Suamiku Bucin Akut

Suamiku Bucin Akut
Meninggal Dunia


__ADS_3

Saat ini Manda dan Johan tengah diperjalanan menuju rumah Alan. Tadi pagi selepas sarapan, Johan dengan sangat hati-hati menjelaskan pada Manda jika Alan telah meninggal akibat kecelakaan. Manda begitu syok mendengarnya, wanita itu juga merasa bersalah atas apa yang telah terjadi pada Alan sebab kemarin sesuatu yang buruk dan besar telah terjadi antara mereka.


Dua kali dalam hidupnya mendapat kabar jika Alan meninggal, dua kali juga Manda merasa berduka, hanya perbedaannya berduka Manda kali ini tidak semenyakitkan seperti sebelumnya sebab Alan bukan lagi bagian paling penting dalam hidupnya. Jika saja tidak ada Johan disisi serta hatinya, mungkin hal yang sama seperti dulu akan kembali terjadi pada Amanda.


"Tenanglah, sayang. Semua ini bukan salahmu," ucap Johan kembali saat Manda masih saja terdiam dengan air mata yang sesekali menetes.


Jika sebelumnya Manda tidak dapat menerima kepergian Alan, kali ini hatinya sama sekali tidak menyangkal jika Alan telah meninggal, sebab yang memberitahunya adalah pria yang sudah sangat dia percaya dan tidak akan membohonginya.


"Aku tetap saja merasa bersalah, Jo. Bagaimana jika penolakan ku lah yang membuatnya kecelakaan?" ujar Manda bersandar dalam pelukan Johan.


"Kita sering mendengar ini tentang takdir Allah. Bahkan Vani pernah bilang padaku, mungkin juga padamu jika hidup dan mati seseorang sudah menjadi takdir. Tidak ada yang bisa menentangnya. Johan kembali padanya juga sudah merupakan janjinya untuk kembali pada sang pencipta semesta. Ikhlaskan dia, doakan dia agar dia tenang disana," jawab Johan dengan lembut menenangkan Manda.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, mereka tiba disana dikejutkan dengan perdebatan yang terjadi antara kedua orang tua Alan tepat di depan jenasah Alan.


"Cukup sudah. Tidak ada yang perlu ditutupi lagi saat semua sudah seperti ini, Ma. Dia Alan, dia anak kita yang sudah meninggal karena kesalahan kita. Berhenti melakukan kesalahan lagi, berhenti menambah dosa kita, Ma!" bentak ayah Alan pada istrinya.


"Tidak. Dia Aldo! Dia bukan Alan ku, dia Aldo putramu!" teriak ibu Alan yang tidak bisa menerima kenyataan jika yang meninggal adalah Alan putra sematawayangnya .


Perdebatan diantara keduanya membuat hampir semua orang menjadi bingung. Pasalnya Alan yang mereka sebut sudah lama meninggal yaitu beberapa tahun yang lalu dan yang mereka ketahui saat ini adalah Aldo, saudara Alan dari pernikahan pertama ayahnya kakak laki-laki Alan yang lumpuh total sejak remaja yang tidak pernah dianggap oleh ibu Alan.


"Dengar pak Ustad! Yang meninggal ini namanya Aldo, putraku memang sudah meninggal beberapa tahun lalu!" ucap ibu Alan dengan penuturannya yang dianggap berubah-ubah dan itu semakin membuat semua orang bingung.


Johan yang melihat itu dapat menyimpulkan jika kenyataan yang sebenarnya adalah ibu Alan tak siap menerima kenyataan jika Alan telah meninggal, tetapi juga tidak siap jika semua orang tahu kebohongannya yang telah merekayasa kematian Alan sebelumnya, sebab hampir semua orang yang hadir di sini saat ini mengira yang meninggal saat ini adalah Aldo, saudara Alan yang dipikir telah sembuh dari lumpuhnya.

__ADS_1


"Tolong jangan membuat semua orang bingung seperti ini. Apa yang sebenarnya terjadi? Katakan yang sebenarnya sebab semua itu juga agar mempermudah kita semua menyelesaikan proses pemakaman jenazah nanti." Mendengar ucapan pak Ustad, ayah Alan segera memerintahkan kerabat mereka untuk membawa istrinya masuk ke dalam kamar. Meski istrinya memberontak dan terus mengatakan hal yang berbeda-beda, tapi mereka berhasil membawa ibu Alan masuk ke dalam kamar.


Setelah istrinya pergi, ayah Alan mulai menceritakan semua yang terjadi tanpa adalah kebohongan. Dia juga meminta maaf pada semua orang atas kebohongan yang telah mereka ciptakan. Siap tidak siap, ayah Alan berusaha menerima cibiran orang-orang padanya sebab sadar semua sudah seharusnya terjadi mengingat kesalahan yang telah mereka perbuat.


Air mata Manda kembali mengalir keluar menyaksikan semua yang telah terjadi. Manda menghampiri jenazah Alan dan duduk di sampingnya. "Mas, maafkan aku jika semua ini terjadi karena ku. Aku juga sudah memaafkan semua kesalahanmu, pergilah dengan tenang, Mas. Aku akan selalu mendoakan mu," ucap Amanda yang mengatakan semua itu dalam hatinya.


Tatapan semua orang beralih pada Amanda. Mereka yang dulu ikut menghujat Amanda merasa iba dan bersalah pada wanita yang tak bersalah sama sekali itu. Salah satu tetangga Manda dulu yang hadir di sana menghampiri Manda dan memeluknya. "Maafkan kami, Manda," ucapnya yang merasa bersalah karena dulu turut mengusir dan berkata buruk tentang Manda atas hasutan orang tua Alan.


"Aku sudah memaafkan kalian semua. Tolong maafkan juga kesalahan mas Alan dan keluarganya. Biarkan mas Alan pergi dengan tenang. Tolong jangan ada yang membahas semua ini lagi, biarkan dia tenang," ucap Manda pada semua orang yang berada di sana yang ikut meneteskan air mata mendengar ucapan wanita yang pernah mereka sakiti itu.


Johan menyeka sudut matanya yang basah memperhatikan semua itu, tatapannya terus tertuju pada Manda, tatapan bangga dan penuh cinta pada wanitanya. "Aku sangat bangga memilikimu, Nda," ucapnya dalam hati. "Pergilah dengan tenang, Alan. Aku akan menjaganya dengan baik," sambung Johan dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2