
Sejak kelahiran putranya, Juna benar-benar merasa jika sang putra telah merebut perhatian istrinya.
Ia sering kali merasa kesal sendiri melihat bagaimana tingkah putranya yang selalu mengganggu disaat ia baru saja akan bermanja dengan istrinya.
Jika saja yang menganggu kesenangannya adalah orang lain, Juna pasti tidak akan menunggu lama untuk menjauhkan semua pengusiknya. Tapi disini yang menjadi pengganggu terbesar untuknya adalah putranya sendiri, separuh nafasnya dan separuh hidupnya. Mana mungkin ia menyingkirkan kehidupannya sendiri, jadilah sekarang, ia hanya bisa menuruti dan menahan kekesalannya.
Juna yang merasa cemburu dengan tingkah putranya, mengikuti saran dari Dika mencoba menggunakan jasa pengasuh. Ia berharap babysitter atau pengasuh dapat menjaga putranya dengan baik serta juga berharap jika kehadiran seorang pengasuh bisa memberikan waktu untuk ia bersama Vani. Namun, ternyata semua sia-sia. Jasa pengasuh hanya dapat membantu Vani dalam hal mengurusi kebutuhan bayinya, tidak dengan sang bayi sendiri. Baby Dilan seolah bersaing dengan sang ayah untuk mendapatkan perhatian Vani dan hal itu yang membuat Juna semakin uring-uringan dibuatnya.
Dua bulan sudah usia baby Dilan, namun hingga saat ini belum satu kali pun Juna dapat bermanja atau bermesraan pada istrinya. Tiap kali ia baru saja akan menikmati waktu berdua dengan Vani, Dilan seakan tau dan turut cemburu hingga Vani harus kembali meninggalkannya dan lebih memilih menghampiri Dilan.
"Bagaimana ini? Dia benar-benar merebut semua waktu istriku!" gumam Juna yang merasa kesal saat ia baru saja akan memeluk Vani, suara tangis Dila seketika menghancurkan kesenangannya yang baru saja akan dimulai.
"Mama, sepertinya mama bisa membantuku!" ucap Juna lagi dengan harapan baru yang muncul.
Dengan langkah lebarnya Juna menyusul Vani masuk kedalam kamar putra mereka yang berada tepat disebelah kamarnya.
"Sayang, dia sudah tidur?" tanya Juna begitu lembut seraya berbaring tepat disamping Vani yang tengah memberikan asupan terbaik untuk putra mereka diatas tempat tidur.
"Belum, lihat saja!" jawab Vani mengulum senyumnya.
Sebagai seorang istri yang sudah sangat mengenal suaminya, Vani jelas saja tau jika suaminya merasa cemburu dengan putra mereka, untuk itu Vani sudah merencanakan sesuatu untuk memberikan bonus atas kesabaran suaminya mengahadapi baby mereka, meskipun ia tau dalam hatinya Juna selalu merutuk.
"Sayang, kenapa dia merebut semua waktu dan perhatianmu? Bukan cuma dia yang membutuhkanmu, aku juga sangat membutuhkan perhatianmu, aku juga ingin dimanja olehmu!" ujar Juna lembut, dengan kepalanya yang sudah tenggelam diarea leher mulus Vani yang terpampang jelas akibat pakaian rumahan yang dikenakan Vani.
"Mas, biarkan aku menidurkan Dilan dulu!" tegur Vani pada suaminya yang mulai menggerayangi tubuhnya.
"Jika tidak seperti ini, aku tidak bisa dekat denganmu. Aku merindukan semua tentangmu dan semua yang ada pada dirimu!" manja Juna mengecup leher Vani meninggalkan jejaknya kecupannya disana.
"Lalu kamu ingin seperti ini di hadapan putra kita yang bahkan belum berusia tiga bulan? Kamu mau mencemari pengelihatan dan pendengarannya dengan aksi nakalmu?" tanya Vani masih dengan nada yang enak didengar.
