
Malam harinya. Juna mengajak Vani untuk makan malam diluar. Juna masih berdiri dengan bersandar di pintu menatap Vani yang tengah bersiap.
"Jangan terus menatapku, Mas!" tegur Vani, tanpa menatap Juna.
"Istriku sangat cantik, kecantikanmu selalu membuatku ingin menatapmu!" jawab Juna berjalan menghampiri Vani.
"Semakin hari kamu semakin pintar merayu, tapi maaf tidak ada jatah untuk saat ini!" ucap Vani cepat, saat Juna sudah berada dibelakangnya dan melingkarkan tangan di pinggangnya.
"Tidak sekarang, tapi nanti setelah pulang aku akan memintanya. Sekarang kita isi tenaga dulu!" seru Juna, yang selalu saja dapat menjawab ucapan Vani.
"Ya sudah, ayo! Aku sudah siap," ucap Vani melepas pelukan Juna, lalu menyambar tas jinjingnya sebelum keluar dari kamar.
Dua puluh menit kemudian, mobil yang dikemudikan Juna tiba disebuah Restoran. Juna turun lebih dulu, lalu memutari mobil dan membukakan pintu mobil untuk istrinya.
Sudah kebiasaan Juna jika pergi bersama Vani dalam jarak tempuh yang tidak terlalu jauh, dia tidak akan menggunakan jasa supir sebab ia ingin menikmati waktu hanya berdua bersama istrinya.
"Terimakasih, Mas!" ucap Vani menyambut uluran tangan Juna.
Keduanya masuk ke dalam restoran dengan tangan yang bergandengan menuju meja kosong yang ada disana. Pelayan datang menghampiri keduanya dan mencatat apa yang dipesan oleh Juna dan Vani.
"Sayang, bagaimana hari ini? Apa kamu senang setelah jalan bersama sahabatmu?" tanya Juna mencoba memancing Vani.
Juna sudah mendengar semua yang terjadi dari orang suruhannya, yang diam-diam ia minta untuk menjaga istrinya. Juna pasti akan menghukum Amelia, jika saja wanita itu berani menyentuh Vani, namun mendengar semua yang disampaikan bawahannya membuat Juna semakin bangga pada istrinya yang tidak mudah untuk ditindas.
"Iya, aku sangat senang!" jawab Vani tersenyum pada Juna.
"Apa semuanya lancar?" tanya Juna lagi.
__ADS_1
"Ya, semuanya lancar. Kenapa?" tanya Vani, yang mulai penasaran dengan pertanyaan Juna.
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin memastikan kenyamanan istriku, dimanapun itu!" jawab Juna menyudahi pembicaraan.
'Baguslah aku tidak menceritakan semuanya pada mas Juna. Entah apa yang akan dia lakukan jika aku menceritakan semuanya. Aku juga yakin jika ia tau, bisa-bisa dia tidak akan mengizinkanku untuk keluar lagi!' batin Vani.
Beberapa saat kemudian, pelayan datang dengan membawa pesanan mereka. Setelah menghidangkan dan mempersilahkan Juna dan Vani untuk menyantapnya, pelayan tersebut pamit undur diri.
Juna menyodorkan makanannya menggunakan sendok pada Vani, yang dengan senang hati membuka mulutnya.
"Bagaimana, enak bukan?" tanya Juna yang juga menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Ini sangat enak!" jawab Vani setelah menelan makannya.
"Restoran ini merupakan tempat makan favorit Mama dan Papa. Ditempat ini juga, papa melamar mama!" ucap Juna bercerita.
"Wah, papa benar-benar romantis!" puji Vani antusias.
"Mas. Cobain, ini juga enak!" ucap Vani, mengalihkan pembicaraan dengan menyodorkan makannya pada Juna yang mau tidak mau membuka mulutnya dan menghentikan ucapannya.
Keduanya tampak begitu mesra dengan semua hal yang mereka perlihatkan. Sejak kedatangan keduanya sudah mencuri perhatian, ditambah adegan yang mereka perlihatkan membuat keduanya juga semakin menjadi perhatian orang-orang yang menatap iri pada kemesraan mereka.
"Aku mencintaimu, istriku. Sangat mencintaimu!" ucap Juna menatap Vani dengan penuh cinta yang dimilikinya.
"Aku juga, mas!" jawab Vani pelan merasa malu jika ada yang mendengar.
"Bisa katakan sekali lagi?" pinta Juna berharap.
__ADS_1
"Apa?" jawab Vani berpura-pura tidak tau.
"Kalimat yang kamu katakan sebelumnya!"
"Apa?"
"Ya sudah, mungkin aku yang salah mendengarnya!" ucap Juna memelas.
Vani tersenyum menatap sikap Juna, lalu mengulangi kalimat yang sebelumnya ia katakan dengan lebih jelas.
"Aku mencintaimu, suamiku!"
Juna yang kembali mendengarkan kalimat yang itu tersenyum senang, dia lekas berdiri dengan wajah yang begitu bahagia. Membuat Vani menjadi bingung melihatnya berdiri menatap semua orang.
"Perhatian semuanya!" ucap Juna kembali menarik perhatian semua orang.
"Mas....," ucap Vani berbisik malu, tapi Juna mengabaikannya.
"Perkenalkan, wanita yang bersamaku ini adalah istriku! Aku ingin mengatakan didepan kalian semua yang ada disini agar kalian tau jika aku sangat bersyukur menjadi suaminya, dan aku sangat mencintainya," ucap Juna lantang, mendapatkan tepuk tangan dari orang-orang yang ada disana.
'Ya ampun Mas, kamu mulai lagi. Dasar alay,' ucap Vani dalam hati yang merasa malu dengan tingkah suaminya, namun ia juga merasa begitu bahagia.
"Makanlah sepuas kalian, aku yang akan membayar semuanya!" ucap Juna lagi, semakin manambah riuh suasana gembira disana.
"Sayang, terima kasih. Aku berjanji tidak akan pernah mengecewakanmu! Aku sangat mencintaimu, terima kasih sudah membalas cintaku!" ucap Juna, menggenggam kedua tangan Vani lalu mengecupnya.
"Aku juga berjanji akan menjadi istri yang baik untukmu, Mas! Terima kasih juga sudah hadir dalam hidupku!" jawab Vani memberikan senyum terbaiknya.
__ADS_1
Dari kejauhan ada seorang pria yang begitu terluka melihat semua kemesraan yang dipertontonkan oleh Vani dan Juna.
Pria itu terus menatap Vani tanpa dia ketahui jika Juna sudah menyadari kehadirannya. Karena itu juga Juna melakukan aksinya sebelumnya dengan mengatakan Vani istrinya. Juna berharap tidak akan ada lagi orang yang berkata hal-hal buruk tentang istrinya.