Suamiku Bucin Akut

Suamiku Bucin Akut
Bercerita 2


__ADS_3

Amanda mengabaikan ucapan tetangga mertuanya. Wanita itu justru menggeleng-gelengkan kepalanya sambil terus bergumam, “Tidak ... Tidak mungkin terjadi sesuatu dengan Alan. Alan pasti baik-baik saja.”


Meski Amanda terus mencoba untuk berpikiran positif, ucapan tetangga mertuanya membuatnya tak bisa berhenti memikirkan kemungkinan terburuk yang sedang terjadi. Pikiran tentang hal buruk menimpa Alan tak bisa ia abaikan begitu saja. Terlebih lagi, dari kemarin Alan sama sekali tidak bisa ia hubungi.


Amanda segera bergegas menuju ke rumah orang tua Alan yang jaraknya cukup jauh. Pikirannya tak akan bisa tenang kalau dia belum bisa memastikan langsung kalau Alan baik-baik saja.


Jantung Amanda seolah berhenti berdetak saat dia melihat kediaman mertuanya ramai dikunjungi orang-orang mengenakan pakaian berwarna hitam. Ada bendera kuning yang berkibar di depan rumah tersebut. Suara tangisan ibu mertuanya bahkan terdengar bahkan dari luar rumah itu.


Kedatangan Amanda mengundang tatapan para tamu. Tak sedikit dari mereka juga yang berbisik-bisik dengan spekulasi-spekulasi yang mereka ciptakan sendiri tentang apa yang terjadi pada Amanda dan Alan.


Amanda yang tengah panik tak memedulikan ucapan mereka. Wanita itu bahkan langsung berlari masuk ke dalam rumah mertuanya. Di dalam, ia melihat orang tua Alan beserta kerabat dekat Alan tengah duduk di sofa ruang tamu. Ibu mertuanya bahkan tampak menangis sambil memeluk figura foto Alan.


“Ma... Apa yang terjadi? Di mana mas Alan?” tanya Amanda dengan bibir bergetar.


Mendengar suara Amanda, ibu mertua Amanda pun bangkit berdiri. Lalu berjalan cepat menghampiri Amanda.


“Apa yang kau lakukan di sini? Apakah tidak cukup kau memberikan duka di keluarga ini?!” bentak ibu mertuanya, mencaci maki Amanda yang sama sekali belum paham tentang apa yang sebenarnya terjadi.


“Ma, aku tidak mengerti. Aku bahkan datang ke sini karena aku ingin mencari mas Alan. Aku—”


“Teganya kau masih mencari Alan dan bersikap bodoh di saat kau sendiri bahkan tidak menghadiri pemakaman putraku!” cerca ibu mertua Amanda, memotong kalimat Amanda.


Kepala Amanda berputar-putar saat mendengar kalimat ibu mertuanya. Dunia wanita itu seakan runtuh detik itu juga. Ia menatap ke sekelilingnya, menatap tatapan orang-orang yang seolah mempertanyakan kehadirannya. Ia tak dapat lagi mendengar cacian ibu mertuanya karena tiba-tiba saja telinganya seolah berhenti berfungsi. Mata Amanda memburam sebelum semuanya gelap dan ia tidak dapat merasakan apa-apa lagi.

__ADS_1


Bruk!


Amanda jatuh pingsan detik di mana dia mendengar bahwa suaminya telah tiada. Wanita mana yang tidak syok saat mengetahui jika suami yang baru saja menikahinya meninggal bahkan sebelum mereka sempat melakukan bulan madu? Ditambah lagi, dia tak sempat melihat jasad suaminya untuk terakhir kali karena dia tidak tahu jika suaminya telah tiada.


*****


Lima belas menit kemudian, Amanda tersadar. Saat sadar, dia langsung bertanya kepada orang tua Alan mengenai apa yang terjadi. Dia butuh penjelasan karena dia sama sekali tidak menyangka jika dia akan kehilangan Alan secepat ini.


“Ma, apa yang sebenarnya terjadi dengan mas Alan? Bagaimana ... Bagaimana mungkin mas Alan bisa meninggal?” tanya Amanda sambil menangis sesenggukan. “Mas Alan terlihat baik-baik saja sebelum dia pergi bekerja. Dia tidak terlihat sakit sama sekali. Kenapa mas Alan bisa meninggal, Ma?”