__ADS_1
"Lalu aku harus apa?" ucap Juna terdengar frustasi sembari bangkit dan duduk bersandar di kepala ranjang.
"Aku tiduri dia dulu, setelah itu waktuku untukmu!" jawab Vani membawa angin segar untuk Juna yang mendengarnya.
"Janji?" ujar Juna menggebu.
"Aku janji!" Vani tersenyum menatap Juna sesaat, lalu kembali menatap putra mereka yang terlihat sudah mulai mengantuk.
"Sayang, kita tau jika Dilan dekat dengan Mama. Bag–"
"Kecilkan suaramu jika ingin dia tidur!" tegur Vani memotong ucapan Juna dengan nada berbisik.
"Baiklah," jawab Juna berhenti bicara.
Beberapa saat kemudian, mata Juna berbinar senang saat melihat putranya sudah terlelap. Melihat putranya terlelap seakan mendapat hadiah yang begitu besar hingga membuatnya begitu senang.
"Kita bertemu setiap hari, Mas!" jawab Vanu santai seolah tidak mengerti maksud ucapan Juna.
Juna tidak menunggu lama untuk membawa Vani segera keluar dari kamar Baby Dilan menuju kamar mereka.
"Mas, aku malu jika ada yang melihat!" tegur Vani menyembunyikan wajahnya di dada Juna.
"Jangan pedulikan mereka!" jawab Juna santai membuka pintu kamar mereka lalu mendorongnya pelan menggunakan kaki. Setelah berada didalam kamar, Juna merebahkan perlahan tubuh istrinya di atas tempat tidur.
"Kamu tunggu disini sebentar, jangan beranjak!" ucap Juna berlari keluar dari kamar.
"Arini!" pekiknya memanggil pengasuh Dilan.
"Iya Tuan!" jawab seorang wanita berlari kecil menghampiri Juna yang berdiri di atas tangga.
__ADS_1
"Jaga Dilan, jangan sampai ia menangis. Jaga dia dan jangan ganggu istriku, dia lelah!" titah Juna tegas, berlalu dari sana tanpa menunggu jawaban dari Arini yang melongo menatapnya.
"Pasti mereka akan membuat adik untuk Dilan," gumam Arini terkikik geli dengan pikirannya.
Juna yang sudah kembali masuk kedalam kamarnya dengan cepat mengunci pintu kamar mereka, lalu menghampiri Vani yang masih berada diatas ranjang menatap kepadanya.
"Mas. Bagaimana jika Dilan menangis?" tanya Vani.
"Biarkan Arini yang menjaganya, aku mau kali ini waktumu untukku, aku tidak ingin ada yang mengganggu lagi!" jawab Juna yang saat ini sudah berada diatas tubuh Vani dan mengukungnya.
"Tunggulah sebentar lagi sampai mama tiba disini!" ujar Vani menghentikan aksi Juna yang sudah mulai membuka pakaian yang dikenakannya.
"Mama akan kemari?" tanya Juna.
"Aku memintanya kemari untuk membantu menjaga Dilan!" jawab Vani memberikan senyuman terbaiknya pada Juna yang semakin senang mendengarnya.
"Kita memang berjodoh!" ucap Juna membuat Vani bingung.
"Tadinya aku baru saja berencana untuk meminta Mama menjaga Dilan, tapi ternyata kamu sudah lebih dulu memintanya. Itu artinya kita benar-benar berjodoh, kita sehati," terang Juna mengecup sekilas bibir Vani.
"Kalau begitu kita tunggu sampai Mam datang, Ya?" pinta Vani.
"Mama pasti mengerti, aku tidak bisa menundanya lagi. Apa kamu tidak bisa merasakannya?" ucap Juna bergerak menggesek-gesekan senjatanya yang sudah benar-benar menegang ke paha Vani, aksi Juna tersebut membuat semburat kemerahan memenuhi wajah cantik Vani.
"Baiklah, aku milikmu!" cicit Vani malu, dengan suaranya yang nyaris tak dapat didengar.
***
Semoga lolos, tadi di tolak.🥲
__ADS_1