
Seorang pria tampan dengan tubuh tinggi tegap, yang selalu terlihat mempesona setiap kali menjemput putranya itu saat ini tidak keluar dari dalam mobil dan lebih memilih berada di dalam. Salah satu yang membuat Johan berada di dalam mobilnya adalah pekerjaan dan alasan lainnya karena tidak menyukai tatapan ibu-ibu yang ada di sana selalu tertuju padanya.
Wajah yang terlihat begitu rupawan itu masih duduk di dalam mobilnya hanya saja kaca mobilnya di biarkan terbuka.
Pria tampan yang berstatus sebagai duda itu tengah menunggu putranya pulang dari sekolah, karena sesuai degan janjinya hari ini dia yang akan menjemput sang putra tercinta.
Johan duduk di dalam mobilnya sembari mengecek email-email yang masuk ke padanya. Duda satu anak itu selalu saja menyempatkan diri untuk bekerja di setiap waktu luangnya, termasuk saat ini di mana ia tengah menunggu putranya keluar dari kelas, ia menggunakan waktunya untuk memangku laptop dan mengerjakan apa yang bisa ia kerjakan. Itu jugalah yang menjadi salah satu tips sukses dari seorang Johan Pramana memanfaatkan waktu yang ada untuk bekerja.
Dering ponselnya yang terdengar mengalihkan Johan dari fokusnya, ia menjawab panggilan telepon yang tertera nama mamanya.
"Halo Mah," ucap Johan setelah panggilan terhubung.
"Kamu benar-benar kelewatan ya, Jo, jika bukan Mama yang menghubungimu, kamu tidak pernah berpikir untuk menghubungi mama lebih dulu!" ucap Renata mengeluh di seberang sana.
"Maafkan aku, Oma-nya Arsen. Aku belakangan ini sedang sangat sibuk," jawab Johan yang selalu bisa meluluhkan hati Mamanya saat mendengar kata 'Oma Arsen''
"Selalu saja itu alasanmu, sibuk dan sibuk. Untuk apa jika punya uang banyak tapi tidak bisa di nikmati, kamu selalu bekerja dan bekerja, cobalah untuk cuti dan pulang ke Jakarta, berkumpul dengan Mama dan Papa," ucap Renata membuat Johan terdiam kala mendengar kota Jakarta, kota yang menyimpan sejuta kenangan indah dan juga buruk dari masa lalunya.
"Aku tidak berniat kembali ke sana, Mah!" jawab Johan sesaat kemudian membuat Renata yang mendengar hanya bisa mengembuskan napas kasar.
"Johan, sudah lima tahun berlalu, sampai kapan kamu akan terkurung dalam masa lalu? Vani bahkan sudah akan punya dua anak, dan dia sudah sangat bahagia dengan kehidupannya, saatnya kamu melupakan dia dan memulai kehidupan barumu. Apa kamu tidak pernah berpikir untuk memberikan Arsen kasih sayang seorang ibu?" ucap Renata tak bosan-bosannya menasehati Johan.
__ADS_1
"Ma, aku masih sendiri bukan karena aku masih mengingat Vani, namun aku belum menemukan wanita yang tepat, lagi pula tidak akan ada wanita yang bisa memberikan kasih sayang yang tulus kepada anak tirinya. Aku tidak ingin Arsen mendapatkan kasih sayang yang tidak tulus seperti itu, aku dan Arsenio bahagia dengan kehidupan kami saat ini," ucap Johan.
"Bahagia seperti apa yang kamu katakan? mungkin kamu iya, tapi bagaimana dengan Arsen? Putramu tumbuh lebih dewasa dari usianya itu semua karena kamu? Karena dia tidak merasakan keindahan dan kenikmatan masa kecilnya," ucap Renata meluapkan kekesalannya pada Johan yang lagi-lagi terdiam mendengar ucapan mamanya yang ada benarnya.
