Suamiku Bucin Akut

Suamiku Bucin Akut
Liburan


__ADS_3

Waktu liburan tiba, atas permintaan dari Arsen. Johan dan Amanda beserta Neisha ikut ke Jakarta dan berlibur di sana. Meskipun Johan tak bisa berlama-lama di Jakarta karena pekerjaannya, namun ia akan memberikan waktu selama tiga hari untuk Arsen.


"Oma, Opa!" suara teriakan Arsen yang berlari menghampiri Renata dan Rizal yang sudah menyambut mereka di depan pintu. Bukan hanya Arsenio, si kecil Neisha juga turut ikut berlari menghampiri mereka dengan wajah cerianya.


"Hai cucu cantik Oma!" ujar Renata yang langsung menyambut Neisha dan menggendongnya membuat Neisha kegirangan.


"Mah, Pah." Johan menyalami tangan kedua orang tuanya, di ikuti oleh Amanda yang juga menyalami mereka yang tentu saja menyambut baik kedatangan mereka.


"Melihat kalian berdua, Mama merasa sangat senang saat anak dan menantu pulang bersama cucu-cucu Mama. Mama berharap akan mendapat cucu ketiga," ucap Renata membuat Johan dan Amanda salah tingkah mendengarnya.


"Apa kabarmu, sayang?" ucapnya lagi berpelukan sekilas dengan Amanda wanita yang sekarang menjadi menantu.


"Alhamdulillah baik, Mah. Kalian juga apa kabar?" tanya Amanda balik.


"Tentu saja baik seperti yang kalian lihat dan Alhamdulillah semakin baik setelah bertemu mereka," sahut Rizal tersenyum menjawab, sembari mengambil Neisha yang minta di sambut olehnya.


"Ya sudah, ayo masuk! Kenapa kita berdiri di luar seperti ini?" ajak Renat yang lebih dulu masuk bersama Arsenio.


Mereka yang sudah melangkah masuk ke dalam rumah, menyadari jika Johan tidak ikut masuk, dan itu membuat Renata langsung kembali keluar dan menghampiri putranya yang masih berdiri di depan pintu.


"Sampai kapan kamu akan dibayangi masa lalu seperti ini, Jo?" ucap Renata menyentuh pelan lengan putranya.

__ADS_1


"Ayoo masuk!" ajaknya.


"Mah," ucapnya pelan yang sangat jelas jika ada kesedihan dari nada bicaranya, dan itu sangat di mengerti oleh Renata.


"Kamu kuat, hadapi semuanya. Jangan menjadikan masa lalu sebagai penghambat untukmu, bukankah kamu sudah berjanji padanya dan semua orang untuk berubah menjadi lebih baik lagi? maka dari itu, hal sekecil ini kamu juga harus memulainya, beranikan dirimu untuk menghadapi apa yang ada. Jakarta bukan musuhmu, jangan jadikan hal-hal yang mengingatkanmu pada masa lalu sebagai hambatan untuk masa depan. Lihat mereka, mereka membutuhkanmu," ujar Renata membuat Johan menatap semuanya.


Johan melihat Arsenio dan Neisha, keduanya nampak bahagia. Johan juga menatap Amanda yang berhasil menjadi ibu untuk anaknya dan itu membuat Johan tanpa sadar tersenyum.


Mam yakin perasaan itu akan datang. Meski kalian sama-sama menutup hati, tapi mama percaya kalian akhirnya akan benar-benar bersama seperti pasangan bahagia lainnya. Batin Renata yang melihat hal itu.


Renata mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, sembari menggandeng tangan Johan dan duduk bergabung dengan mereka yang sudah berada di ruang keluarga.


"Manda. Neisha sepertinya mengantuk, kamu bisa menidurkannya di kamar atas, di samping kamar Arsenio, Mama sudah menyiapkannya untuk Neisha!" kata Renata pada Amanda saat melihat Neisha yang berulang kali menguap.


"Ayo, Mama tunjukan!" ajak Renat melangkah lebih dulu, di ikuti oleh Amanda di belakangnya.


Di bawah sana, Rizal yang melihat Johan hanya terdiam juga mengerti apa yang dirasakan oleh Johan. Tentunya tidak akan mudah apa yang ia jalani sekarang, berusaha melupakan seseorang yang di cintai, namun di hadirkan oleh sosok yang menjalani hari bersamanya, selalu ada didekatnya berwajah mirip dengan almarhum istrinya dan bersikap seperti Vani mantan kekasihnya.


"Papa, apa aku boleh berbicara dengan Dilan?" tanya Arsenio pada Johan.


"Tentu saja boleh," jawab lembut pada putranya.

__ADS_1


"Kalau begitu pinjam ponsel Papa?" pinta Arsen mengulurkan tangannya.


"Ar, pakai telpon rumah saja ya! Papa tidak ada pulsa," ucap Johan berbohong untuk menolak permintaan Arsenio, karena ia sadar tidak mungkin ia menghubungi nomer Vani sebab itu hanya akan membuat masalah jika sampai Juna salah paham pada mereka.


Mengerti arti dari penolakan Johan jelas Rizal merasa bangga saat merasa putranya sudah banyak berubah setahun belakangan ini.


Tak pernah lagi ia dengar dari orang suruhannya yang diam-diam ia tugaskan mengawasi Johan, jika Johan mendatangi klub malam atau pun bersikap buruk.


Namun, dari semua ita ada satu kesalahan yang Johan lakukan yang tidak diketahui oleh kedua orang tuanya yaitu tidak menjalankan tugasnya sebagai suami yang baik untuk Amanda. Meski awalnya mereka sudah jujur pada Rizal dan Renat, tetapi yang kedua orang tua itu pikir semua sudah berubah. Padahal tidak ada yang berubah dalam hubungan mereka yang masih saja berteman dalam pernikahan.


"Apa semua berjalan lancar? Bagaimana hubungan kalian?" tanya Rizal mengajak putranya bicara, setelah Arsenio pergi ke ruangan sebelah yang ada telepon rumah.


"Aku dan Manda baik Pah. Kami merasa cocok dan nyaman satu sama lain, dia wanita yang tidak banyak menuntut, kami bisa menjadi partner yang baik dalam menjaga anak," jawab Johan semakin membuat Rizal berpikir semua sudah berubah.


"Kapan kalian akan memberi Arsen dan Neisha adik? Papa yakin kehadiran adik untuk mereka akan semakin mempererat hubungan kalian," ucap Rizal lagi membuat Johan sontak menatapnya.


"Pa, kami–"


"Sudahlah, tidak perlu malu. Papa tahu semua sudah berubah. Papa senang melihat semua itu, papa harap kamu tidak akan melakukan kesalahan yang sama seperti dulu. Jalani pernikahanmu dengan baik, Jo. Neisha dan Arsen akan menjadi korbannya jika kalian tidak memperbaiki hubungan kalian," ucap Rizal memotong kalimat Johan membuat Johan kembali terdiam dibuatnya.


"Manda cantik. Dia istri dan ibu yang sempurna. Tuhan sangat sayang padamu dengan mempertemukan kamu dengan wanita sepertinya," ucap Rizal lagi.

__ADS_1


Ya, dia wanita yang baik. Aku menyesal sempat berpikir buruk tentangnya. Batin Johan setuju dengan ucapan Rizal.


__ADS_2