
Amanda terdiam sejenak mengingat kembali apa yang tadi dilihatnya. "Aku tau itu dia, Van, aku sangat yakin dia suamiku," ucap Amanda menggebu menyeka air matanya yang kembali keluar.
"Anak-anak di mana?" tanyanya sesaat kemudian saat menyadari hanya ada dia dan Vani di dalam mobil yang sudah berada di depan rumah Vani.
"Mereka sudah turun dari tadi," jawab Vani tersenyum. "Lalu apa yang akan Mbak lakukan?" sambungnya bertanya.
Amanda kembali terdiam sejenak, memikirkan apa yang harus ia lakukan? Satu yang terbesit di benaknya, ia harus mendatangi rumah mertuanya, apapun itu yang terjadi, meskipun ia tau hanya akan ada penolakan yang ia dapatkan.
"Van, aku boleh menitip anak-anak padamu?" ucap Amanda bertanya.
"Tentu saja boleh, Mbak.
Mbak mau ke mana?" tanya Vani pada Amanda.
"Aku ingin memastikan semuanya, aku ingin pergi ke rumah mertuaku dan bertanya langsung pada mereka. Apa aku juga boleh meminjam mobilmu?" tanya Amanda lagi yang dijawab anggukan kepala oleh Vani meskipun ia sendiri merasa cemas jika Amanda pergi sendiri, mengingat jika keluarga mertua almarhum suaminya Amanda tidak menyukainya.
"Mbak yakin mau ke sana?" tanya Vani memastikan.
__ADS_1
"Aku tidak akan bisa tenang jika belum mendapatkan jawabannya, Van," ucap Amanda.
"Baiklah, kalau begitu hati-hati ya, Mbak. Aku hanya berharap dan hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk, Mbak," ujar Vani melepaskan sabuk pengamannya, lalu keluar dari bangku kemudi, bersamaan dengan Amanda yang juga keluar dari mobil, lalu berganti posisi dengan Vani duduk di balik kemudi.
"Terima kasih sebelumnya, Vani. Aku titip mereka, ya Van," ucap Amanda sebelum pergi yang di anggukkan oleh Vani.
"Sama-sama Mbak, pergilah! Mereka aman bersamaku," jawab Vani, sesaat kemudian Amanda melesat pergi setelah kembali mengucapkan terima kasih padanya.
"Aku berharap semua baik-baik saja, Mbak," gumam Vani sembari melangkah masuk ke dalam rumah.
Amanda merasa benar-benar gelisah di menit terakhir sebelum ia tiba di rumah mertuanya. Semakin dekat jarak untuknya tiba di sana, semakin cepat juga jantungnya berdebar. Perasaan takut, gelisah, gugup, dan semua rasa ia rasakan, apalagi saat mobil yang ia kemudikan sudah tiba di depan gerbang rumah mertuanya.
"Ya Tuhan, aku mohon, berikanlah aku petunjuk. Jika benar suamiku masih hidup, tolong mudahkanlah aku untuk bertemu denganya, tapi jika tidak, aku juga mohon padamu, berikanlah aku kemudahan untuk mengikhlaskan kepergian nya," ucap Amanda sebelum turun dari mobil dan melangkah mendekati pos penjaga di rumah mertuanya.
"Assalamualikum, Pak!" ucapnya pelan mengejutkan penjaga yang bertugas di sana saat melihatnya.
"Nona, Amanda," ucap penjaga bernama Didit menghampiri wanita yang pernah menjadi menantu dari majikanya. Tingkah Didit yang terlihat gelisah menatap kesana-kemari membuat perasaan Amanda semakin tidak tenang.
__ADS_1
"Pak, apa saya boleh masuk?" tanya Amanda pada Didit yang memucat mendengar permintaannya.
Di satu sisi ia merasa kasihan pada Amanda, di sisi lain ia masih sayang dengan pekerjaanya.
"Nona, maaf saya tidak bisa mengizinkan Anda masuk, atas perintah Nyonya dan Tuan. Nona kenapa kemari?" tanyanya lembut meski terdengar jelas ketakutan dari nada bicaranya serta tingkahnya.
"Aku ada perlu dengan mereka," ucap Amanda menjawab. "Tolong biarkan aku masuk, Pak!" sambungnya begitu berharap.
"Nona, Anda pasti tau, jika tuan dan nyonya tidak akan mengizinkan Nona masuk. Maafkan saya, Nona!" ucap penjaga merasa tak enak hati pada Amanda yang semakin terlihat bersedih mendengarnya.
"Pak, apa saya boleh bertanya?" ucapnya sesaat kemudian.
"Iya, Nona. Tanyakan saja, ada apa?" ucap Didit masih saja gugup menghadapi Amanda.
"Apa benar mas Alan sudah meninggal?" tanya Amanda meneteskan air matanya, membuat Didit yang mendengar dan melihat merasa begitu terenyuh hatinya. Kesedihan dari tatapan serta suara Amanda siapapun akan menyadarinya, Amanda wanita yang baik, dari luarnya saja orang-orang pasti meraskaan aura kebaikan darinya, tapi sayangnya semua tidak berlaku untuk keluarga mertuanya yang begitu membencinya.
'Ya Tuhan, kenapa wanita baik sepertinya harus menjadi menantu dari keluarga ini? Keluarga yang selalu mementingkan status dan kekuasaan?' batin Didit bersimpati pada Amanda.
__ADS_1
"Nona, semua orang juga tau jika tuan Alan sudah pergi beberapa tahun yang lalu, kenapa Anda masih bertanya?" ucap Penjaga tersebut tak mampu menatap Amanda.