"Cobalah buka hatimu untuk menerima wanita lain, berikan Arsen kebahagiaan yang utuh," ucap Renata lagi.
"Mah sudah dulu ya, Arsenio sudah keluar dari kelasnya," ucap Johan memutuskan sepihak panggilan.
Ia yang melihat Arsen keluar dari kelas bersamaan dengan wanita yang kembali mengingatkannya akan sosok istrinya itu, segera keluar dari mobil dan menghampiri mereka.
"Nah, itu Papanya Arsenio sudah tiba," ucap Amanda pada Arsen yang menatap tak suka dengan kehadiran Johan.
'Kenapa Papa tiba secepat ini, biasanya akan sedikit terlambat, harusnya aku bisa bermain di rumah bunda Manda hari ini,' batin Arsen kesal.
"Johan, tidak bisa. Bunda masih banyak pekerjaan lain, kamu hanya akan merepotkan Bunda," ucap Johan membuat tubuh Amanda menegang mendengar ucapan Johan.
Tidak ada yang salah dengan ucapan Johan karena Bunda memang panggilannya sebagai guru di sana, namun mendengar panggilan Bunda keluar dari bibir Johan, membuat Amanda jadi teringat dengan almarhum suaminya yang selalu mengatakan ingin mengunakan panggilan ayah bunda saat meraka telah mempunyai anak.
"Bunda, apa Arsen boleh berkunjung ke rumah Bunda hari ini?" tanya Arsen terdengar merengek pada Amanda.
Johan menatap tak percaya dengan apa yang telah ia lihat, bagaimana mungkin putranya yang selalu terlihat datar dan tidak bersahabat kepada siapapun kecuali orang terdekatnya itu justru bermanja dengan seorang wanita yang baru saka ia kenal.
__ADS_1
"Arsenio," ucap Johan penuh penekanan pada Arsen yang sama sekali tidak memperdulikannya dan hanya fokus menatap Amanda penuh harap.
"Sayang, Papa sudah menjemput Arsenio. Jadi kamu harus pulang, kan kasihan Papa sudah datang menjemput kamu," ucap Amanda begitu lembut pada Arsenio.
Hal yang sama terjadi pada Johan, hatinya bergetar mendengar kata Papa terucap dari bibir wanita yang ada di depannya saat ini, namun sesaat kemudian ia coba menepis perasaan aneh yang ada di dirinya, ia membuang perasaan tersebut dengan menekankan pada dirinya sendiri jika tidak ada yang salah dengan ucapan Amanda, karena dia memang Papa dari Arsen.
Sadar, Jo. Dia bukan Amelia, dia bukan istrimu. Batin Johan.
"Arsen, ayo pulang, maaf merepotkan Anda!" ucap Johan pada Arsenio bergantian menatap Manda sekilas.
"Bagaimana jika besok saja Arsenio berkunjung ke rumah Bunda?" tawar Amanda saat melihat wajah murung Arsen.
"Sungguh?" tanya Arsen mengangkat kepalanya menatap dengan begitu antusias pada Amanda yang tersenyum menatapnya, yang kembali membuat hati Johan bergetar melihat senyuman yang begitu manis itu.
"Tapi harus dengan izin Papanya Arsen," sambung Amanda yang seketika langsung mengalihkan tatapan Arsenio kepada Johan.
"Pah," ucapnya menyentuh tangan Johan.
"Baiklah," jawab Johan pasrah saat melihat tatapan putranya yang begitu berharap padanya.
"Yeah... terima kasih Bunda, Papa!" ucap pria kecil itu kembali membuat Amanda dan Johan menegang mendengarnya.
__ADS_1
"Ya sudah kalah begitu kita pulang, kami permisi" ucap Johan dengan cepat menarik tangan Arsenio untuk pergi dari sana.
"Sampai jumpa besok Bunda!" teriak Arsenio kencang melambaikan tangannya setelah berada di dalam mobil.