
Amanda tak bisa tidur memikirkan apa yang telah terjadi padanya malam ini, hanya karena sebuah kesalahpahaman ia di paksa menikah dengan pria yang sama sekali tidak ia cintai, bahkan pria tersebut adalah pria yang baru saja menghinanya, merendahkan harga dirinya.
Dia menyesali ucapannya yang sempat memuji Johan dalam hatinya sata pertama kali mereka bertemu, memuji Johan sebagai orang yang baik dan juga rupawan, namun ternyata ia salah, Johan adalah pria sombong berwajah rupawan, dan pria itu juga yang sudah membawanya ke dalam masalah besar.
Amanda kembali teringat kejadian beberapa jam yang lalu setelah warga pergi dari rumahnya, lima menit sebelum Johan pergi dari rumahnya, mereka sempat berdebat.
"Dua minggu lagi kita akan menikah, jadi bersiaplah. Aku akan mengatakan kepada kedua orang tuaku untuk mengurus semuanya," ucap Johan tiba-tiba setelah semua orang bubar.
"Tidak, kita tidak akan menikah, aku akan mengundurkan diri dari sekolah dan akan pindah dari sini, kita tidak perlu menikah. Karena aku akan menjauh dari semua masalah ini." Manda berbicara sembari menatap marah pada Johan yang masih dengan santainya duduk di atas sofa.
"Berhentilah bersandiwara, bukankah ini semua yang kamu inginkan? Lagi pula pernikahan ini tidak akan mungkin batal, mereka sudah menahan kartu tanda pengenal ku," ucap Johan yang kembali menghina Amanda berhasil memancing emosinya.
__ADS_1
"Berhentilah menuduh ku yang tidak-tidak, aku sama sekali tidak tertarik padamu. Siapa kau sampai begitu yakin aku sengaja mendekatimu?" ucap Amanda menantang, melipat kedua tangannya di dada menatap tajam pada Johan.
Johan tertawa mendengar ucapan Amanda yang ia pikir sebuah sandiwara murahan, tidak ada orang di kota Semarang yang tidak mengenalnya, terutama kaum wanita, apalagi wanita murahan seperti Manda. Pikirnya.
"Sandiwaramu patut di di beri penghargaan, tapi aku tidak akan tertipu dengan sandiwaramu," cibir Johan.
"Aku sama sekali tidak pernah berpikir untuk dekat denganmu apalagi menikah denganmu. Mereka semua salah paham, harusnya kamu membantuku menjelaskan, bukan justru menerima semua ini," balas Manda lantang menyalahkan Johan.
Amanda yang merasa amat kesal dengan ucapan Johan, segera melangkah menuju pintu rumahnya lalu menunjuk pintu keluar mengusir Johan untuk keluar dari rumahnya.
"Pergi!" Dengan begitu dingin Manda berkata.
__ADS_1
Johan bangkit dari duduknya, melangkah menghampiri Amanda yang berdiri di depan pintu, lalu tersenyum sinis.
"Dua Minggu lagi, aku akan mengajarkanmu banyak hal, termasuk sopan santun!" ucap Johan melewati Manda yang mengalihkan wajahnya enggan menatap Johan yang melangkah pergi dari sana.
Amanda menutup pintu dengan keras mendengus kesal dengan keputusan Johan yang seenaknya memutuskan tanpa persetujuan darinya.
"Tidak, aku tidak mau menikah dengan cara seperti ini. Maafkan aku, mas. Aku sama sekali tidak berharap semua ini terjadi." Manda mulai berbicara sendiri sembari menatap foto pernikahannya dengan almarhum suaminya.
Kesedihan kembali menyelimuti Amanda tak kala mengingat kenangan masa lalunya.
"Sayang, apa pun yang terjadi, sekali pun dunia menentangku aku akan selalu ada untukmu dan mencintaimu. Hanya satu yang aku minta darimu, tetaplah bersamaku apa pun yang terjadi, maka selebihnya adalah urusanku." Kalimat yang selalu suaminya ucapkan dulu menjadi ucapan yang selalu mampu menguatkan Amanda untuk memperjuangkan cinta mereka di saat ada banyak sekali orang yang menentang hubungan mereka.
__ADS_1
"Hanya kamu, Mas. Hanya kamu satu-satunya orang yang bisa aku andalkan yang sangat menyayangiku dan membuatku merasa aman beras di dunia ini. Namun sekarang semua telah hilang. Aku sangat merindukanmu, Mas," ucap Amanda menangis menatap foto suaminya.