga akhirnya mencapai puncak kenikmatan.


Setelah mencapai puncaknya, Juna tidak berniat melepaskan penyatuan mereka karena senjatanya masih terasa ingin mengulangi lagi apa yang baru mereka lakukan.


"Sayang, satu kali lagi ya?" Pinta Juna lembut penuh harap pada istrinya.

__ADS_1


Vani terdiam beberapa saat dengan nafas memburu serta peluh yang memenuhi tubuhnya, usai percintaan mereka lalu menganggukkan kepalanya.


Melihat Vani yang mengangguk menyetujui permintaannya membuat Juna kembali bergerak aktif, namun sebelumnya merubah posisi dan gaya mereka.


Rasa puas dan kenikmatan tiada tara kembali dirasakan oleh Juna dan Vani saat telah mencapai puncaknya untuk yang kedua kalinya. Juna melepaskan penyatuan mereka lalu mengecup lembut dahi Vani yang terlihat mulai memejamkan matanya karena kelelahan melayani nafsu suaminya.


***


"Ma, Kalian masak apa?" tanya Vani. pada kedua wanita paruh baya yang sedang berkutat di dapur rumahnya.


Berbeda dari biasanya, dimana kedua wanita paruh baya itu akan bergantian menginap disana. Meski jarak rumah Vani dan kedua orangtuanya jauh karena berbeda kota, tapi kali ini kedua wanita paruh baya itu janjian untuk menginap bersama dikediaman Vani sejak dua hari yang lalu.


Sama seperti Juna, keduanya juga sangat antusias menjaga dan menemani Vani.


Kedekatan antara orang tua kandungnya dan mertuanya membuat kebahagiaan Vani semakin sempurna. Vani benar-benar bersyukur atas apa yang diberikan Tuhan padanya.


"Kami memasak makanan kesukaan kalian, sayang. Juna masih tidur?" ucap Ajeng lembut bertanya pada Vani yang menjawab dengan anggukan kepalanya.


"Kamu duduk saja ya. Mau susu? Biar Mama buatkan," tanya Ana.


"Bukankah hari ini jadwal pemeriksaanmu?" tanya Ajeng.


"Iya, ma, nanti siang kami akan menemui Dokter Inara," jawab Vani tersenyum, diangguki mengerti oleh mertuanya.


"Nah, akhirnya selesai!" ucap Ajeng lagi menyajikan hasil masakannya bersama Ana.


"Aku panggil mas Juna dulu ya?" pamit Vani berniat bangkit dari duduknya, namun seseorang sudah lebih dulu menahan kedua bahu Vani membuatnya kembali duduk di kursinya.


"Selamat pagi, sayang!" ucap Juna mengecup pucuk kepala Vani dihadapan kedua wanita paruh baya yang tersenyum menatapnya.


"Pagi Mama-mama cantik," sambung Juna tersenyum.

__ADS_1


"Pagi juga, Juna," jawab Ana dan Ajeng bersamaan.


"Ma, nanti bisa tolong buatkan aku Burgo!" pinta Juna terdengar sedikit ragu saat mengatakannya.


"Burgo?" beo Ajeng karena ia tahu Juna mungkin tidak pernah memakan yang nanya Burgo karena dia sendiri tidak pernah memakan burgo.


"Apa kamu tau burgo itu makanan yang seperti apa?" tanya Ajeng menatap heran pada putranya.


"Aku minta karena aku tau Ma, aku sempat melihat di buku menu kedai yang ada di Palembang waktu tahun lalu aku ada pekerjaan di sana," jawab Juna santai, sembari memulai sarapannya yang sudah disajikan oleh Vani diatas piringnya.


"Apa kamu mengidam, Juna? Akhir-akhir ini mama liat selera makanmu bertambah, apalagi kamu lebih sering meminta makanan yang sebelumnya tidak pernah kamu makan!" tanya Ajeng masih menatap Juna.


"Apa mengidam juga bisa terjadi pada pria, Ma?" sahut Vani bertanya, sebelum juna menjawab pertanyaan mertuanya.


"Tentu saja ada, Van. Suami ngidam ataupun mual merupakan gejala kehamilan simpatik.


Meski tidak semua orang mengalami hal ini, namun sebagian suami banyak yang mengalaminya. Seperti yang dikatakan mertuamu, mama juga yakin jika saat ini yang mengalami ngidam bukanlah kamu melainkan Juna," sahut Ana menjawab pertanyaan putrinya.


"Pantas saja akhir-akhir ini mas Juna bersikap aneh," ujar Vani.


"Tapi katanya mengidam itu akan terjadi saat trimester pertama kehamilan, sedangkan saat ini usia kehamilanku sudah lima bulan!" ucap Vani lagi.


"Sebenarnya ngidam bisa terjadi kapan saja selama masa kehamilan, tapi biasanya ngidam muncul saat hamil muda, mengidam atau fantasi terhadap makanan tertentu ini dapat memuncak ketika usia kehamilan memasuki trimester kedua.


Biasanya yang namanya mengidam akan mulai membaik setelah kehamilan memasuki trimester ketiga. Jadi kalian tidak perlu khawatir karena kondisi ini hanya akan terjadi selama masa kehamilan saja," terang Ajeng yang diangguki oleh Vani, namun sama sekali tidak digubris oleh Juna yang asik dengan makanannya membuat mereka semua hanya bisa tersenyum melihat Juna.


"Juna, kalau makanmu seperti itu terus. Lama kelamaan tubuhmu akan membesar dan kamu akan terlihat jelek, kamu tidak takut Vani melihat tubuh jelekmu?" tanya Ajeng sengaja menggoda putranya.


Pertanyaan Ajeng berhasil mengalihkan fokus Juna dari makanannya, ia dengan cepat meneguk habis minumnya lalu beranjak pergi dari sana.


"Mama yakin saat ini Juna pasti sedang menatap pantulan dirinya di cermin," ucap Ajeng tertawa, yang juga mengundang tawa Vani dan Mamanya.

__ADS_1


***


Semoga lolos review, krn sebelumnya tadi di tolak bab ini.🙏😔


__ADS_2