
Johan tersenyum melihat hasil pekerjaannya, Setelah seharian bekerja dibantu oleh beberapa ahlinya. Kamar yang ia dekor khusus untuk anaknya telah selesai disiapkan dengan sedemikian bagusnya.
Kamar untuk anak laki-lakinya yang tinggal menghitung hari akan hadir menemani hari-harinya.
Johan begitu bahagia melihat kamar tersebut, kamar yang ia buat khusus agar bisa terhubung langsung dengan kamar pribadinya.
Di pintu masuk kamar tersebut sudah ia bikin sebuah ukiran kayu bertuliskan nama calon anaknya yang sebentar lagi akan hadir.
Rasa bahagia membuat Johan semakin semangat menjalani hari-harinya. Memikirkan jika ia akan segera menjadi sosok ayah, mengubah kehidupan Johan menjadi lebih baik lagi dan selalu ingin menjadi lebih baik serta memberikan yang terbaik untuk putranya.
Sekarang yang kedua ingin ia lakukan adalah membicarakan masalah tentang kelanjutan hubungannya dengan Amelia, seperti yang sudah disarankan oleh ayahnya–Rizal.
Johan masuk kedalam kamarnya untuk mandi.
Setelah selesai Johan keluar dari kamarnya menuju ruang makan dimana pelayan sudah menyiapkan makan malam untuknya.
"Selamat malam Tuan," sapa art yang selalu ditugaskan khusus melayani kebutuhan Johan saat Johan sendiri.
"Malam Bi," jawab Johan.
"Temani aku makan ya, Bi!" pinta Johan, membuat art merasa terharu saat melihat atasannya sudah mulai kembali seperti sedia kala, dimana ia yang memperlakukan baik pelayannya.
"Tuan, saya ... "
__ADS_1
"Aku tidak mau makan sendiri, Bi!" sahut Johan cepat memotong kalimat art yang akan menolaknya.
Meski ragu, perlahan art itu mulai mendudukkan dirinya di kursi yang berada tak jauh dari Johan, namun tentunya terlebih dahulu ia mengisi piring atasannya tersebut.
"Bi, sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah, Bi!" seru Johan terlihat begitu bahagia saat mengatakannya, membuat art yang mendengar tentu juga bahagia melihatnya.
Tanpa Johan beritahu semua orang juga sudah tau jika sebentar lagi ia akan menjadi seorang ayah, mungkin karena Johan baru menerimanya akhir-akhir ini, makanya Johan terlihat jauh lebih antusias dibanding saat awal dimana ia mengetahui kehamilan Amelia, namun tidak disambut baik olehnya.
"Iya, Tuan. Selamat ya, bibi turut senang mendengarnya," jawab art tersenyum.
"Sebentar lagi rumah ini tidak akan sepi lagi, rumah ini akan diisi dengan suara canda tawa anakku, Bi. Aku sangat bahagia membayangkannya," ucap Johan lagi setelah menelan makannya.
"Bibi juga tidak sabar menantikannya, Tuan!"
"Bi. Kenapa menangis?" tanya Johan heran menatap art.
"Terima kasih Tuan, terima kasih atas kebaikan tuan mengizinkan calon tuan muda menyebut bibi dengan panggilan Nenek. Bibi sangat bahagia mendengarnya," ucap art yang juga tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya.
"Bibi juga salah satu orang terdekatku, tentu saja Bibi sudah aku anggap seperti keluargaku sendiri. Bibi mau kan membantuku menjaga dia, nanti? Sampai aku menemukan pengasuh yang cocok untuknya!"
"Bibi pasti akan menjaganya dengan sangat baik, tuan!" jawab art bernama maryam itu, menyeka air matanya.
"Ya sudah, kalau begitu lanjutkan makannya. Setelah itu aku harus kembali ke rumah Papa dan Mama!" seru Johan yang diangguki oleh Maryam.
__ADS_1
Setelah Johan menyelesaikan makan malamnya, ia bangkit berdiri diikuti oleh Maryam yang juga berdiri saat melihat atasannya akan pergi.
"Bi, aku langsung pulang ya?" pamit Johan.
"Tuan!" panggil Maryam menghentikan langkah Johan.
"Iya , Bi?" Johan memutar tubuhnya kembali menghadap Maryam.
"Apa bibi boleh bertanya?"
"Iya, Bi. Tanyakan saja?"
"Kapan Tuan akan benar-benar kembali tinggal disini?" tanya Maryam.
"Insya Allah secepatnya setelah anakku lahir Bi!" jawab Johan tersenyum.
"Apa?" tanya Maryam ragu.
"Aku baru akan membahasnya bersama Amelia!" ucap Johan menjawab sudah pertanyaan yang ada dibenak Maryam seolah dia mengerti apa yang ingin Maryam pertanyakan.
"Baiklah Tuan, semoga semuanya berjalan baik."
"Terima kasih, Bi. Aku pergi," ucap Johan kembali melanjutkan langkahnya keluar dari rumah.
__ADS_1