Suamiku Bucin Akut

Suamiku Bucin Akut
Ucapan yang Menyakitkan


__ADS_3

Meski terlihat tulus, namun Vani juga mengerti jika Juna berat untuk mengizinkannya. Setelah menikah dan hidup bersama, Vani sudah banyak mengetahui sifat dan sikap suaminya, ia juga sangat tau betapa posesif dan cemburuan nya Juna, jadi sudah bisa ia pastikan jika Juna saat ini sedang menahan itu semua. Melihat usaha Juna membuat rasa yang ada untuk suaminya semakin bertambah di hati Vani.


Juna yang mendengar pertanyaan istrinya dengan cepat menganggukkan kepala sembari tersenyum menatap Vani..


"Baiklah, aku ingin menjenguk Johan," jawab Vani terdengar perih untuk Juna.


"Aku mau menjenguknya asal suamiku yang menemani aku kesana!" sambung Vani kembali membawa Juna keluar dari kegundahan hatinya.


"Mas mau kan temani aku menjenguk Johan?" ucap Vani lagi bertanya pada suaminya.


Rasa bahagia tak dapat Juna bendung mendengar ucapan Vani. Ia merasa senang sebab istrinya mengerti dengan isi hatinya, senyum yang begitu cerah terbit di bibirnya menatap sang istri dengan penuh cinta yang ada.


"Seperti yang aku katakan sebelumnya, aku akan selalu di sampingmu! Aku juga akan menuruti apapun keinginanmu," jawab Juna mengecup pucuk kepala Vani.


*****

__ADS_1


Berbeda dengan Vani dan keluarganya yang bahagia menyambut kehamilan Vani.


Di ruangan lainnya, namun masih berada di rumah sakit yang sama. Tangis kesedihan masih menyelimuti semua yang ada didalamnya, kesedihan menatap sosok yang ada dihadapan mereka.


Renata masih saja menangis setiap menatap tubuh putranya yang terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang rumah sakit, dengan menggunakan ventilator sebagai penopang kehidupan saat ini.


Akibat cedera yang cukup serius di kepalanya membuat Johan tak sadarkan diri hingga saat ini, setelah satu minggu lamanya ia berada disana belum terlihat kemajuan akan kondisinya.


Bukan hanya kedua orang tuanya yang merasa begitu hancur melihat keadaan anak mereka, seorang wanita yang juga sudah berada disana berstatuskan sebagi istri sah Johan, juga tak dapat menahan kesedihannya menatap pria yang dicintainya, pria yang juga ayah dari anaknya.


Jika isi hati Amelia dapat di dengar oleh semua orang, Amelia jelas akan membuat semua orang terkejut dengan perubahannya yang begitu tiba-tiba. Kebencian yang ada di hatinya untuk Vani membuat semua itu seakan mustahil jika dia berubah begitu cepat bagaikan kilat. Namun itulah kenyataannya.


Flashback On


Amelia yang pulang ke rumah setelah gagal mempermalukan Vani merasa sangat kesal pada Vani, Amelia ingin mengeluarkan keluh kesahnya dengan mengaduh pada orang tua Johan. Namun keduanya tidak ada di rumah. Saat Amelia bertanya pada pelayan, pelayan berkata keduanya pergi keluar.

__ADS_1


Wanita yang menjadi istri tak di anggap itu memilih beristirahat di kamar. Setelah makan malam, saat Johan tak kunjung pulang atau pun menghubunginya, dia kembali mencoba menelepon Johan–suaminya.


"Halo, Jo. Kamu di mana?" tanya Amelia yang sudah hampir dua minggu tidak melihat keberadaan Johan, Amelia bahkan belum sempat memberitahu Johan perihal kehamilannya karena Johan selalu menghindar darinya.


"Ada apa?" tanya Johan terdengar serak dari nada bicaranya.


Amelia yang sadar tidak akan pernah ada kesempatan untuknya memberitahu Johan sebab Johan menghindarinya, memilih untuk langsung saja mengatakannya. "Aku hamil, Jo. Aku hamil dan ini sudah dua bulan, aku ingin kamu mendampingiku Jo. Aku dan anakmu membutuhkanmu," ucap Amelia bagi petir menyambar tubuh Johan.


"Aku benci kamu, Amel. Jika saja kamu tidak hadir dalam hidupku, maka aku tidak akan menderita seperti ini. Tolong kasihani aku, aku mohon... Aku tidak bisa hidup bersamamu. Aku mohon jangan menyiksaku dengan hubungan ini, karena selamanya aku hanya mencintai Vani." Panggilan di putus seketika setelah Johan mengatakannya itu.


Amelia merasa teriris hatinya mendengar ucapan Johan, Johan bahkan tak mengatakan apapun tentang kabar kehamilan darinya seakan itu semua tidaklah penting untuknya.


Jika sebelumnya ucapan Johan yang sering berkata kasar padanya sama sekali tidak menyakitinya, tapi kali ini ucapan Johan terasa begitu menyakitkan padanya. Entah karena apa, mungkinkah karena kehamilannya. Pikir Amelia.


"Kenapa rasanya sakit sekali? Maafkan Mama, nak. Apa pun akan mama lakukan agar kamu tidak merasakan apa yang pernah mama rasakan. Kamu akan mendapatkan hak mu sebagai anaknya, kamu akan merasakan kasih sayang papamu," ucap Amelia mengusap perutnya yang masih datar.

__ADS_1


Flashback off


__ADS_2