“Kau sendiri di mana saja kemarin sampai-sampai kau tidak tahu kalau suamimu meninggal dunia karena kecelakaan?” tanya ibu mertuanya dengan sinis.


“Kecelakaan? Mas Alan mengalami kecelakaan, Ma?” Amanda balik bertanya.


“Untuk apa kau menangis? Jangan kira kami tidak tahu kalau ini semua hanyalah akting!” seru ayah Alan.


Amanda menoleh cepat. “Aku tidak sedang berakting. Aku juga berduka atas meninggalnya mas Alan sama seperti kalian,” balas Amanda untuk membela diri.


“Halah! Tidak usah banyak bicara. Kau sendiri saja tidak ada di rumah saat kami ingin mengabarimu tentang kematian Alan. Kau bahkan juga tidak mengangkat telepon dari kami,” bantah ibu mertuanya sambil menatap Amanda sinis. Wanita paruh baya itu sengaja berkata demikian supaya orang-orang berpikir jika Amanda bukan istri yang baik untuk Alan.


“Ma, tidak mungkin. Aku kemarin di rumah seharian. Aku juga selalu mengaktifkan ponselku. Tapi, aku tidak menerima telepon apa pun dari kalian,” elak Amanda.


“Mana ada pembohong yang mau mengaku? Dari awal aku tidak pernah merestui hubunganmu dengan Alan karena aku tahu kalau kau adalah wanita tidak berguna. Sekarang terbukti, bukan? Kau bahkan tidak menghadiri pemakaman Alan,” sindir ibu mertuanya.

__ADS_1


Amanda terdiam. Mau sekeras apa pun Amanda membantah, ibu mertuanya pasti akan selalu memutarbalikkan fakta. Amanda menatap ke sekelilingnya, orang-orang kini mulai memandangnya dengan tatapan sinis.


“Dasar wanita tidak tahu diri. Bisa-bisanya dia tidak tahu kalau suaminya meninggal,” cibir salah satu kerabat keluarga Alan.


“Lihatlah, tangisnya pasti hanyalah air mata buaya,” sindir seseorang yang lain.


Cibiran demi cibiran terdengar keluar dari bibir kerabat keluarga Alan. Tamu-tamu duka pun juga ikut memandang sinis ke arah Amanda, mengindikasikan kalau mereka lebih percaya dengan ucapan orang tua Alan daripada ucapan Amanda.


Bersikap seolah buta dan tuli, Amanda mengabaikan ucapan dan tatapan orang-orang yang tidak menyukainya. Wanita itu berdiri, lalu pergi dari kediaman orang tua Alan sebab dia sudah tidak tahan lagi diolok-olok di depan umum akibat sebuah fitnah keji dari mertuanya.


Sambil berderai air mata, Amanda berjalan menuju ke pemakaman terdekat dari rumah orang tua Alan. Kalau pun dia tidak memiliki kesempatan untuk melihat Alan terakhir kali, setidaknya dia ingin tahu di mana tubuh Alan disemayamkan.


Langkah Amanda terasa semakin berat seiring dengan ia hampir sampai di makam Alan. Wanita itu jatuh berlutut di samping makam yang dipenuhi kelopak-kelopak bunga itu. Tangis Amanda pecah tatkala ia membaca nama yang tertulis pada batu nisan makam tersebut.


“Mas Alan ....”


Isak tangis Amanda terdengar pilu. Wanita itu terus menggeleng-gelengkan kepalanya, masih tidak menyangka jika pria yang dia cintai dan berjanji akan selalu membuatnya bahagia kini sudah tiada.


“Kenapa kau pergi meninggalkanku secepat ini? Bukankah kau sendiri berjanji kalau kau akan menjagaku?” tanya Amanda.


Amanda tak percaya jika kepergian Alan untuk bekerja kemarin pagi adalah salam perpisahan mereka. Ia tidak menyangka jika Tuhan hanya memberikan waktu satu hari untuk mereka menjalani hidup sebagai sepasang suami istri.


Amanda mengusap batu nisan Alan, lalu menciuminya beberapa kali seolah nisan tersebut adalah Alan.

__ADS_1


“Aku sangat mencintaimu, Mas. Aku harap kau tenang di sana. Aku janji kalau aku akan baik-baik saja,” ucapnya. Meski ia tahu, hidupnya tidak akan pernah sama setelah ini.


__ADS_2