Suamiku Bucin Akut

Suamiku Bucin Akut
Meninggal


__ADS_3

Beberapa saat setelah Johan pergi, samar-samar terdengar suara tangisan bayi, membuat Rizal dan Renata yang mendengar merasa sangat bahagia saat mengetahui jika yang mereka nantikan kehadirannya sudah tiba. Keduanya mengucapkan syukur atas kelahiran cucu mereka.


"Pah, itu suara cucuku!" seru Renata begitu bahagia memeluk suaminya.


"Iya Mah, itu cucu kita. Dia sudah lahir, Alhamdulillah... Terima kasih, Tuhan" jawab Rizal balas memeluk istrinya.


Setelah operasi selesai, terlihat seorang perawat keluar membawa bayi yang merupakan penerus dari keluarga mereka itu, Renat dan Rizal menghentikan langkah perawat tersebut yang akan membawa cucu mereka ke ruang bayi untuk dibersihkan dan pendataan. 


"Boleh kami melihatnya sebentar?" tanya Renata senang menatap cucunya, namun juga terlihat bingung saat perawat tersebut terlihat begitu terburu-buru keluar dari ruang operasi. Bukankah hal pertama harusnya mereka menyampaikan berita kepada mereka bahwa operasi sudah selesai dan cucunya telah lahir? Tapi kenapa perawat tersebut malah akan melewati mereka jika bukan mereka yang menghentikannya.


"Silahkan Tuan, Nyonya. Tapi hanya sebentar karena bayi harus segera dibawah keruang Bayi!" jawab perawat memberikan waktu sebentar sebelum melanjutkan langkahnya.


"Pah, kenapa mereka terlihat panik?" tanya Renat yang juga mulai merasa cemas dibuatnya, kecemasan Renata semakin bertambah saat melihat beberapa perawat juga keluar dari ruang operasi terburu-buru.

__ADS_1


"Ada apa? Apa terjadi sesuatu yang buruk?" tanya Rizal menghadang perawat tersebut.


"Begini tuan, kondisi pasien melemah. Semua sedang berusaha menyelamatkan pasien, saya permisi!" jawab perawat tersebut dengan cepat berlalu dari sana meninggalkan Renat dan Rizal yang terdiam mematung mendengarnya.


"Pah, Amelia, Pah? Ada apa dengannya?" tanya Renata yang tak dapat menahan tangisnya mendengar ucapan perawat itu. Renata terduduk lemas di lantai setelah mengajukan pertanyaan pada suaminya, tiba-tiba otot-otot tubuhnya terasa melemas, beberapa bulan bersama tentu saja sudah membuat Renata menjadi lebih dekat dengan Amelia meskipun kedekatan mereka belum seperti ia dan Johan, namun mereka sudah cukup dekat antara mertua dan menantu. Berbagai kemungkinan terlintas dipikiran Renata apalagi jika mengingat Amelia selalu saja meminta maaf dan mengatakan akan pergi setelah melahirkan cucunya.


Rizal yang melihat istrinya terduduk dilantai rumah sakit dengan cepat memapah istrinya untuk bangkit dan duduk diatas kursi yang tersedia disana.


"Pah, terakhir dia kembali meminta maaf pada Mama. Dia kembali mengatakan jika dia akan pergi jauh, dia menitipkan anaknya pada mama. Dia meminta mama memberikan kasih sayang yang besar pada anaknya, dia meminta mama merawat dan membesarkan anaknya. Dia terus mengatakan jika ia akan pergi jauh Pah, tapi setiap mama bertanya dia akan pergi kemana? Amelia selalu menjawab jika dia akan pergi sangat jauh, namun tetap akan memantau perkembangan anaknya. Pah, bagaimana jika Amel benar-benar pergi ... " ucap Renata disela tangisnya terhenti saat Rizal membawa Renata masuk kedalam pelukannya. Semua yang dikatakan Renata benar adanya karena sebelumnya Amelia juga mengatakan hal yang sama pada Rizal.


***


"Ya Allah, ya Tuhanku. Tolong selamatkan lah istri dan anakku, tolong jauhkan semua kabar buruk dariku ya Allah. Berikan aku kesempatan untuk menjadi Ayah yang baik, berikan aku kesempatan untuk membuktikan semua ucapanku, berikan aku kesempatan untuk membuktikan jika aku dapat menjadi manusia yang lebih berguna dan lebih baik lagi dari sebelumnya. Aku mohon ya Allah, semoga Amelia melahirkan anak kami dengan selamat. Semoga Dia dan anakku berhasil melewati semuanya dengan selamat dan bisa berkumpul bersama kami dengan membawa anggota baru dalam kehidupan kami. Kabulkan doaku ya Allah! Amin yaa rabbal alamin," ucap Johan dalam doa yang dipanjatkannya, setelah menyelesaikan sholat.

__ADS_1


Johan kembali menghampiri kedua orang tuanya setelah usai menunaikan sholat, langkah kakinya terhenti sejenak dengan dada yang terasa sesak melihat pemandangan didepannya, dimana kedua orang tuanya berpelukan dengan tangis mamanya yang terdengar memilukan.


"Mah, Pah!" ucap Johan kembali melanjutkan langkahnya, bersamaan dengan dokter yang keluar dari ruang operasi.


"Bagaimana dengan menantuku?" tanya Rizal cepat menatap dokter tersebut.


"Maafkan kami Tuan, Nyonya. Kami sudah berusaha memberikan yang terbaik, namun takdir berkata lain. Pasien sudah meninggal dunia,"


****


Nulis ini kok malah netes air mata.🥲


Maafkan kalau alurnya nggak seperti yang kalian inginkan ya guys...🥲🙏

__ADS_1


__ADS_2